Sobekan Pertama: Keseharian Kapal

28 Desember 2012

pukul 12 malam lewat sekian

“Sudah ada di atas kapal. Wah, seriusan nih di bawah sini ada air? Wooow! Sumpah, gak nyangka banget. Hahay, ketauan deh gak pernah naik kapal :D. Kami naik kapal perang rumah sakit, sekarang lagi ada di deck kapal. Nuansa rumah sakitnya kerasa banget, nama-nama kamarnya aja iya, Ruang dokter, apotek, Klinik Mata, THT, dan poli-poli yang lain”

“Ingat, kita sedang hidup di laut. Jangan pernah rindukan darat.”

Selama pelayaran kami menumpang (menjadi penumpang) KRI dr. Soeharso, jenis Kapal Bantu Rumah Sakit yang dibuat pada 9 Januari 2002. Namanya juga kapal perang, sudah pasti besar dong, panjangnya 122 meter dengan tinggi anjungan 25,4 meter. Jangan dibayangkan, itu sudah berpuluh-puluh kali lipat dari tinggi Bloggy, hehehe. Saya dan teman-teman seketika merasakan kehidupan yang benar-benar lain selama di dalam kapal. Panitia telah mempersiapkan sedemikian rupa beragam kegiatan yang harus kami ikuti. Pada awal pelayaran beberapa dari kami sempat merasakan mabok laut, terlebih saya yang baru pertama kali berjalan beralaskan lantai kapal perang. Rasa pusing dan mual hampir setiap saat hinggap di tubuh saya, untungnya ada tablet anti mabok yang senantiasa menjaga. Dalam keadaan seperti itu, kemauan beranjak untuk mengikuti kegiatan sangat tipis. Akan tetapi, kami tidak melakukan apa-apa karena berdiam diri di kamar justru semakin mengakrabkan kami dengan pusing dan mual tadi. Sekeliling kami lautan, tak ada tempat untuk menghindar dari kegiatan.

Salat Subuh dan Maghrib berjamaah

Hal pertama yang ingin saya ceritakan adalah tentang salat. Di laut tentu tidak sama dengan di darat yang bisa sepenuhnya menyerahkan ketepatan waktu salat pada jam tangan. Di laut, hal seperti itu tidak bisa dilakukan, kami sempurna mempercayakan waktu pada matahari. Pernah suatu ketika saya terbangun pukul setengah enam pagi, bergegaslah saya mengambil wudhu lalu salat di dalam kamar. Begitu selesai salam, adzan subuh baru berkumandang dari anjungan. Pun dengan arah kiblat, tidak bisa dipastikan. Salah satu kegiatan rutin yang ada di dalam kapal adalah salat Subuh dan Maghrib berjamaah. Subhanallah, ini menjadi pengalaman paling berkesan bagi saya.

Kami salat berjamaah di Geladak Helly, bagian kapal yang dikhususkan untuk pendaratan Helikopter, ruangan beratap langit itu memiiki kapasitas untuk bersemayam tiga buah Helikopter. Di Geladak Helly itulah karpet digelar, desir angin dengan bebasnya menerbangkan kain-kain penutup aurat, tetapi angin seolah mengeti bahwa jiwa-jiwa yang dikebasnya ingin khusyuk menyembah Tuhannya. Menjadikan desirannya sepoi. Ah, indah nian membayangkan suasana saat itu. Damai.

29 Desember 2011

pukul tujuh malam kurang sekian WIB

Kereeen! Ada sinyal! Hahaha

baru selesai salat maghrib di Deck Helly. Berjamaah, dianjut baca Yaasin. Subhanallah, keren banget. Aku bisa melihat langit lepas. Melihat cintaku tanpa pandang batas. Sukaaaa banget!:D

Keren keren keren! Ngerasa deket banget sama Allah. Ya Allah, sumpah keren banget lukisan-Mu! Salatnya goyang-goyang gitu, hihihi. Unyu. Amazing deh! 😀

Olahraga Pagi

Olahraga? Hm, perlu Bloggy ketahui bahwa saya ini orang yang paling malas berolahraga. Ya ya ya, saya tahu olahraga itu penting, baik untuk kesehatan, mempertajam ingatan, dan beberapa alasan lain yang menyehatkan. Akan tetapi, saya tetap saja tidak menyukai berbagai jenis cabang olahraga, kecuali berjalan. Kalau jalan-jalan baru saya suka, hehehe. Ini serius, saya percaya bahwa salah satu datangnya inspirasi itu ya dengan berjalan dan itu benar! Saya sering memecahkan masalah dengan memikirkannya sembari berjalan sendirian. Oke, kembali ke olahraga, di kapal olahraga menjadi kegiatan rutin yang diikuti oleh seluruh peserta pelayaran dan pertinas. Saya merasakan sensasi lain dalam berolahraga, gimana gak? Orang kalau olahraganya itu goyang-goyang juga. Hahaha.

Olahraga biasa dilakukan sekitar pukul 05.00 atau setelah salat Subuh. Kami dari kontingen daerah DKI Jakarta sering banget telat datang. Hehehe, biasanya selepas subuh kami berleha-leha dulu di kamar, ada yang bercengkerama, langsung bersiap, banyak pula yang kadang-kadang tidur lagi. Beberapa dari kami menganggap jam segitu masih terlalu pagi untuk beraktivitas. Emang gak ya? Hey hey ini di kapal, inget lho..hehehe

Satu hal yang membuat saya (tidak selalu) mengikuti olahraga pagi adalah cintaku. Yep, langit! Teduh rasanya bisa bertatapan langsung dengan wajah langit yang baru bangun tidur. Juga karena harapan besar saya yang ingin melihat sunrise. Saya sudah pernah cerita belum kalau saya ini lebih senang melihat matahari terbit daripada matahari tenggelam. Alasannya? Ah, akan panjang kalau diceritakan di sini juga.

Saya ingat betul saat kami melakukan gerakan mengangkat dan memeluk satu lutut dan membiarkan badan bertumpu pada salah kaki satunya, hampir tak ada satu anak pun yang bisa melakukannya. Padahal itu hal yang sangat mudah dilakukan jika kita di darat. Di darat, ya bukan di atas kapal. Kondisi kapal yang digoyang gelombang menjadikan kami sulit menopang keseimbangan. Alhasil, terbahaklah kami. Hahaha.

Sarapan (T), Makan Siang (A), Makan Malam (I)

Bloggy tahu gak apa menu makanan kami selama di sana? T.A.I, hahaha. Beneran, jadi setiap pagi kami selalu makan pakai Telur, siangnya Ayam dan kalau malam Ikan. Begitu terus selama pelayaran, bosan bosan bosan. Eh, ya ada satu lagi yang tak akan terlupakan kalau soal makanan. Apa itu? Sayur keberuntungan! Hahaha. Selain menu T.A.I yang menggairahkan, menu andalan selama pelayaran adalah sayur keberuntungan, kenapa disebut demikian? Soalnya, sayur yang asin itu terdiri dari banyak sekali kuah dan sedikir sekali sayurnya. Jadi, siapa yang bisa mendapatkan sayur di tengah berliter-liter  kuah, tentu menjadi orang yang sangat beruntung 🙂

Anehnya, walau bosan gak ketulungan, kami tetap saja melahap makanan itu sampai kenyang. Menjalakan tradisi makan ala TNI juga menjadikan perjalanan ini penuh sensasi. Kami makan tidak menggunakan piring atau mangkuk, tetapi ompreng! Itu lho, tempat makan dari alumunium atau kuningan yang biasa dipakai untuk makan pasien di rumah sakit. Mungkin karena ini kapal rumah sakit kali ya? Hihihi.

Apel Kelengkapan

Nah, kalau yang satu ini adalah kegiatan yang paling malas saya ikuti, padahal tujuannya penting sekali. Hehii. Apel kelengkapan ini bisa sehari dua kali, kami hanya disuruh berdiri dan menunjukkan kesehatan diri. Setelah itu boleh kembali ke kamar, makan, atau membersihkan diri. Hm, ini seperti pengecekkan personil, sebuah tindakan penjagaan kalau-kalau ada peserta yang hilang dimakan lumba-lumba.

 

Bernyanyi

Lalalalalala. Sepertinya tiada hari tanpa bernyanyi selama kami melakukan perjalanan ini 🙂

 

Hai kawan, mari kita renungkan

apalah arti sebuah perbedaan

Susah senang kita lalui bersama

Pahit manis kita rasakan bersama

Kiri kanan atas bawah tengah

Kiri kanan atas bawah tengah

Tujuan kita adalah

Pulau Sebatik (saat perjalanan pulang lagu ini diganti Pulang ke rumah^^)

Advertisements

3 thoughts on “Sobekan Pertama: Keseharian Kapal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s