Ketika Ayam Bicara

Ketika Ayam Bicara

(Juara II Ramadhan Writeen Festival 2007)

Seorang anak berumur sekitar 5 tahunan berjalan tertatih-tatih mendekati kandang ayam bercat putih di halaman rumahnya. Langkahnya setengah tanjap melangkah, ayunan tangannya membuat tubuhnya hampir terguling ke tanah. Akhirnya sampai juga pada tempat yang dituju. Genggaman nasi putih ditangannya ia sodorkan pada pintu kandang dan sepasang induk ayam beserta tiga ekor anaknya menampa suguhan yang diberikan anak kecil itu. Si anak terkikik lantaran paruh ayam-ayam yang memakan biji nasi dari tangannya membuatnya geli.

”Ayah, alangkah baiknya manusia-manusia itu, mereka mau merawat kita. Meskipun mereka sedang berpuasa tetapi mereka masih mau memberi kita makan,” kata Ruseyna, anak ayam berbulu putih lembut, sama seperti ibunya, Soceka.

”Ya, mereka memang makhluk yang mulia,” jawab Si ayah, Sang Ayam Jantan lurik yang arif lagi bijaksana. Namanya Furaya.

”Ayah…ayah…ayah kenapa sih manusia itu mesti puasa?”Aru, anak ayam berbulu lurik ini sangat mirip sekali dengan ayahnya.

”Manusia itu berpuasa untuk mencapai kemuliaan, untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya, untuk menjadi yang terbaik di mata Allah SWT,” papar Sang Ayah sembari mengepakkan sayapnya dan memeluk kedua anaknya itu.

”Kok Allah gitu sih, masa yang diberi jalan supaya jadi lebih baik Cuma manusia!” Meyres menggumam di balik sayap ibunya yang hangat. Dia memang agak pendiam, jarang ikut berbincang dengan saudara-saudaranya. Dia minder pada kedua kakaknya itu karena bulu yang dimilikinya. Bulunya tidak seperti ayahnya juga tidak seperti bulu ibunya, melainkan campuran dari keduanya. Untung saja kakak-kakaknya itu sangat bersahaja sehingga tidak terjadi kecemburuan sosial.

”Siapa bilang, lihatlah ibumu ini, jangan dikira ibu tidak berpuasa untuk mengerami kalian. Sewaktu kalian masih dalam telur selama 21 hari ibu tidak makan tidak minum saat mengerami kalian, er… maksudnya makannya cuma pagi dan sore, selama mengerami tidak hadiahnya ibu jadi lebih baik memiliki kalian.” Soceka menciumi satu demi satu kepala anaknya.

”Meyres, Ruseyna, Aru kemarilah! Ayo lekas kemari!” Furuya mengajak anak-anaknya untuk melihat seekor ulat yang sedang dibasmi manusia lantaran memakan tanaman-tanaman manusia itu.

”Kasihan sekali ulat itu dia dibuang begitu saja,” ujar Aru.

”Ulat kan menjijikan!” masih dalam dekapan ibunya Meyres berkata.

”Kalian tahu bagaimana ulat mencapai kemuliaan?” tanya Sang Ibu dengan kokokan khasnya.

”Memang bisa? Dia kan menjijikan?” kata Ruseyna.

”Sang ulat berjalan menuju ujung pohon dan bergantung di sana selama 10 hari hingga tubuhnya terbungkus dan jadilah ia menjadi seekor kupu-kupu yang cantik nan jelita. Makhluk mana yang tidak suka dengan kupu-kupu? Mulia bukan?”

”Wah benar!” seru mereka bertiga kompak. Seketika Meyres bergabung dengan kedua saudaranya dan berkokok riang.

Senja. Mentari menyusup perlahan dari lembayung langit melalui ufuk barat nyanyian senja. Malu menyambut adzan Magrib yang akan datang setelah mantap mendengar lantunan nyanyian Ashar. Sinarnya meredup, langitpun menggelap. Antara siang dan petang. Indahnya lembayung senja.

”Ayo ayam-ayamku makan yang banyak ya,” anak kecil itu kembali memberi makan ayam-ayamnya, kali ini bukan dengan segenggam nasi putih melainkan makanan khusus untuk ayam alias dedek.Ayam-ayam itu sangat bergembira dan makan dengan lahapnya.

”Terima kasih manusia,” anak kecil itu tertawa riang mendengar kokokan ayam-ayamnya yang sangat kompak.

”Kukuruyuuuuuuuuuuuuk…petok.

..petok!”

Si anak tertawa.”Ayo cepat makan yang banyak biar gemuk, terutama kau ayam jago makanlah yang banyak jadi kalau lebaran nanti kamu gemuk terus kita makan deh! Selamat makan, daaaaaaaagh…..!”

Seketika keluarga ayam berhenti makan dan saling pandang.

Perlahan tetes demi tetes air menetas.

Pelukkan hangat saling mereka ciptakan.

Dan, entah mengapa mereka merasa kehilangan separuh nyawanya.

”Ayah mau dipotong?” Rengek Aru.

“Kenapa?” Ruseyna menimpali.

“Oh, suamiku….” Airmata ibu merebak.

“Sayangku…..” Furuya mendekap istri dan anak-anaknya dengan sayapnya yang lebar.

”…..adalah suatu kebahagiaan bagi kita yang diberi kesempatan untuk turut menyempurnakan kebahagiaan manusia di hari kemenangan mereka.” Furaya pun tak kuasa membendung airmatanya.

Dan tak ada satupun yang mengerti apa yang sedang mereka rasakan sebuah dekapan, alunan airmata, penyatuan batin dan aliran kasih sayang tersemburat di antara mata-mata mereka.

”Ayo jago waktunya kau ku potong.” Dengan wajah iba anak kecil itu melepaskan kaki ayam-ayamnya yang menyangkut pada kaki ayam jago yang yang akan dia makan.

”Ayah…..” kokokan mereka hampir tak terdengar, terganjal oleh gumpalan airmata.

”Kita memang diciptakan untuk membahagiakan manusia. Selamat tinggal,” Sang Ayah pergi dan alunan airmata kembali terdengar sendu di antara wajah-wajah mereka.

”Selamat jalan Ayah.”

”Kukuruyuuuuuuuuuuuuk…” kokokan sedih mengiringi kepergian Sang Ayah.

”Allahuakbar…Allahuakbar…Allahuakbar. laailahailallahu Allahuakbar.Allahuakbar Walillahilham.”

Gema takbir menyeruak di antara masjid yang satu dan masjid yang lain. Kini, Soceka harus berjuang sendiri merawat Meyres, Ruseyna, dan Aru. Beruntung setelah kepergian Furaya mereka menjadi sangat rukun. Meyres sudah tidak minder lagi. Mereka pun sudah dapat menjaga diri mereka sendiri.

”Hai ayam-ayamku apa kabar? Selamat Lebaran. Aku minta maaf ya kalau aku punya salah. Aku, mama, sama papa juga minta maaf sudah memakan ayah kalian. Maafin kami ya. Sekali lagi Selamat Lebaran!”

Anak kecil itu datang lagi. Soceka  beserta ketiga anaknya menatap tajam. Dari mata hitam lelaki kecil itu muncul sosok Furaya yang tersenyum bahagia.Akhirnya mereka berempat berkokok riang.

”Kukuruyuuuuuuuuuuuuk…!!! Bak! Bak! Bak!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s