Sepuluh Ribu Bendera

Mbah pulang. Keringatnya deras mengucur, membuat wajah keriputnya terlihat berkilat-kilat lantaran ditempa cahaya siang. Handuk putih yang melingkar di lehernya sudah terlalu bosan bercengkerama dengan keringat. Keringat yang terkeluarkan melalui kekuatan kedua kakinya dalam mengayuh becak. Setiap hari. Sampai sesenja ini.

Mbah lantas memarkirkan becaknya di “garasi”, lahan sempit depan rumah. Mendengar becaknya mengucap salam, bocah kecil di dalam rumah menghambur penuh semangat, menanti selembar uang kertas dari kantong Mbah: buat beli olos, makanan khas Tegal yang terbuat dari aci (tepung kanji) yang digoreng dengan sayuran plus cabe rawit di dalamnya. Mbah tersenyum, sudah paham maksud dibalik senyum licik bocah cilik itu. Selembar uang seribuan dari kantong Mbah kemudian beralih ke atas jemari mungil bocah tadi, cucunya. Namanya Latief, Latief Hendaningrat.

Melihat Latief tertawa riang, Mbah mendudukkan tubuhnya kemudian memegang kedua bahu cucunya itu. Manatapnya lekat-lekat. Membiaskan bulir keringat. Latief pun paham, Mbah ingin kata-katanya disimak.

Nggo njajan limangatus bae ya, limangatuse dicelengi.1

Latief merengek. “Yaaah, Embaah…”

Mbah mengembangkan senyum. Baginya, rengekkan adalah sebuah kenikmatan tersendiri. Di masa sesenja ini, ingin rasanya dia merengek-rengek memprotes keadaan yang tidak dia suka. Tapi pada siapa? Karena itulah, dia selalu menganggap betapa menyenangkankan masa kanak-kanak itu, ketika setiap anak bebas merengek minta dibelikan apa saja. Tanpa memikirkan segala bentuk perasaan dan keadaan.

Latief kembali masuk dengan uang seribuan yang masih di tangan. Sebal juga, tapi anak itu sepenuhnya mengerti. Toh, biasanya dia bebas minta uang berapa saja asalkan Mbah punya.

Assalamualaikum!” terdengar seorang mengucap salam dari luar.

Waalaikumsalam,” terdengar Mbah menjawab salam orang yang datang itu.

Latief segera berlari, nalurinya memunculkan rasa penasaran untuk melihat wajah si pemberi salam. “Waalaikumsalam,” susul Latief.

Eh, Latip, sudah sekolah belum?” kata salah satu dari tiga tamu yang datang.

Latief menggeleng. Ketiga lelaki itu mencubit pipinya bergantian. Gemas. Wajah ketiga pemuda itu terasa asing, tak pernah Larief lihat mereka sebelumnya., Mereka tampak lebih keren, tidak seperti anak laki-laki seusianya yang sering wira-wiri di sini. Kata Mbah, mereka itu mahasiswa, kuliah di Jakarta. Latief sendiri kurang begitu paham, apa itu mahasiswa.

Ini mahasiswa tumben sowan ke rumah, ada apa ya?” kata simbah.

Hehehe, Mbah Karman bisa saja. Ini lho Mbah, kami mau memasang bendera di depan rumah penduduk. Biar semarak kemerdekaannya terlihat, sekalian membangun semangat nasionalisme warga.”

Wah, bagus itu! Jaman sekarang jarang sekali pemuda yang peduli untuk mengibarkan Sang Merah Putih, padahal sejak 17 Agustus 1945 kita sudah berhak seberhak-berhaknya membanggakannya di atas tiang.” Mbah menepuk bahu salah satu kakak lelaki itu. Mbah ingin kata-katanya disimak.

Latief melihat wajah Mbah begitu gembira sekaligus bangga, Mbah memang selalu bangga dengan merah putih bangsa. Dia dulu prajurit Jepang, ikut merasakan sensasi penjajahan dalam kelompok Heiho. Kepada Latief, Mbah sering menceritakan perjuangannya (terpaksa) mematuhi perintah Jepang yang dulu menjajah Indonesia. Latief hanya bisa mendengarkan, tidak begitu mengerti apa itu penjajah, yang dia tahu penjajah itu seperti monster. Penjajah itu penjahat, membuat Indonesia tidak merdeka, makanya orang-orang yang berjuang memerdekaan Indonesia harus dihargai.

Ini dipasang ya, Mbah,” kata kakak lelaki yang lain lagi.

Iya, silakan, silakan!”

Latief mendekat ke kaki Mbah, menyandarkan berat tubuhnya ke sana sembari memperhatikan ketiga kakak itu mengikatkan bambu pada salah satu tiang di beranda rumah. Di ujung bambu bercat putih itu telah kokoh ikatan Sang Merah Putih bersih, tidak seperti bendera merah putih kepunyaan Mbah di belakang rumah. Lusuh.

Ya, simbah juga punya bendera merah putih yang sudah sangat lusuh. Setiap pagi dan sore Mbah menaikkan dan menurunkan bendera di belakang rumah. Di sini, di sudut Kota Tegal ini, jarang sekali orang yang masih mau meluangkan waktu untuk sekadar menaikkan bendera. Barangkali, cuma Mbah satu-satunya.

Bendera merah putih bersih itu kini berkibar gagah di depan rumah. Mbah memandanginya bangga, kejadian seperti ini memang baru pertama kali terjadi di kampung mereka. Boro-boro ingat hari kemerdekaan dengan memasang bendera, warga di sana lebih senang mengingat tanggal cicilan hutang.

Terima kasih ya, Nak. Gagah sekali Sang Saka ini, ckckckck.” decak Mbah kagum.

Sama-sama, Mbah. Hm, ini Mbah, nuwun sewu2, ada biaya administrasi sepuluh ribu.” pemuda berperawakan tinggi besar berkata malu-malu.

Simbah terkesiap. Bayar?

Latief tahu Mbah pasti kaget, tapi simbah tidak menampakkan kekecewaannya pada pemuda itu. Mbah kan tidak punya uang.

Buru-buru simbah mengatur napasnya.

Eh, jebule mbayar, Tong? Mbokan gratis3, he he he.”

Iya, nih Mbah, bendera sama bambunya ini kan juga beli, hehehe.”

Ya ya, harus bayar sekarang nih?”

Nggih, Mbah.”

Mbah mengeluarkan uang sepuluh ribuan dari sakunya. Salah seorang kakak laki-laki menerimanya kemudian mereka pamit pulang. Dipandanginya lagi bendera seharga sepuluh ribu itu, Mbah menggerakkan badan ke sikap sempurna lalu hormat.

Indonesia Raya merdeka merdeka, tanahku negeriku yang kucinta. Indonesia Raya merdeka merdeka hiduplah Indonesia Raya!” Mbah bernyanyi lantang.

Latief memakmumi.

Ternyata nasionalisme itu mahal juga ya, Tip.” gumamnya.

Adzan Dhuhur berkumandang di tengah terik siang yang menyala. Beberapa hari ini Kota Tegal terasa sangat panas, untung Mbah sudah pulang. Latief tak bisa membayangkan betapa lelahnya sang Embah bila harus membawa penumpang di tengah jalanan dengan situasi sepanas ini. Mbah pasti capek. Capek sekali.

Suara toa di masjid sudah berhenti, tapi Latief mendengar suara lain. Bunyi gemeracak yang berasal dari bagian tubuhnya. Isi perutnya. Latief lapar.

Mbaah, Latip maem ooh!” pintanya pada mbah wadon4

Oalah, iya yah, Mbah belum masak, Cah Bagus. Nanti ya, minta duit dulu sama Mbah Kakungmu buat beli sayur.”

Mendengar perkataan istinya, Mbah Karman meraba-raba sakunya: rata.

Latief terpaksa harus menahan rasa laparnya. Menunggu Mbah selesai salat zuhur. Baginya, menahan lapar adalah hal paling menyebalkan. Dia tak mau apa-apa. Dia hanya mau makan. Kenapa harus menunggu?

Embah, makan! Latip laper!” teriaknya.

Aja gemboran lah, Tip5!” suara mbah wadon dari dalam kamar membuatnya diam, Latief memilih menangis lirih.

Mbah Karman dan Mbah Wadon lama bicara di dalam kamar. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Sesekali terdengar Mbah Wadon merajuk, sesekali suara “menenangkan” Mbah Karman tertangkap. Latief terus saja mengaduh, menangis sembari memegangi perut.

Dia menangis semakin keras.

Embaaaaah, mangaaaan6!”

Brak!” pintu kamar terbuka kasar, Latief terlonjak. Kaget.

Mbah Wadon keluar kamar dengan muka garang, melihat cucunya masih menangis, malah semakin keras, dia melotot. Baru kali ini Latief melihat wajahnya sesangar itu, mendadak kelembutan yang selama ini menyelimutinya sirna seketika.

Meneng ora7?!” kata Mbah Wadon kasar.

Latip ngelih, Mbah8,” Latief tergugu, perutnya lapar. Lapar sungguh.

Mbah Wadon lantas merengkuhnya erat, diciuminya kening kecil itu tak berkesudahan. Ia pun ikut sesenggukan.

Latief tidak mengerti, Latief hanya ingin makan. Latief menghapus air matanya cepat. Aku marah, marah pada embah yang barusan membentakku kasar, sekarang dia memelukku sambil menangis, apa maksudnya?

Latief berkelit, memberontak. Dia lalu melempar mobil-mobilan, menangis lagi, kali ini sekeras mungkin dengan mengerahkan segenap tenaga yang tersisa. Anak kecil itu meronta-ronta, Mbah Wadon menariknya paksa.

Ke depan beranda.

Makan? Kamu bilang kamu mau makan, Tip? Makan tuh bendera! Makan! Simbahmu itu gendheng, udah tahu uang di kantong cuma tinggal sepuluh ribu malah dikasih buat ini bendera, gak tahu apa kita ini belum makan, dari pagi belum sarapan. Ditungguin pulang, ditungguin ngasih uang, malah seenaknya aja dikasih ke siapa itu tadi. Nasional nasional apa, emangnya dengan masang bendera depan rumah perut kita jadi kenyang? Hah!”

Latief diam.

Sini kamu!” embah lalu menarik lengannya, mengajaknya ke belakang rumah.

Lihat! Lihat! Itu kamu lihat bendera kan? Bendera yang sama kan, warnanya merah putih juga kan? Kenapa mesti di depan di pasang juga? Apa satu aja gak cukup? Mbahmu itu udah kayak orang gak waras, tiap pagi sore naikin sama nurunin bendera. Dibayar berapa? Pejabat-pejabat yang ngakunya cinta bangsa saja belum tentu punya bendera di rumahnya. Simbahmu ini yang cuma tukang becak kok ya sok nggaya banget sama yang namanya cinta tanah air. Bah, pejuang sih pejuang tapi jangan jadi lupa kasih makan juga dong! Aku tah juwet, gemas sama simbahmu itu!”

Latief masih diam.

Embah wadon ikut diam, menelungkupkan kedua telapaknya ke muka.

Embah ini ya ngerti, Tip, simbahmu itu memang cinta sekali sama bangsa ini, tapi kalau udah sampai seperti ini ya embah wadon gak kuat,” suaranya memelan, embah wadon bicara perlahan sambil sesenggukkan. Dia kemudian kembali merengkuhku.

Entah kenapa Latief jadi tak lapar.

Mbah,” kata Latief

Iya, Tip.”

“Mbah punya uang lima ratus?”

Mbah Wadon lalu membuka lipatan pada jarik yang dikenakannya, orang tua zaman dulu memang terbiasa menyimpan uang di lipatan jarik.

Klenting, sebuah uang logam limaratusan terjatuh.

“Ada ini, Tip.”

“Latip punya seribu, tadi dikasih Mbah Karman, kita beli mie instan yuk, Mbah. Cukup kan?”

Embah wadon kembali memeluknya erat.

Mbah Karman melihat mereka dengan genangan air di wajahnya. Wajah tua itu terlihat begitu rapuh, hanya kibaran merah putih di sanalah yang mungkin dapat sedikit menguatkannya.

1 Buat jajan lima ratus aja ya, lima ratusnya ditabung.

2 Permisi

3 Eh, ternyata bayar, Tong (sebutan untuk memanggil anak laki-laki)? Kirain gratis.

4 nenek

5 Jangan berisik lah, Tip!

6 makan

7 Diam gak?!

8 Latip lapar, Mbah,

Advertisements

2 thoughts on “Sepuluh Ribu Bendera

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s