Nasihat dari Bungkus Permen

Depok, 11 Oktober 2011

Tidak seperti kemarin, pagi ini saya semangat karena barusan dapat telpon dari ibu. Jam segini, 06.30 WIB pun saya sudah sedikit mencicil cucian yang menumpuk. Tinggal menyelesaikan bacaan Ramayana untuk persiapan kuliah Sastra Wayang sore nanti. Hm…jadi bisa nulis deh! 😀

Beberapa detik sebelum ibu nelpon tiba-tiba saya teringat dengan puisi (gambar) SINTESA yang pernah saya buat. Tidak lama, yang saya ingat pun muncul, kemudian pikiran saya dipenuhi oleh sosok sindikat itu. Semalam rival saya sudah berkampanye sementara saya masih belum bisa menerima. Karena sebenarnya di semester tiga ini saya tidak ingin ikut kepanitiaan, termasuk di SINTESA, saya ingin sebatas jadi penggembira saja. Tapi kalau situasinya seperti ini—dengan saya sebagai calon ketua—mana bisa saya menjalankan rencana saya. Saya memang tak pernah terpikir untuk jadi ketua—kan saya perempuan, saya rasa mereka akan memilih laki-laki sebagai pemimpin mereka—hanya saja posisi BPH sudah bisa dipastikan. Itu sih yang membuat saya galau beberapa hari ini. Mau tidak mau life plan yang sudah saya susun harus dibenahi kembali.

Kembali ke puisi (gambar) SINTESA, ini saya buat ketika saya dengan sebal dengan anak-anak SINTESA, mungkin hanya pada salah seorang, tapi saya lupa siapa. Saya sebal dengan keberadaan SINTESA dalam hidup saya, tetapi seperti yang pernah saya tulis bahwa SINTESA itu ibarat ibu bagi anak-anak Tegal. Tidak akan bisa lupa walau dipaksa.

Iseng-iseng, puisi yang berbentuk gambar ini pernah saya ikutkan dalam OIM Puisi FIB UI. Bisa disangka, para juri bertanya-tanya tentang puisi itu. “Ini puisi?” hahaha. Saya pun berdeklamasi, membacakan puisi saya yang merangsang banyak tanda tanya. Bahkan, saya rela merempongkan diri membawa logo SINTESA 4ALL dari wisma SINTESA ke FIB dibantu teman saya. Entahlah, saat itu saya begitu merindukan dunia panggung (teater) yang eksis saya tapakki saat SMA. Sudah lama sekali saya tidak berekspresi di atas panggung. Sungguh, saat itu saya benar-benar rindu.

Deklamasi Puisi dalam rangkaian Olimpiade Ilmiah Mahasiswa FIB UI-lah yang menjadi pelarian saya.

Berlagalah saya di sana

Menyebalkan,

Saya ditertawakan orang-orang dalam forum SINTESA seputar kelakuan saya ini. Ah, malas saya mengingatnya. Mereka tidak tahu saja bagaimana perasaan saya saat itu, dikira mudah apa meninggalkan begitu saja dunia yang sangat saya cintai (teater).

Puisi (gambar) itu saya telantarkan demi mendengar suara ibu yang mendayu-dayu di Tegal sana. tiba-tiba teman sekamar saya menawarkan permen KISS bungkus biru. Saya menolak, tidak suka yang rasa itu, begitu kata saya padanya. Lalu dia mengganti tawarannya dengan KISS warna ungu, grape, saya suka, saya terima.

Wow! Kamu tahu apa tulisan dibalik bungkus permen itu?

BERI BUKTI BUKAN JANJI

Kampanyeeee! -_________________________-“

Advertisements

One thought on “Nasihat dari Bungkus Permen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s