Oleh-oleh dari Festival Layang-layang Internasional

           WOW! Hari ini, satu impian saya terwujud: berdiri di bawah seribu layang-layang. Nice, mungkin jumlah layang-layang di atas saya sangat kurang dari seribu, tapi nuansanya sudah melebihi berada di bawah berjuta-juta layangan! 😀

Hm, begini, hari ini saya baru saja mengikuti Jakarta Festival Layang-layang Internasional di Ancol, sebagai perwakilan dari Pramuka Sekar Kalpavriksha UI untuk menjadi relawan di Kelompok Kerja Sosial (KKS) Melati. Kami berangkat bersama seratus anak binaan KKS tersebut, menemani mereka mengikuti lomba melukis dan workshop membuat layang-layang serta menyaksikan keindahan layang-layang yang dipamerkan dari 15 negara di dunia. Subhanallah, mimpi apa ya saya bisa berkesempatan seperti ini 🙂

Oke, karena saya ini baik hati dan gak ingin buat kalian iri, saya gak mau terlalu banyak cerita bagaimana saya bergembira di sana. Hehehe. Intinya sih, alhamdulillah saya senang sekali hari ini 😀 semoga kesenangan ini menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, untuk tak protes ketika kesedihan menghampiri. Yah, sampai sekarang saya masih mengimani bahwa kesedihan dan kesenangan itu sepaket, hanya kadang datangnya tak bersamaan.

Jadi, apa yang mau diceritain? Oh, iya! 😀

Di sana saya bertemu dengan seorang anak kecil lucu (iya, bagi saya semua anak kecil memang lucu :D) bernama Bilqis. Satu hal yang sangat membekas di hati saya adalah kesederhanaan dan keikhlasannya dalam menerima takdir Allah. Sedari pagi, Bilqis sudah menggebu-gebu, menceritakan banyak hal kepada saya, terutama semangatnya mengikuti lomba melukis layang-layang di Ancol nanti. Bahkan, setiap kali kami bertatap muka, dia selalu berujar, “Kak! Jangan lupa yah doain aku menang!”

Ah, mendengarnya saya jadi rindu kompetisi.

Dia juga mempersiapkan segalanya, menunjukkan sketsa gambar yang dia bawa dari rumah kepada saya, “Jangan bilang siapa-siapa, ya, Kak. Nanti aku mau gambar ini” katanya sambil malu-malu menunjukkan gambarnya. Sesampainya di Ancol, yang dia cari justru tempat lomba melukis tadi, tidak seperti teman-temannya (juga saya) yang terheran-heran dengan berbagai layang-layang raksasa membumbung di angkasa. Tapi, tahukah kamu sobat, karena kesalahan teknis beberapa kelompok akhirnya tidak jadi diikutsertakan lomba. Malangnya, dia tergabung dalam satu dari lima kelompok yang dibatalkan tadi 😦

Saat menanti pengumuman juara, dia terduduk lesu di atas tikar. Karena tidak tahu saya pikir dia sakit, mirislah saya begitu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Terlebih ketika mulut kecilnya mengumam lirih, “Aku cuma kesel aja, Kak.” Beruntung, sebelumnya saya sempat menceritakan dongeng Kentang dan Dendam padanya, saya yakin ini bukan kebetulan. Pesan dongeng ini pada intinya menyadarkan kita bahwa ketika membawa kemarahan dan dendam di kehidupan kita maka kita sendirilah yang mengalami kerugian.

“Hayoo, kan kalau kita kesel dan marah berarti kita gak sayang sama diri kita sendiri,” kata saya. Mencoba menghibur. Dia menggeleng pelan, lalu kembali menunduk. Saya mengajaknya ke luar ruangan, saya pikir dia akan semakin sakit hati saat nama pemenang diumumkan, tapi dia menolak.

“Gak papa, Kak. Aku mau lihat pemenangnya.” katanya sambil tersenyum kecil. Ya, tersenyum. Walau kecil.

“Gimana kalau gambar Bilqis yang tadi Kaka aja yang nilai? Bilqis udah sering ikut lomba, kan? Mungkin ini bukan rejeki Bilqis.”

Dia mengangguk.

Karena suatu urusan, saya pun meninggalkannya tetap di ruangan itu. Dalam hati saya percaya Si Kecil ini pasti bisa mengatasi perasaannya.

Anak kecil mudah melupakan sesuatu.

            Setelah saya kembali, dia sudah asyik dengan layang-layangnya. Menerbangkannya sumringah seolah-olah kekecewaannya barusan sudah terbang entah ke mana. Kalian tahu, apa yang dikatakannya ketika benang layang-layangnya tersangkut dengan benang kawan saya? Ketika kawan saya nyaris menyerah karena kekusutan yang sulit, saat kawan saya berkata, “Kita potong aja, Dek, benangnya.” Si Kecil itu dengan senyum riang menyeletuk ringan, “Ayo, Kak. Jangan putus asa, pasti bisa coba terus saja!”

Si Kecil ini dengan mudahnya berlaku ikhlas.

            Di bus saat perjalanan pulang, dengan manisnya dia berbisik malu-malu, “Kak, nilai gambar aku ya?” dengan suara yang hampir tak terdengar. Saya tersenyum bangga. Anak sekecil itu sudah bisa menerima kejadian dengan baik. Saya salut sama ibunya, juga gurunya (Lho?^^) dan saya teramat malu ketika mengingat bagaimana saya masih sering menggerutu atas kejadian yang tidak saya inginkan.

“Bilqis hebat!” Keluar begitu saja dari mulut saya.

“Hah?” balasnya bingung.

“Bilqis hebat karena Bilqis bisa ikhlas.”

“Oh, yang tadi ya? Hehe.”

Dia bahkan sudah benar-benar melupakannya.

            Lagi-lagi saya banyak belajar dari anak-anak. Terkadang dibalik kepolosan mereka, tersimpan kesahajaan yang luar biasa dahsyatnya. Mereka bahkan lebih bisa menerima kejadian tak menyenangkan ketimbang orang-orang dewasa. Itulah salah satu alasan kenapa saya tetap ingin menjadi anak-anak. Hehehe 🙂

Depok, 30 Juni 2012

<photo id=”1″ />

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s