Adik Kecil

Depok, 24 Oktober 2011

08.17 Halte Gerbatama

Menunggu.

Barangkali kata itu yang semula menjadi judul tulisan ini kalau saya tak mengingat komentar saya pada status seorang teman, “menunggu itu indah”. Entahlah, mungkin karena sedari kecil saya terbiasa menunggu, menunggu nama saya dipanggil suster agar saya bisa di nut-nut (baca: diperiksa dengan stetoskop). Awalnya saya merasa sebal karena harus menunggu lama setiap kali datang ke dokter, zaman saya kecil layanan telpon masih belum begitu dimanfaatkan. Lama kelamaan saya mulai menikmati adegan menunggu itu, saya merasa ada suasana yang berbeda ketika saya duduk berjam-jam dalam diam tanpa melakukan apa-apa. Sepi.

Sepi, saya merasa sepi dalam diri, suasana yang sangat berbeda ketika saya ada di dalam rumah yang ramai. Saya merasa kedamaian dalam kesendirian, membuat saya banyak memikirkan hal-hal kecil yang sulit muncul ketika saya sedang berinteraksi dengan orang-orang. Menunggu yang indah ketika saya hanya bersama pikiran saya. Pagi ini saya menunggu seorang teman di Gerbatama UI, menikmati setiap detik kesendirian yang seminggu belakangan jarang saya rasakan. Saya sering mendapatkan pelajaran-pelajaran kecil ketika saya menunggu, tentu beserta munculnya rasa sebal karena merasa membuang waktu sia-sia. Ketika rasa sebal itu menyeruak otak saya berpikir cepat, mencari sesuatu yang setidaknya bisa menambah semangat pagi ini.

Mungkin ini bisa dijadikan tips untuk orang-orang yang bosan menunggu, tapi harus ditunggu. Menunggu di sini dalam konteks upaya terakhir lho ya, kalau masih bisa diusahakan ya lebih baik dikejar, jangan hanya menunggu tanpa usaha. Ketika memungkinkan saya biasa melakukan pekerjaan yang bisa dikerjakan sembari saya menunggu, tanpa rasa sebal tentu. Tetapi, kalau sulit, setidaknya saya dapat memanfaatkan waktu yang disiapkan Allah untuk saya selama proses menunggu itu untuk memikirkan hal-hal baik. Gampangnya adalah introspeksi diri, saya tipe orang yang kalau sengaja meluangkan waktu untuk itu rasanya kok susah, hehe.

Namun, saya bukan orang suci, meski nama suci, yang tak pernah sebal ketika menunggu. Sering pula saya marah, dongkol, alias sebal ketika merasa dirugikan orang sosok yang ditunggu. Itu manusiawi , tapi saya selalu yakin bahwa setiap kejadian adalah pesan dari Allah, apapun itu pasti ada manfaatnya.

Pun pagi ini, saya mulai sedikit gerah karena menunggu. Sebelumnya tidak apa-apa, tapi setelah mendapat sms dari bos saya untuk segera mengirimkan laporan evaluasi saya sebagai tutor, mulai paniklah saya. Saya mencoba tenang, bukankah semua akan runyam ketika kita panik? Pelan-pelan saya mulai merangkai kalimat yang akan saya tulis nanti agar ketika sampai di depan laptop bisa langsung mengetik konsep yang sudah matang.

Alhamdulillah, panik saya sedikit mereda.

Kemudian saya melihat adik tingkat saya, adik kecil yang amat manis, kami pun bertegur sapa dan bercerita sedikit tentang hidup masing-masing. Pikiran saya terbuka, bukan hanya adik kecil itu yang kutemui dalam rentang waktu menunggu itu. Ada tiga empat orang yang saya sapa pagi ini, tentu tak akan terjadi saat saya berdiam diri di rumah. Bukankah ini silaturahmi? Belum tentu saya sempat berkunjung ke tempat orang-orang yang saya temui tadi. Tuh kan, ada manfaatnya!

Adik kecil itu banyak bercerita tentang hidupnya yang sederhana. Saya selalu bahagia melihat senyumannya yang tulus. Saat bis kuning datang dia pamit dengan mengajak saya bersalaman, tangannya lembut. Sebelum pergi dia berkata,

“Doain ya Mba, mudah-mudahan dapat ilmu.”

Ces! Kata-katanya ibarat embun yang membasahi kulit saya yang meradang. Sejuk, tapi perih. Dibalik senyum saya hela istighfar berkali-kali. Ya Allah, betapa malunya saya pada adik kecil saya ini, entah berapa kali saya berangkat kuliah tanpa niatan yang tulus seperti itu.

Ya Allah, segala puji bagi-Mu yang kembali mengirimkan pesan kehidupan untuk saya. Perkataan adik kecil tadi membuat saya sadar satu hal yang mungkin terlupakan. Sebuah niat awal saya datang ke kampus ini, untuk sebuah ilmu.

Untuk adik kecil yang manis, terima kasih ya. Semoga kita sama-sama mendapat ilmu yang manfaat, pagi ini dan seterusnya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s