Ibu

Ibu,

Ini anakmu, yang tak pernah mau tidur sebelum dibelikan pukis sekantong untuk pegangan.

Aku ingin cerita Bu, cerita pada Ibu…

Aku ingin memberitahu ibu,

Sesuatu

Yang aku tahu ibu selalu ingin tahu

Itu Bu…itu

Ya, itu!

Ibu tahu kan?

Terima kasih, Bu…

Dari anakmu, yang tak pernah mau turun sebelum habis ranum

Itu Bu,

Mengapa aku kerap membangunkanmu di tengah malam, menangis tersedu-sedu hampir rutin. Kau takut Bu? Takut sesuatu terjadi padaku, kau takut omongan orang tua itu benar. Sedang diganggu makhluk malam. Lalu tengah malam kau membawaku ke luar Bu, barangkali di dalam panas, begitu katamu pada ayah. Tapi aku terus menangis tak henti, malah semakin keras. Kau takut Bu? Takut sesuatu terjadi padaku, takut kalau tiba-tiba tubuhku mengejang dan mataku melotot atau gigi gemeletuk. Kau terus menimang-nimangku, mengecup keningku yang banjir oleh keringat. Kau mengusapnya dengan kain jarik dari nenek, kau pun gelisah dengan berkali-kali meletakkan punggung tangan pada dahi, leher, dan ketiakku. Perutku pun kau usap-usap dengan minyak telon, kau sampai menggigit tutupnya karena terlalu panik, tak kuasa membukanya dengan kuku ibu jari. Kedua kakiku Bu, kau meremas-remasnya dengan telapakmu yang menghangat. Kau terus menimang-nimangku kan Bu…

“Aduh, nak kamu kenapa?”

Aku meronta-ronta ingin lepas dari gendonganmu, tapi kau terus mengerahkan seluruh tenagamu untuk menahan tendangan, cakaran, atau bahkan pukulan dariku. Aku tahu kau ingin tahu Bu, mengapa aku berbuat seperti itu. Iya kan Bu? Aku terus menangis sampai tetangga kita yang penjual bakso itu pulang, terlampau larut. Seperti biasa dia buru-buru memarkirkan gerobak bakso di rumahnya lalu kembali mendatangi suaraku. Dia lalu mengambilku dari gendonganmu, mengajakku bermain-main dengan bulan dan bintang di atas sana. Beberapa saat setelah itu aku terdiam kan Bu?

Aku tahu kau ingin tahu Bu, mengapa ku terdiam karena orang itu. Mengapa bukan dalam rengkuhanmu aku tertawa. Air matamu jatuh, berkali-kali kau ucapkan terima kasih pada orang itu.

Ketika aku kembali berada di pelukanmu, sesenggukkan dalam dadamu, aku mendengar suara sesak dadamu. Kau mengeluskan jemarimu pada rambutku yang mulai panjang.

Maafkan aku Bu, aku hanya ingin orang itu pergi.

Besoknya, aku terbangun seolah tak terjadi apa-apa. Bermain sepanjang hari, aku sibuk sekali, iya kan Bu? Kau sampai berkeliling membawa sepiring nasi untuk mencari di mana aku sembunyi, tapi aku tetap tak mau makan. Kau marah Bu? Mengapa kau pulang dengan sepiring nasi itu?

Maafkan aku, Bu. Aku hanya ingin kau terus di sini, menemaniku bermain.

Aku egois ya Bu? Aku tak pernah mau mendengar perkataanmu. Aku hobi sekali membantah laranganmu. Kau ingat Bu, waktu dua orang berjaket hitam hampir membawaku—katanya mau mengajakku menemuimu—aku takut sekali. Untungnya, aku tahu kau selalu ada di rumah menungguku minta sesuatu. Itu terjadi karena aku melanggar nasihatmu, kau sudah melarangku untuk jangan pergi: jalanan sepi. Kau marah ya Bu? Aku selalu membeli makanan yang kau bilang jangan. Tapi kenapa kau tak marah saat aku mendapat hukuman dari Tuhan atas bantahan yang kulakukan? Kau malah menangis, kau malah sedih. Mengapa kau tak marah Bu? Harusnya kau memuas-muasi aku yang tak mau menurut.

“Dirawat jalan saja, Dokter.” Katamu

Maafkan aku, Bu. Aku seringkali merepotkanmu, aku mengambil waktu soremu, membuatmu tak bisa menyambut ayah selepas pulang kerja. Kau malah mendandaniku secantik putri, membelikanku bando warna-warni yang sewarna dengan gaun kecil pilihanmu. Mengapa kau lakukan itu Bu? Bukankah aku ingin sangat merepotkanmu? Aku masih teringat kata Dokter itu, Bu, yang memanggilku putri Indy. Aku ingat Bu, selalu ingat walaupun aku tak pernah bilang.

Kau mengenggam tangan kecilku setiap jarum suntik itu melewati pori-pori kulitku. Jangan menatapku seperti itu Bu, aku tidak suka. Kau tak mengatakan sepatah kata pun, tapi aku tahu kau ingin tahu apa yang kurasakan.

“Sakit?”

Aku mengangguk pelan, tak ingin berkata lebih. Namun, sorotan matamu menginginkanku mengatakan lebih dan lebih. Aku tahu kau ingin tahu, kau ingin aku menjelaskan sedetail-detailnya tentang apa yang aku rasakan sampai kau pun turut merasakannya. Kau ingin sakitku hilang dan berpindah padamu setelah ku selesai mengatakannya. Begitu, Bu?

Setiap kali kau mengambil raportku, kau selalu berkata, “Kata Bu Guru kamu itu diam sekali,” dan aku sama sekali tak pernah menjawab pertanyaanmu. Saat kau bertanya “Gimana teman di sekolahmu?” aku pun diam saja. Entahlah Bu, aku pun sampai sekarang tak tahu, mengapa dulu aku begitu. Apa karena rasa sakit itu?

Maafkan aku ya Bu, aku hanya ingin kau terus menanyaiku.

Seperti kau, aku pun merasa begitu lega ketika pada akhirnya apa yang menjadi impian terbesarku tersampaikan. Seluruh beban rasanya runtuh. Kau lebih suka aku yang seperti itu ya Bu? Doamu mengaliri setiap langkahku, sampai aku pun berhasil melalui masa suntik itu dengan baik.

Itu Bu,

Aku ingat Bu, kau rela naik ke atas singgasanaku untuk memberikan secangkir teh manis demi melihatku yang terlalu lama tidur di tumpukan kertas. Padahal tubuhmu sulit untuk terangkat seperti itu, aku tak tahu diri ya Bu? Aku sedang memasang kuda-kuda Bu, sebelum turun. Aku tahu kau tahu itu Bu, meski aku tak mengatakannya. Sekarang aku mengerti Bu, aku sudah mengerti mengapa dulu semuanya begitu sulit untuk disampaikan.

Aku ingin bertanya Bu, kalau dulu kau menangkap lembaran cerita terpendam dari seutas senyumku, mengapa sekarang kau mendengar kesedihan dalam suaraku yang riang?

Kau selalu sangsi mendengar senyumku, kenapa sih Bu? Aku tidak menyimpan apa pun, sungguh. Aku baik-baik saja.

aku hanya ingin kau tahu, Bu

aku mematrikan “jarum” sinarmu di dalam “sepatu” kain yang menjadi kulitku,

Ibu,

Ini anakmu, yang tak mengerti makna dibalik ucapan ulang tahun.

Aku hanya ingin terus mengulang tahunmu sampai habis waktuku.

Selamat Ulang Tahun, Bu:)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s