K

Depok, 8 September 2011

Adalah hari pertama menginjakkan kaki kembali di Kota Depok setelah tiga bulan berkutat di ketiak orangtua (baca: pulang kampung). Hari itu, Allah mengirimkan pesan-Nya melalui tangan bocah-bocah kecil yang tinggal di sekitar rumah. Begitu mereka tahu aku sudah kembali menempati rumah kontrakan, suara-suara mereka lekas bergemuruh menggema di gendang telinga. Teriakkan yang sesungguhnya amat kurindukan,

“Kak Suuuuciiii!”

Ramai. Ribut. Derap langkah kaki mereka mulai terdengar, seperti biasa semakin lama semakin banyak, semakin ramai. Mereka mulai melantangkan panggilan untukku dari balik pintu. Memanggil-manggil tanpa beban, meracau-racau amat kacau, mereka hanya ingin aku keluar.

Aku dan teman-teman saling pandang. Mereka pasti ingin main, meski hanya sekadar duduk-duduk di lantai sembari berebut crayon lalu berkompetisi menggambar tanpa juri. Mereka pasti ingin main, berlarian ke dalam rumah sambil bercetoleh riang. Mereka pasti ingin masuk, bermain di dalam rumah, seperti biasa. Aku dan teman-teman berdesah pelan, kami tidak ingin menerima tamu, tentu. Lagi pula rumah masih begitu berantakan.

Aku tersenyum mengerti, lalu melangkah membukakan pintu.

“KAKAAAK!” suara riang mereka gempar.

“Hallo, Hmm..mainnya nanti yah, rumah Kakak masih berantakan banget, Kakak-kakak yang lain juga masih pada cape.” aku sengaja memberi celah sedikit pada pintu, mengizinkan mereka menyaksikan tumpukan barang-barang tak terstruktur.

Mereka diam, pikirku tenggelam.

Biasanya mereka selalu protes kalau tak diizinkan masuk, tetapi entah kenapa kali ini mereka diam, malah saling berbisik satu sama lain. Keningku melipat selama beberapa menit, menunggu tingkah aneh mereka yang saling berbisik lucu. Mereka seperti menyembunyikan sesuatu, kulihat salah seorang dari mereka menyembunyikan kedua tangannya di punggung. Ah, jangan-jangan mereka mau memberiku hadiah? hehehe

“Ada apa?”

Mereka masih saja bisik-bisik, saling suruh, rusuh bergemuruh. Aku semakin penasaran, sebenarnya apa yang hendak dilakukan bocah-bocah ini.

“Satuu… Duaa… Tigaaa! Tereeeng!” teriak mereka kompak.

Dan dalam sekejap, tangan yang disembunyikan itu mengeluarkan sepucuk surat. Manis.

“Ada lagi, Kak!”

“Hah? Apa?”

“INIII!”

Entah bagaimana perasaanku saat itu, yang jelas aku merasa begitu berharga sebagai manusia. Mereka memberikan sepotong pensil sebagai hadiah lebaran.

Pensil. Pena. Sudah lama aku ingin mendapat hadiah berupa itu, simbol tulisan. Ternyata merekalah sosok yang kuharapkan, sosok yang memenuhi harapanku–ingin dikasih hadiah pensil.

Selain pensil, mereka juga memberi sebuah penghapus berbentuk huruf K

Aku mengernyit,

“Kenapa K?”

Mereka saling pandang, mencari alasan. Kemudian salah seorang menyeletuk,

“Kan KAKAK !”

Aku pias, terharu. Setelah mengucapkan terima kasih mereka pun pergi tanpa mengurangi langkah riang sedikit pun. Aku masuk terduduk, membaca surat dari mereka.

 

Kak Suci Selamat Hari Raya idul Fitri yaa!..

Kak Suci Kita Semua minta maaF yaa Kak

Kita udah ngeberantakin Rumah Ka2k

Dan Kita juga udah ngrepotin Ka2k

Kak Sekali Lagi kita minta MaaF ya!

SALAM MANIS DARI SEMUA-NYA

Kita Semua sayang Kak Suci

 

Kakak.

Hari itu, Allah mengirimkan pesan-Nya melalui tangan bocah-bocah kecil yang tinggal di sekitar rumah.

K itu bukan Kecil, melainkan Kakak.

K = Kapital

Saya seorang Kakak 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s