Ah,

Ah,

(Juara II Olimpiade Ilmiah Mahasiswa-Cerpen FIB UI 2011)

Banyak orang menemaniku tidur, aku terbaring begitu nyaman pada kasur empuk ukuran 2 x 1 meter. Tebalnya sekitar dua puluh centimeter. Tubuh ini begitu damai, terasa terbang ketika sudah rebah di atasnya. Pun tulang leher yang telah bertahun-tahun terpasang, begitu menyatu dengan sensasi empuknya, seluruh letih menguap dan kantuk pun seketika menyergap. Ah, telingaku bising oleh suara-suara aneh di sekelilingku, mereka mengeluarkan suara-suara yang tidak kupahami. Aku tak peduli dengan mereka, aku hanya ingin terlelap di atas kasur empuk ini.

Akan tetapi, tidak semudah itu aku meninggalkan sadarku. Bukan karena suara-suara itu, melainkan sekelebat ingatan jahat yang tiba-tiba muncul di langit-langit mataku.

Pada waktu itu, masih tersirat ranum mudaku, keputusan untuk bekerja sambilan guna membantu keuangan rumah tangga mendapat dukungan dari sanak keluarga. Dodol[1] sarapan, itulah profesi baruku. Setiap pagi, sehabisku berbenah membereskan barang dagangan, aku berbelanja ke pasar membeli segala perlengkapan dodolan untuk esok harinya. Siangnya aku rebahkan tubuh, memberinya tenaga untuk mengusir peluh. Merambah sore, aku siap menjemput suami dengan senyuman, lalu aku kembali menilik belanjaan pagi tadi, mulai memisah-misahkan mana yang harus diolah hari ini, mana yang bisa disimpan sampai esok hari. Ditemani suami dan buah hati kuhabiskan waktu sore dengan mengajak mereka jalan-jalan keliling Kota Tegal tercinta. Ah, indah sekali gambaran masa-masa itu. Masa ketika masih tersirat ranum mudaku.

Sehabis maghrib biasanya si kecilku telah lelap, kemudian aku menghabiskan malam dengan siung-siung bawang, berbagai jenis cabai, melumatkan kemiri, membedakan butiran halus merica dan si ringan ketumbar untuk menu masakan yang tak sama. Setiap malam menjelang, ditemani suami tercinta, aku meramu bumbu-bumbu yang hendak ku masak esok dini hari.

Bertahun-tahun aku terus seperti itu. Sebelum ayam berkokok, aku sudah menyalakan kompor. Menumis bumbu dan siap menasikan beras sedandang penuh. Tak luput pula melumatkannya dengan tambahan sedikit santan untuk menjadikannya bubur. Ini adalah menu bubur terbaik di kotaku, haha betapa bangganya diriku ini.

Ingatan jahat menyusup

Di sela perjalanan keluar dari alam sadar, aku teringat ketika usia jualanku baru menginjak tanah, tujuh bulan, ada seorang bocah pindahan dari kota, pakaiannya mirip anak yang jadi model Majalah Anak Sehat, membeli seporsi bubur jangan kuning[2] di tempatku. Dia mengenakan seragam merah putih rapi dan baunya harum, mangkuk yang didekapnya pun bagus. Pasti itu mangkuk mahal.

“Beli bubur, Bu,” ucapnya manis.

“Oh iya Dek. Mau beli berapa ya?”

“Emang bolehnya berapa? Terserah ibu aja deh.”

Aku lalu melayaninya. Padanya aku tawarkan harga dua kali lipat dari harga sebenarnya. Anak kecil itu melemparkan senyumannya yang begitu manis, sama sekali tidak terlihat beban saat harus membayar lebih. Aku lega.

“Mba, aku ndisit oh…aku sing mau ya[3]!” protes ibu-ibu dari samping kiriku.

“Iya..iya, kwe melas bokan pan mangkat sekolah[4].” Jawabku beralasan.

Ibu yang satu itu terus mengomel tak jelas, ia menjabarkan semua-muanya tanpa ada kejelasan yang pasti yang bisa kutangkap. Dia menganggapku curang, pilih kasih, tidak adil. Ah, menyebalkan sekali, omongannya sangat menusuk.

Mungkin karena tuduhannya itu benar.

Aku tidak menajwab omelannya, lebih memilih sibuk melayani pembeli yang lain dulu. Sengaja kubiarkan dia menunggu. Biarkan saja, dia pikir dia ini siapa, berani marah-marah padaku di hadapan umum.

“Nyong ndi?”[5] Namanya Markonah, teman mainku dulu, dia menagih pesanannya tegas. Aku melirik sinis lalu cepat-cepat membungkus nasi ponggol untuknya. Selain nasi putih, di dalamnya terdapat sambal goreng tempe, mie (bihun) goreng, dan kerupuk. Aku menyiapkan pincukan untuknya dengan isi amat–sangat–sedikit–sekali sebagai pelajaran agar dia tidak mengomel padaku lagi esok-esok hari.

Bayangan wajah Markonah begitu jelas di depan mukaku, aku melihat dia memarah-marahiku karena porsi tidak wajar yang diberikan padanya. Aku ingin minta maaf padanya, tetapi wajahku begitu berat terangkat dan lidahku teramat kelu untuk bicara.

Orang-orang di sekitarku masih mengeluarkan suara-suara tak jelas.

Berprofesi sebagai penjual sarapan selama kurang lebih 33 tahun membuat kemampuanku semakin mantap, sudah tidak diragukan lagi. Oleh karena itu, aku begitu marah saat Markonah membuat warung sarapan juga. Menyebalkan! Memang, kala itu Markonah baru saja menjanda, tetapi tetap saja aku sebagai satu-satunya penjual sarapan di Randugunting Tegal merasa disaingi. Dia pernah bertanya padaku seputar tempat pembelian bahan-bahan yang murah meriah. Seperti kepada orang yang berlaku sama sebelumnya, kembali ku berikan alamat yang menipu.

Beberapa hari setelah itu, kudengar dia kecelakan. Ia tertabrak motor selepas pulang dari pasar. Kakinya retak. Dia tidak mau berjualan lagi.

Aku menangis mengingat dosa-dosaku.

Semenjak kecelakaan itu kakinya tak kunjung sembuh. Markonah meninggal sebulan yang lalu.

Setiap hari pelanggan pertamaku adalah Darkonah, penjual sarapan keliling. Dia kulak[6] daganganku untuk dijual di luar Randugunting. Biasanya setiap hari ia mengambil 20 pincuk[7] ponggol, 5 pincuk bubur, dan 10 bungkus lontong sayur.

“Kiye dong ora enteng pime, Yu[8]?”

“Ya mbu yah, urusane koen oh. Nyong ora gelem ngerti.[9]” Meskipun begitu, Darkonah tetap menjadi pelanggan pertamaku setiap hari. Menurutnya, banyak orang yang “cocok” dengan masakanku dan berani membayar lebih mahal dari ponggol lain. Darkonah adalah pekerja yang ulet, tahan banting, dan tahan goncangan. Sering kali tubuh ringkihnya yang harus menggendong kerombong ponggol semakin tertekan mendengar semua omelan-omelanku tentang kerjanya yang kuanggap lelet, tidak begitu gesit.

Aku ingat dulu dia pernah nitip minta dibelikan daun pisang di pasar. Dia perlu itu untuk anaknya yang kebetulan sedang ada ujian tata boga di sekolahnya. Aku ingat, bahkan pecahan uang itu sekarang bertaburan di pelupuk mataku. Aku mengatakan padanya bahwa daun pisang itu kubeli seharga dua ribu rupiah, padahal di pasar aku hanya membeli dengan harga delapan ratus perak saja.

Air mataku menetes, aku ingin mengembalikan seribu dua ratus itu, Nah.

Selanjutnya aku merasa aku sudah menghilang dari sadar, suara-suara ramai di sekelilingku menguap entah  ke mana. Sekarang aku tengah berada di sebuah padang tandus, gersang, dipenuhi rumput berduri. Aku sendiri, sangat sepi. Tiba-tiba aku merindukan orang tuaku yang entah sudah berapa lama meninggalkanku. Aku sangat rindu dengan sanak keluargaku padahal beberapa saat yang lalu aku tahu mereka sedang berkumpul di sekelilingku. Aku rindu dengan anak-cucuku, mereka yang begitu sabar saat menerima setiap omelanku. Lalu tiba-tiba aku merasa menjadi orang yang sama sekali tidak berguna, tidak ada sedikit pun manfaat yang dapat kuberikan kepada orang lain. Aku ini orang yang jumawa, suka semena-mena pada sesama.

Di depan tanah tandus tempat ku berdiri turun hujan lebat. Hanya di depanku, di atasku langit masih tetap mengkilat, panas, kering-sekeringnya. Sekeras apa pun aku mencoba, aku tetap tidak bisa merangkul tetes hujan itu. Aku sampai melihat kabut di sana, sungguh aku merasa di sana pasti dingin sekali. Tapi, entah apa yang mengahalangiku ke sana, bahkan untuk menyentuh tetesannya dengan ujung jari pun terasa begitu sulit.

Aku melihat seseorang menari-nari di kibasan hujan itu. Seseorang yang mukanya tak asing bagiku. Di sana terlihat bahagia memainkan air hujan. Ah, ya! Dia itu Sarkonah, teman main kecilku juga yang sempat pindah ke Jakarta.

Mengingat itu, aku lesu.

Sarkonah sudah meninggal lima tahun yang lalu. Semasa hidupnya dia pun pernah mencoba menjadi rivalku. Setelah lama menetap di Jakarta, dia kembali ke desa dengan tangan hampa. Akhirnya dia memutuskan untuk menjual nasi uduk di pagi hari. Sudah tentu aku begah melihat situasi ini. Saat itu bubur yang aku hidangkan tidak laku sama sekali  gara-gara semua orang lebih tertarik untuk membeli nasi uduk Sarkonah. Namun, itu tidak bertahan lama, bagaimanapun, budaya kota besar seperti Jakarta tidak dapat dsamakan dengann Kota Tegal. Orang-orang Tegal tidak terbiasa sarapan dengan nasi uduk, apalagi kalau di suruh membayar lebih. Zaman sekarang sepincuk ponggol di Tegal harganya seribu lima ratus rupiah, kalau di bandingkan dengan harga nasi uduk yang mencapai dua kali lipatnya jelas membuat warga pikir-pikir.

Sarkonah bangkrut. Ia lalu menemuiku untuk meminta pekerjaan. Katanya dia siap bantu-bantu jualan. Tak apa kalau tidak dibayar asalkan dikasih makan. Ini sekadar untuk mengisi waktu luangnya sembari menunggu pekerjaan baru.

Aku menolaknya dengan alasan khawatir dia akan mencuri resep-resepku dan mempraktikannya untuk berjualan sendiri dan menjadi rivalku yang sepadan.

“Astaghfirullah…aku ini kawanmu, kita berteman sejak kecil, masa iya kamu gak percaya?” katanya sambil mengurut dada.

“Lagian, aku ini mana tega berbuat seperti itu? Astaghfirullah Ya Allah Gusti…”

Seminggu setelah kejadian itu Sarkonah kembali ke Jakarta. Walau sudah kepala empat dia masih belum menikah. Sejak kepergiannya itu kabarnya tak pernah terdengar lagi. Mungkin dia sejahtera hidup di Jakarta, buktinya sekarang dia bisa menari-nari di tengah hujan itu.

“Sarkonah! Sarkonah! Guyurkan hujan itu ke arahku! Di sini panas sekali!” teriakku, tapi dia sama sekali tak menyahut.

Kemudian ingatanku melejit pada masa kanak-kanakku dulu, aku yang paling besar di antara Darkonah, Markonah, dan Sarkonah. Aku tiba-tiba sudah berada di lapangan voli tempat dulu kami berkumpul. Aku melihat aku kecil sedang menggoyang-goyangkan pantat di hadapan ketiga temanku itu. Mulut kecilku bernyanyi.

“Sarkonah, Darkonah, Markonah, Konah Mania, Yuk!”

Tidak lama setelah lagu itu berakhir, turunlah hujan tak wajar. Dari atas langit aku melihat sekerombong nasi menjatuhiku, disusul sepanci bubur, lalu langit menghujaniku dengan kuah jangan kuning yang berisi rebusan tempe dan mie. Ketiga temanku tadi melempariku dengan lontong dan alu-alu[10].

Dari langit masih terus berjatuhan pincukan-pincukan ponggol yang dibawa Darkonah.

Tubuhku terhuyung-huyung oleh benda-benda yang muncul dari langit itu. Aku terlempar ke lautan ketan, melumat lengket di dalamnya lalu disiram parutan kelapa. Entah oleh siapa.

Aku tersedak.

“Sarkonah, Darkonah, Markonah, Konah Mania…Ah!” giliran mereka yang bernyanyi, menirukan gayaku dulu.

Aku tersedak lagi.

Kali ini aku mendengar gemuruh suara-suara dari sekeliling. Barangkali aku sudah sadar lagi.

Aku kembali tersedak.

Selirih suara menggelikan telingaku.

“Laa ilaha ilallah. Nyebut Mbah, Allah…Allah…Laa ilaha ilallah…”

Pet! Gelap.


[1] jual

[2] Bubur dengan kuah kuning

[3] Mba, aku dulu dong, aku dari tadi ya

[4] Iya..iya, itu kasihan, barangkali mau berangkat sekolah

[5] Aku mana?

[6] Membeli barang dengan jumlah besar untuk dijual kembali

[7] bungkus

[8] Ini kalo gak habis gimana, Mba?

[9] Ya gak thu dong, itu urusanmu, aku ga mau tahu

[10] Bentuknya lebih kecil dari lontong dan berbahan dasar ketan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s