Tentang Kamu

Pada suatu siang, aku tak sengaja menemukan sebuah surat permohonan. Tentang keinginan seorang nama yang meminta sebuah kekhususan tempat tinggal. Bukan karena keangkuhan, melainkan karena keterbatasan yang menjadikannya butuh kekhususan itu. Dari sanalah aku membaca sekelebat lama. Nama yang cepat sekali terlupa. Ah, diri. Kenapa mudah sekali melupa kata. Tapi suasana itu begitu kuingat, suasana yang hadir ketika aku membaca nama. Lalu, berwaktu-waktu berlalu. Berapa lama bahkan aku tak tahu.

 

Sampai pada suatu petang di stasiun, di depan lantai penyeberangan. Aku bertemu seorang kamu, yang terlibat dalam satu adegan menunggu bus. Kamu dengan sebuah kekhususan, yang pelan-pelan meraba jalan dalam gelap. Kamu hendak menyeberang, ada bus datang. Hey, apa kau tak lihat? Baru aku mau berteriak, kau lebih dulu menghentikan langkah, tepat begitu bus berhenti. Instingkah? Kita sama-sama menunggu bus, bukan? Kenapa kau lama tak masuk-masuk? Pintunya tepat di hadapanmu.

 

Bapak supir di dalam bus sedikit gemas. Lalu berteriak sedikit kencang. Memintamu sedikit cepat masuk. Kamu tetap tenang, tak peduli lalu tersenyum melangkah biasa. Sampai dalam kamu bertanya, “Masih ada yang kosong, Pak?” Di belakangmu, aku mengerutkan dahi. Mengapa kau tak menoleh ke kanan tuk temukan jawabannya? Bapak yang sedikit kesal tadi sepertinya menyesal. Dia mengangguk dengan senyum yang meminta maaf. Kamu biasa saja, seperti tidak terjadi apa-apa. Kamu lalu bertemu dan bercakap dengan teman sepanjang bus melaju. Kamu lebih banyak diam, mungkin sedang menghapal rasa, daripada mengajak temanmu bicara. Apalagi memperhatikan aku yang dipenuhi tanya tentangmu? “Sampai di halte gerbatama.” temanmu berkata. Kamu bilang terima kasih, tapi tetap duduk. Hm, berarti tujuanmu asrama. Lalu, aku ingat sepotong surat yang kutemukan pada sebuah siang. Tentang nama yang kulupa. Tentang rupa tempat khusus yang nama itu minta. Tentang knowing everything particular object  yang mengendap dalam aku. Tentang nama itu. Apakah kamu? Asrama? Tunanetra? Sayang, rasa penasaranku terjeda lagi karena aku harus turun.

 

Sampai pada sebuah pagi lagi. Aku kembali bertemu kamu dengan segenap pemahaman yang baru. Di asrama. Hampir semua mengenalmu. Apakah karena kekhususanmu? Mendadak sebersit angin mengirimiku isyarat: katanya, yang kulihat memang nama itu. Kamu. Tentang sebuah nama yang terlupa itu biarlah. Penasaranku terhapus sudah. Permohonanmu terkabul sudah. Alhamdulillah atas segala berkah.

 

 

Depok, 6 Maret 2013

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s