Cantik

Cantik. Tidak dapat dipungkiri, setiap perempuan tentu mendambakan kata itu melekat di jiwa dan tubuhnya. Itu fitrah. Sadar atau tidak perempuan pasti ingin tampil cantik dengan jadi dirinya sendiri. Pertanyaannya, cantik yang seperti apa? 🙂

Bicara soal cantik (yang menurut KBBI bisa berarti ‘elok, molek [tentang wajah]’ bisa juga bermakna ‘suka menarik perhatian lelaki; genit; centil’ Hwaaa kok artinya gitu siih -___________-”), saya jadi teringat dengan obrolan saya dan ibu beberapa hari lalu. Obrolan tak terencana di sepanjang gang kecil menuju rumah. Saat itu, kami berpapasan dengan tetangga. Ibu-ibu muda yang tak lain adalah teman kecil saya. Seperti biasa, kami pun saling sapa. Karena lama meninggalkan rumah dengan alasan kuliah (padahal gak ngerti deh di sini saya ngapain aja^^), saya sedikit pangling dengan teman saya itu. Betapa tidak, setahun lalu, saya melihat dia begitu cantik dengan rambut lurus hasil rebounding, polesan wajah minimalis dengan maskara dan lipstik tipis, dan tubuh kecilnya yang terlihat lebih tinggi karena sepatunya yang juga tinggi.

Saat itu, yang terlihat justru kontras. Dia yang sekarang lebih terlihat seperti embok-embok yang menggendong anak ke sana ke mari. Rambutnya yang dulu begitu lembut, kini terlihat lepek. Juga wajah mulusnya yang dulu tampak putih sekarang begitu kusam dan kembali hitam. Benar-benar perubahan yang tajam.

“Itu beneran Mbak Bunga. Masa sih? Perasaan dulu cantik banget.”

“Dulu mah iya, dia belum mikir apa-apa. Kalau sudah berkeluarga semua jadi beda, ngurus rumah tangga, keperluan suami, belum lagi kalau sudah ada anak. Jadi gak sempet ngurus diri.” kata ibu.

“Tapi kan, bukannya seharusnya perempuan itu justru cantik setelah punya suami ya, Bu? Bukannya setelah dapat suami terus jadi gak cantik lagi, kan cantiknya kita buat suami.”

Ibu hanya tersenyum, sedikit geli. Menurutnya, tidak semua perempuan memahami itu. Apalagi orang-orang yang hidup di tengah kesulitan ekonomi. Jangankan memikirkan kesenangan suami dengan tampil cantik setiap hari, bisa menanak nasi saja sudah sangat disyukuri. Dalam hal ini saya sepenuhnya memahami, kalau sudah bicara tentang ekonomi, saya hanya bisa berdamai dengan beliau 🙂

Kalau dulu Mbak Bunga itu gak cantik banget, barangkali ini tak akan jadi soal. Sesuatu yang bertolak memang menarik. Lalu saya jadi lebih dalam lagi melihat sekeliling saya, ternyata banyak juga ibu-ibu lain yang di masa mudanya begitu sempurna dari segi fisik dan kesempurnaan itu mereka tinggalkan setelah menikah. Setelah bersuami. Saya jadi berpikir, jadi sebenarnya cantik itu buat suami atau buat cari suami? Waktu saya tanya, ibu saya diam saja. Hihihi 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s