Contoh

Selamat Pagi, Bloggy

Saya sekarang sudah ada di kampung halaman tercinta, Kota Tegal yang ngangeni lan mbetahi  ‘bikin kangen dan betah’. Kota ini selalu memberikan banyak inspirasi, sayajuga tidak tahu alasan pastinya. Padahal kalau dibandingkan Depok atau Jakarta, tentulah keduanya memiliki lebih banyak “sisi” yang bisa dijadikan ide cerita. Tapi saya selalu pulang kalau butuh inspirasi, hehehe.

Saya punya cerita seru, yang memberikan sebuah pemahaman baru tentang kedekatan yang harus dimiliki seorang guru. Kedekatan dengan jiwa muridnya. Yah, seperti itulah kira-kira.

Berawal ketika tetangga kecil saya memanggil-manggil. Oleh ayah, disuruhnya langsung masuk ke kamar saya. Malu-malu dia menyapa di tepi pintu.

“Kanapa?” kata saya

“Warahi PR oh, Mba. Bahasa Indonesia.”[1] Malu-malu pula ia menuturkan maksudnya.

Saya mengangguk, menjeda kisah aneh yang sedang saya tulis. Dia kemudian menunjukkan bagian-bagian soal yang belum dapat dikerjakannya. Anak kelas 4 itu sedang belajar tentang pantun, paragraph, dan jenis-jenis kalimat. Saya selalu miris setiap kali menemani anak-anak mengerjakan PR. Mereka selalu ingin cepat selesai. Ingin cepat menemukan jawaban di rangkaian materi yang disaajikan sebelum soal. Ya Allah, apakah pendidikan hanya sekadar menjawab soal?

Nah, di sini letak serunya.

Setelah selesai, saya bertanya padanya tentang perbedaan kalimat berita, kalimat tanya, dan kalimat perintah. Sesuai materi yang baru dia pelajari itu.

“Saya makan. Itu kalimat apa?”

Sedihnya, dia masih melihat buku untuk menjawab pertanyaan saya. Saya pun, pelan-pelan, menutup bukunya kemudian sedikit menatap matanya. Mengajaknya memahami.

“Keh, kuwe[2] namane kalimat berita. Paham?”

Dia mengangguk kecil.

“Kalimat berita diakhiri tanda apa?”

Dia berpikir lama. Membuka-buka kembali halaman buku yang sudah ditutup. Saya hanya menghela napas.

“Titik.” jawabnya.

“Sip. Kalau ‘Retno sudah makan?’ itu kalimat apa?”

“Tanya.”

“Pinter! Diakhiri tanda?”

“Tanda tanya oh, Mba i.”

“Iya. Kalau ‘Cepat makan!’ kalimat apa?”

Dia diam. Lama.

“Hayo apa? Itu namanya kalimat perintah. Diakhiri tanda seru, tanda pentung. Oke?”

Dia mengangguk.

Saya pikir dia sudah benar-benar mengerti, ternyata setelah saya tanya lagi dia ragu menjawab lagi.

“Coba, ‘Ini buku.’ Kalimat?”

“Berita.”

“Kalau ‘Ini buku siapa?’”

“Enyong.”[3]

“Hahaha. Kuwe kalimat apa”

“Hehehe. Kalimat takon ya Mba i.”

“Iya. Bahasa Indonesiane apa?”

“Kalimat tanya.”

“Sip. Pinter! Saiki kalimat apa ya, ‘Ambilkan buku!’”

Dia diam lagi.

“Kuwe kalimat perintah. Perintah kuwe ngongkon[4]. Ngerti?”

Dia cuma tersenyum-senyum. Tidak mengangguk.

Lalu dari luar terdengar suara, “No, tukokna gula teh!”

“Gueh, kuwe kalimat perintah ya Mba i?”

“Iya. Hahahaha. Ngerti kan saiki[5]?”

Mengangguk mantaplah dia.

“Dong dibahasaindonesiakna pime?[6]

“Retno, belikan gula teh!”

Saya tersenyum. Ternyata saya hanya keliru memberi contoh. Saya tidak memberi contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-harinya. Oh, bahasa. Betapa kau bernuansa 🙂


[1] Warahi= ajarin

[2] Kuwe= itu

[3] Enyong= saya

[4] Ngongkon= nyuruh

[5] Saiki= sekarang

[6] Kalau dibahasaindonesiakan gimana?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s