Nasihat dari Tangga Nada

Pagi ini, 10 Oktober 2011, yang pertama kali saya lakukan ketika bangun tidur adalah berdesah, membuang napas kuat-kuat untuk menghilangkan sebal di hati (KBBI, hehe). Teman sekamar saya sudah mengaji, itu artinya subuh mulai bingar. Tepat, pukul lima kurang dikit waktu ponsel saya, padahal saya niat bangun malam untuk menyelesaikan semua tugas non kuliah (PKM, LPJ-LPJ, dan Kompetisi). Sehabis subuh itu jatahnya tugas-tugas kuliah berpacaran dengan waktu saya, tapi yasudahlah, toh hari ini saya baru mulai kuliah jam sebelas.

Hal yang paling saya benci adalah ketika saya bangun terlambat dari waktu yang diniatkan. Ini akan berimbas pada rutinitas saya seharian berikutnya. Meski kuliah masih jam sebelas dan beban tugas hanya sekadar menyalin, saya masih harus membuat dua LPJ dan segera merampungkan proposal PKM yang deadlinenya semakin dekat. Tetap saja, hal itu tidak membuat saya cepat bergegas, saya malah buka Facebook. Dan kembali berdesah menyaksikan kenyataan kalau saya terpilih menjadi kandidat ketua Sintesa (Satu Ikatan Mahasiswa Tegal Bersaudara). Ya Allah, setelah semua ini, percayakah Engkau?

Saya beralih menilik pesan dalam ponsel, dari seorang teman, berpesan terkait LPJ yang harus segera dituntaskan. Juga dari senior yang memberitahukan rapat kepanitiaan. Teman sekamar saya yang juga anak SINTESA juga sedang semangat-semangatnya menyelesaikan LPJ. Lalu tiba-tiba saya teringat PR saya sebagai PJ Dekorasi yang harus segera mematangkan konsep. Huft! Hapalan plus kepanikan anak-anak kamar belakang yang mau menghadapi serangan huruf-huruf Jepang menambah malaise saya. Belum lagi teman depan kamar yang sedang muram karena cinta.

Saya memilih mengerjakan tugas-tugas di ruang tengah. Tak biasa-biasanya saya menyetel lagu dari netbuk, mungkin karena hari ini saya merasakan suasana yang berbeda. Saya bukan tipe orang yang suka mendengarkan musik sambil mengerjakan tugas, lagu-lagu yang ada di netbuk juga salinan koleksi lagu teman sekamar dan dari hape adik saya. Ada sih beberapa yang sengaja saya unduh karena saya suka liriknya. Mengalirlah tangga lagu secara random, kadang nasyid, lalu lagu korea, tiba-tiba lagu galau. Ah, entahlah, toh sebenarnya saya tidak begitu mendengarkan.

Sejenak saya memberi jeda atas rutinisas ini. Lagi-lagi saya hanya bisa berdesah pasrah, saya ingin pulang ke Tegal.

Dalam selimut kebosanan itu lagu “Aku adalah Aku”nya Zigas berdering nyaring. Ini adalah lagu persembahan dari teman untuk saya. Katanya lagu ini menggambarkan pribadi saya. Saya terkesiap mendengar intronya lalu segera memantapkan telinga untuk mendengarkan.

aku tak pernah minta dilahirkan tuk isi sebuah kekosongan peran

ku kini di sini tlah kuikrarkan

kuharus jadi sesuatu lebih dari sesuatu

tak akan kuikuti jejak kaki yang bukan miliki sendiri

meski kadang rumput tak juga tampak meski lembah jurang bertebaran

aku harus bertahan

 

apa makna hidup di bumi

tak bisa dijawab harus dijalani

aku adalah diri sendiri

bukan kamu bukan dia bukan mereka

aku adalah aku

Tuhan pun pasti tahu yang terbaik

tapi ku juga harus berusaha

keringat juga jadi bagian dari doa

kuharus jadi sesuatu lebih dari sesuatu

Lagu berakhir, semangatku sudikit naik. Tuhan pun tahu yang terbaik, tapi keringat juga bagian dari doa.

Lagu berikutnya yang terdengar adalah Dealova-nya Once. Entah mengapa saya selalu menganggap lagu ini ditujukan untuk Allah.

…Tanpa-Mu sepinya waktu merantai hati, oo bayang-Mu seakan-akan

Kau seperti nyanyian dalam dalam hatiku yang memanggil rinduku pada-Mu

Kau seperti udara yang kuhela Kau selalu ada

Hanya diri-Mu yang bisa membuatku tenang.

Tanpa diri-Mu aku aku merasa hilang dan sepi,

Perlahan kedamaian menyusup di dalam hati, saya jadi ingin salat dhuha sebelum saya ingat saya kan sedang tidak salat. Hihihi

Maka semangatlah saya menyalin huruf-huruf arab berbahasa Melayu yang sering menggunakan kata ‘maka’ untuk mengawali kalimat..hoho, apa deh?

Lagu-lagu yang berputar selanjutnya kembali mengalir tanpa disimak. Dalam jeda lagi saya terpaksa mendengarkan lirik-lirik lagu yang berasal dari salinan hape adik saya. Lagu yang sedang berputar sekarang adalah lagu Hal Terbesar-nya Armada, galau!

Namun, tiba-tiba bayangan ayah saya muncul dan saya menangis membayangkan ayah saya mengatakan apa yang dikatakan armada itu. Saya melihat ayah di atas becaknya menyanyikan lirik syahdu itu untuk saya. Saya ingin pulang, saya ingin membantu ayah di rumah

…Mencintaimu adalah hal terbesar di hidupku

Jadi  jangan kecewakan aku

Dan memilikimu harta terbesar di dalam hidupku….

Saya menangis,

Semakin deraslah air mata saya, teringat semua segala beban yang tersimpan. Menyeruak segala ketakutan yang rapat, timbullah berbagai amanah, kewajiban, dan janji yang harus dijalani dengan ikhlas.

Tentang kepercayaan ayah, ibu, kakak, dan adik saya. Tentang nasihat nenek, budhe, dan bue yang harus saya jalani dengan istiqomah. Lalu tentang “titipan” sanak keluarga yang harus saya kembalikan. Terlalu banyak hal yang ingin saya lalukan untuk mereka. Terlalu banyak hal yang mereka percayakan kepada saya, sementara saya di sini terjerembab dalam keragu-raguan.

Kalau saya mendapat kesempatan meminta satu hal, saya ingin UI di Tegal saja. Agar saya tak perlu meninggalkan dan bisa terus menjaga keluarga saya setiap waktu.

Tentang diri saya yang kembali mempertanyakan motto saya,

“Saya ada karena Allah mempercayai saya.”

Tentang saya yang selalu menangis sebelum akhirnya dapat benar-benar memahami, bahwa Allah tidak pernah salah. Ketika Allah percaya berarti saya SEBENARNYA bisa.

Tapi untuk semua ini Ya Allah, sungguhkah Engkau percaya?

Setelah lagu itu ada lagu insha Allah. Subhanallah, bayangan ibu saya langsung muncul dan menyanyikan lagu itu untuk saya.

Insha Allah ada jalan…

Sayup-sayup saya mendengar suara ibu, entah dari mana

“Apa yang tidak kita ketahui itu lebih banyak dari yang tidak kita ketahui. Tidak usah mikir macam-macam. Sudah, jalani saja. Yang penting berdoa.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s