Roro Jongrang itu pendendam, makanya dapet kutukan

Setelah “tidur” tentu saya akan bangun karena saya sadar masih banyak hal yang harus saya lakukan, terutama yang berkaitan dengan amanah. Wuih, kalau ngomongin amanah serem-serem keren cuy. Waktu SMA, saya pernah mendengar seseorang berkata, “Karena amanah kita jadi terhormat, karena amanah pula kita jadi terlaknat.” Jadi, sebisa mungkin saya ingin terhormat karena amanah, walaupun itu susah -____________-“

Oke, sekarang saatnya saya bercerita tentang masa bangun tidur saya. Tanggal 15 Desember kemarin, akhirnya saya segala rindu yang memuncak ini terobati. Saya kembali bertemu dengan anak-anak bandit, murid kelas enam saya di bimbel, setelah sekian lama tak bertemu. Kenapa saya sebut mereka bandit? Karena mereka itu atraktif sekali, sampai bingung kadang saya menghadapinya. Tapi, saya selalu senang setelah “bermain” bersama mereka. Nah, hari itu kerinduan bermain drama saya pun terobati, Blogy. Karena apa? Saya bermain drama bersama mereka di dalam kelas. Kami memainkan drama Bandung Bandowoso, asal-usul candi Prambanan, dan saya kebagian peran Roro Jongrangnya. Jiahaaa, rasanya senaaaaaang sekali. Padahal saat itu suara saya sedang serak-serak gimana, gitu.

Setelah itu kami diskusi sebentar. Saya menemukan hal menarik lho, Blogy. Ternyata bahasa yang digunakan dalam buku-buku pelajaran mereka kurang sesuai dengan jiwa mereka yang suka bersenang-senang. Ini kaitannya dengan ketepatan pemakaian bahasa yang dilihat dari siapa pelaku bahasanya. Saya menanyakan pada mereka tentang penokohan yang terdapat dalam drama tadi tanpa melihat penjelasan tentang itu yang sudah ada di buku yang mereka pegang. Hasilnya, apa yang mereka utarakan lebih sederhana daripada kata-kata yang termaktub dalam “kitab” mereka. Alih-alih makna dan maksud tujuannya tetap sama. Berikut saya tampilkan ya,

Sebentar, kalau garis besar ceritanya sudah tahu, kan? Bandung Bandowoso ingin menikahi Roro Jongrang padahal dia adalah pembunug ayah Roro Jongrang. Itulah sebab Roro menolak pinangannya. Karena terus bersikeras, akhirnya Roro mau menerima pinangannya denga syarat Bandung harus membuatkan seribu candi dalam waktu semalam. Bandung nyaris berhasil dengan bantuan jin, tetapi Roro Jongrang menggagalkannya dengan membangunkan ayam-ayam lebih cepat melalui pukulan alu. Mengetahui cara licik Roro, Bandung Bandowoso mengutuknya menjadi patung keseribu. Nah, sekaranga ayo cap cuuus…

Watak Tokoh Dari mulut mungil mereka Yang tertulis dalam buku
Roro Jongrang SinisPenipu

Curang

Pendendam

Pembohong

Pendendam

Pembohong

Cantik, rupawan

Dia adalah orang yang tetap dalam pendirian.Dia membela harga dirinya

Dia menolak pinangan orang yang membunuh ayahnya

Bandung Bandowoso SinisPemarah

Sombong

Gagah berani

Sakti mandraguna

Percaya diri

Dia berkemauan keras dengan ingin mempersunting anak musuh.Punya kesaktian dan tega memberi kutukan kepada Roro Jongrang

Gimana, gimana? Ngerti maksud saya kan? Malahan nih ya, saya jadi malu lantaran saya sendiri sampai sekarang dalam menulis penokohan masih seperti mereka. Hanya menyebut sebuah adjektiva untuk menggambar penokohan sebuah tokoh. Hihihi ^.^V

Ayo, ada lagi gak sifat Roro Jongrang yang kalian tangkap?”

“Pendendam, Kak!”

“Ya! Pendendam, kenapa kamu bilang dia pendendam, sayang?”

“Iya, dia gak mau nikah sama Bandung Bandowoso karena dendam sama ayahnya.”

Saya tersenyum, dalam hati saya memprotes kalimat Zaidan, anak paling bandel di kelas saya. Bukan karena dendam sama ayahnya, sayang, melainkan dendam sama Bandung yang membunuh ayahnya. Tentu, itu tidak saya lontarkan, mereka tidak butuh pembenaran kata-kata, mereka hanya ingin maksud mereka tersampaikan. Saya tahu itu 🙂

“Sip. Jadi pendendam itu baik gak?”

“Enggaaaak!”

Saya senang karena mereka menemukan makna sebuah sikap melalui drama yang kita mainkan. Mereka secara alamiah akan mengerti, bahwa seorang Roro Jongrang yang cantik hanya akan membawanya kepada kehancuran karena dendam dan kebohongan.

“Roro Jongrang itu pendendam, makanya dapet kutukan.”

Dan tahu gak sih Blogy? Sekarang suara saya semakin hilang. Gimana enggak, selesai bermain drama, mereka masih mau dibacakan cerita. Ketika saya mengaduh suara serak saya, dengan polosnya mereka berkata, “Gak papa, Kakak. Kita mau denger kok.”

Ngek ngok-______-“

Advertisements

2 thoughts on “Roro Jongrang itu pendendam, makanya dapet kutukan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s