Pengalaman Kedua Jadi Juri: Mengembalikan Sepotong Kisah Peserta Lomba yang Kalah

Ya, satu kata cantik yang selalu singgah di otak ini akhirnya terjadi juga, “Hidup adalah peralihan dari objek ke subjek, atau sebaliknya.” Hari ini (24/02) saya dapat pengalaman seru (lagi lagi lagi), yaitu dapat kesempatan untuk menjadi Juri Lomba Cerpen di acara “Glow Fest, Harmony of Islam” SMA N 39 Jakarta. Berawal dari sms teman di Jumat siang (23/02) kemarin, mendadak hidup mengalihkan posisi saya dari peserta lomba (objek) menjadi juri lomba (subjek). Jadilah pengalaman saya menjadi juri menaiki anak tangga kedua.

Pengalaman pertama saya sewaktu jadi juri Lomba Narasi Sintesa 2012 kemarin. Keduanya sama-sama seru, hanya yang ingin lebih menggigit karena rekan juri saya bukan sekadar teman main (anak SINTESA), melainkan seorang guru Bahasa Inggris yang cantik dan begitu baik, yang tentunya harus lebih saya hormati. Selain itu, pengalaman menjuri di lingkungan sekolah, berhadapan langsung dengan anak-anak SMA, dan membaca cerita polos anak SMA, mengembalikan kenangan cantik saat saya SMA dulu. Hehehe.

Ada tiga puluh satu teks yang harus saya baca dan semuanya menggunakan tulisan tangan. Terharulah saya begitu menampa tumpukan kertas folio bertuliskan tangan-tangan hebat peserta lomba. Ingatan ini mencuat kepada sepotong novel yang pernah saya tulis murni dengan tulisan tangan. Ketika saya seperti mereka, penyandang setia seragam putih abu-abu yang gembira. Dulu, semangat menulis saya begitu menggebu sampai berhasil menyelesaikan sebuah novel remaja selama duduk di kelas X. Kalau saya baca lagi, cerita yang saya buat itu alay sekali. Hahaha.

Tidak hanya sampai di situ, di bangku kelas XI saya pun dengan semangat menuliskan sebuah kisah cinta anak SMA yang diselesaikan dalam waktu satu bulan demi mengejar deadline lomba. Seratus delapan puluh sekian halaman dengan tulisan tangan. Itu lomba yang pertama kali saya ikuti. Saya yang begitu polos, yang dengan jujur menuliskan setiap jengkal pengalaman perasaan kepada cerita yang saya garap. Kalau waktu kelas X saya menyelesaikan novel karena desakan teman-teman yang ingin terus mengetahui kelanjutan cerita (alay) saya. Di kelas XI ini saya justru mendapat dorongan dari dalam diri sendiri. Tak seorang temanpun yang tahu kalau saya sedang merangkai kisah cinta saya untuk diikutkan lomba. Tahu-tahu sudah jadi dan siap kirim.

Saya cuma bisa senyum-senyum sendiri kalau ingat kejadian itu, bagaimana tidak, hanya dengan bermodalkan cinta tak sampai seorang seperti saya dapat dengan mudahnya memutar balikkan kejadian. Dengan bebas saya buat si dia-yang-saya-sukai-tapi-tak-menyukai-saya pada akhirnya justru melamar saya. Hahaha. Kocak sekali. Lalu, saya yang sampai menangis-nangis karena takut cerita yang saya buat itu menang lomba. Lha? Kenapa takut menang. Haha. Karena semua identitas yang saya cantumkan di dalam novel itu dengan gamblang merujuk kepada satu orang. Dan saya amat sangat takut kalau dia-yang-saya-sukai-tapi-tak-menyukai-saya tahu kalau saya telah seenaknya memutar balikan kejadian yang pernah kami alami. Padahal kan ya, siapa pula yang mau memenangkan cerita ngawur itu? Hahaha. Saya ini memang aneh sekali.

Cepen-cerpen peserta lomba pun sama, saya yakin banyak diantara mereka yang menuliskan pengalaman mereka di dalam cerita yang mereka buat. Seperti masa saya SMA dulu, bedanya konsep pemikiran mereka sudah jauh lebih maju, mungkin karena pengaruh lingkungan juga. Kentara sekali, tulisan-tulisan mereka secara tidak langsung berbicara kepada saya tentang dalam situasi yang seperti apa penulis itu. Jadi, tulisan saya yang dulu itu menunjukkan betapa galaunya saya yang menyukai seseorang yang tidak menyukai saya. Oh, oh, menyedihkan!

Kembali ke penjurian. Saya dan Mem Cecil (rekan juri saya) sempat berdebat seru untuk menentukan pemenang lomba. Padahal, kami sama-sama sudah memberikan nilai pada masing-masing teks. Dari sinilah saya belajar memahami betapa faktor X sangat mempengaruhi. Tak dapat dipungkiri, penilaian dewan juri tidak sepenuhnya objektif. Beberapa cerita yang baik langsung maupun tidak langsung berhubungan dengan pengalaman juri pasti akan menjadi “aktor favorit” sehingga menjadi naskah andalan dewan juri. Di luar gaya penulisan, EYD, keselarasan tema, juri berhak menilai sebuah karya berdasarkan isi cerita. Untuk menentukan juara ketiga dari dua tulisan bernilai sama, saya dan Mem Cecil butuh waktu lebih dari satu jam. Kami sama-sama mempertahankan naskah yang menurut kami layak jadi juara. Pada akhirnya, kami sama-sama menurunkan ego dan kembali menilai sebijaksana mungkin. Barulah keluar nama juara.

Ini benar-benar pengalaman yang mengesankan. Saya membayangkan bagaimana dulu cerita saya ditertawakan juri-juri seperti saya yang juga tertawa membaca beberapa karya mereka. Novel yang saya kirimkan lomba itu pada akhirnya sama sekali tak mendapat juara (ya iyalah!) dan saya jingkrak-jingkrak bahagia karena kalah. Sungguh, saat itu benar-benar kekalahan yang amat sangat diharapkan. Hahaha.

Akan tetapi, setelah itu saya menjadi lebih dewasa dalam mengikuti lomba. Alhamdulillah, dari setapak demi setapak perlombaan yang saya ikuti akhirnya ada juga yang mau memenangkan karya saya. Bebarapa kali saya mengikuti lomba cerpen, menang, tapi tak pernah berhasil meraih juara pertama. Pastilah karena naskah saya—yang gak tahu kenapa bisa menang lomba— yang dibedah habis-habisan di meja penjurian, memiliki satu dua hal yang membuat juri urung menomorsatukannya. Ya ya ya, sekarang saya mengerti tentang abstaksi sebuah karya. Usahakan membuat cerita yang terjadi di kehidupan banyak orang, tetapi jarang sekali dibicarakan. Oh, itu susah sekali!

—yang gak tahu kenapa bisa menang lomba—dibedah habis-habisan di meja penjurian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s