Mas Dida

Di sebuah sekolah dasar, kutaksir itu pertama kalinya aku menginjakkan kaki di sebuah sekolah. Namanya Sekolah Dasar Negeri Panggung 2. Jemari kecilku menggamit tangan ibu, menyusuri kerumunan orang yang ramai mencari tempat duduk. Dekorasi panggung di depan ruangan itu menyita perhatianku. Kata ibu, kau selalu dapat rengking satu. Namamu selalu diteriaki banyak siswa untuk maju ke atas panggung, menerima jabatan tangan kepala sekolah. Ternyata benar, hari itu akhirnya aku benar-benar melihatmu berdiri di atas panggung. Namamu dipanggil keras di microfon. Kau tahu? Wajah ibu saat itu terlihat gembira sekali, aku juga ikut bangga saat orang-orang di sekitar berkata pada ibu, “Kiye adine Indra? Pirang tahun, Mbak?”
Dan di hari itu juga aku berani bermimpi, mimpi seorang gadis kecil yang teramat sederhana. “Dong wis sekolah, nyong juga pan dadi bocah pinter ah. Eben didundang maju mengarep panggung kaya Mas Dida.” Kau masih ingat kan, dulu aku memanggilmu Mas Dida, tentu karena lidah pendekku sukar melafalkan huruf R.
Ketika aku masuk sekolah dasar di SD N Kejambon 6—sebenarnya aku ingin masuk sekolah yang sama denganmu tahu!—aku tak sepertimu yang bersinar sedari awal. Di kelas satu aku ketinggalan jauh dengan anak-anak lulusan Taman Kanak-kanak. Namun, aku tidak menyerah, aku tetap ingin sepertimu, aku ingin namaku dipanggil dengan keras untuk menjabat tangan kepala sekolah di atas panggung. Akhirnya aku berhasil mendapat rengking pertama setelah aku naik ke kelas tiga, tapi namaku tak disebut di panggung, hanya di lapangan saat upacara bendera. Aku terus mempertahankan prestasiku alih-alih berharap sekolahku mengadakan acara perpisahan yang besar dengan memanggil juara-juara kelas dipuncak acara. Memanggil namaku ke atas panggung. Seperti yang dilakukan sekolahmu setiap tahun.
Mimpiku terwujud di kelas enam, namaku dipanggil ke atas panggung! Sama sepertimu! Sayang yah, kamu tak melihatku saat itu.

Di pentas tujuhbelasan RT 06 RW II Kelurahan Slerok, Kota Tegal. Aku melihatmu kembali bersinar di atas panggung. Kau memainkan seorang lakon di acara itu. Aku ingat, kau menjadi tukang becak, kan waktu itu? Hahay, kau lihai sekali, Mas! Ibu saja yang hanya mendengar dari ceritaku sebegitu terbahaknya, apalagi aku yang melihat secara langsung? Aku sampai terpingkal-pingkal melihat aktingmu mengelap keringat dengan handuk. Kau kembali membuatku bermimpi. Kau kembali membuatku ingin sepertimu. Aku juga ingin bermain peran sepertimu di atas panggung.
Di perayaan tujuhbelas Agustus tahun-tahun berikutnya aku tampil di atas panggung. Namun, aku cuma sekadar menari India atau Duri-duri Dam, padahal aku ingin bermain teater sepertimu. Waktu itu aku masih terlalu kecil. Aku tak bisa mewujudkan mimpiku bermain peran di atas panggung tujuhbelasan karena setelah pergantian RT acara seperti itu sudah tidak diadakan lagi. Tapi, di bangku SMA aku berhasil mewujudkannya. Bahkan, aku berhasil menyabet juara II di Parade Teater Pelajar Kota Tegal bersama timku di Gedung Kesenian Tegal. Aku pun berkesempatan ikut serta di Drama Kolosal Berandal Mas Cilik yang khusus digelar untuk merayakan HUT Kota Tegal ke-424. Saat pentas drama itu—walaupun hanya jadi orang menumbuk padi—aku ditonton ratusan warga Tegal lho…kau tak ikut nonton ya? Aku juga sampai ke Solo untuk ikut lomba teater tingkat Jawa Tengah. Kau tahu, semua itu berawal darimu. Berawal darimu yang mungkin tak pernah kau sadari bahwa kamulah yang selama ini melejitkan semangatku untuk terus lebih dan lebih.
Di jalan, saat aku sedang bersama ibu, kami tak sengaja bertemu guru SMP-mu. Kemudian mereka bercakap-cakap lama, membicarakanmu. Ah, lagi-lagi kau selalu hebat di mataku. Kau selalu dikenal guru karena kepintaranmu. Kau masuk di SMP N 1 Tegal, SMP terbaik di Tegal dan aku pun ingin sepertimu. Aku berhasil. Lagi-lagi, semua berawal darimu.
“Pokoke dong koen pengin sekolah STM ya sing negeri. Dong ora negeri sukah ora usah sekolah. Mamane ora sanggup mbiayai.”
Perkataan ibu itu sampai sekarang masih kuingat. Waktu itu aku masih terlalu kecil untuk mengerti, tapi bukan berarti aku tak mengerti sama sekali. Aku sering melihat kau belajar di dalam kamar, hingga akhirnya kau berhasil memasuki satu-satunya STM Negeri di Kota Tegal saat itu. Setelah kubesar, aku baru paham bahwa untuk SMKN 1 Adiwerna itu amat sangat susah. Apalagi kau memilih teknik elektro. Dan yang benar-benar kukagumi darimu adalah: kamu bersepeda sejauh puluhan kilometer untuk dapat sampai ke sekolahmu yang baru itu! Itu jauh sekali, Mas. Kau hebat sekali. Melihat semangatmu, semangatku pun kembali melecit. Kau tahu? Aku yang tak kenal berhenti untuk menggapai UI ini tak lain dan tak bukan karena kecipratan oleh semangat belajarmu saat itu! Jadi, aku bisa bertahan berjuang sampai akhirnya berhasil berenang ke kampus pejuang, itu semua berawal darimu! Itu semua karenamu, Mas!

Mas Didaku, Selamat Ulang Tahun 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s