Bekal

Di suatu malam, pada sebuah rumah.

“Sedang apa, Mba?” tegur ayah pada putrinya.

“Packing, Yah. Besok kan Mba mau kemah, hehe.”

“Wah, banyak sekali bawanya, ckckck.”

“Iya dong, Yah. Mba itu harus benar-benar mempersiapkan semuanya dengan baik biar di sana Mba gak susah. Di sana itu dingin banget, Yah, udah gitu gak ada penerangan. Cari makanan susah, kalau ada pun mahal. Ibu udah siapin banyak makanan sampai gak muat nih tasnya. Aduuh.”

“Ya, seperlunya saja. Di sana bareng teman-teman, kan?”

“Iyaa, tapi ada acara kita dilepas ke tengah hutan sendiri-sendiri. Jadi Mba benar-benar harus mengantisipasi segala kemungkinan, hehe.”

“Semangat sekali ya kamu.”

“Iya dong, Yah. Mba itu udah nabung dari lamaaaa banget. Khusus buat ikutan ini!”

Ayah tersenyum kecil, tanda bahwa ada sesuatu yang serius yang ingin disampaikan.

“Dengerin ayah bentar deh, Mba.”

Anaknya menghentikan aktivitas, siap mendengarkan. “Iya, daritadi kan Mba ndengerin ayah!”

“Untuk pergi ke suatu berkemah saja sebegitu banyak yah yang harus Mba persiapkan. Bahkan sampai menabung dari jauh-jauh hari. Padahal kan, Mba masih ada kemungkinan kembali lagi ke rumah ini, bukan? Coba bayangin, sudah sejauh mana bekal yang Mba siapkan buat hidup di akhirat kelak. Mba sudah nabung kebaikan belum? Sudah berapa banyak amal shaleh yang Mba kerjakan?”

“Hmm, iya juga ya, Yah. Wah Ayah keren!”

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s