Manusia Listrik

Haloo Bloggy 😀

Sekarang pukul 06.17 dan saya masih sedang mengerjakan tugas Pengajaran Bahasa yang akan dikumpulkan pukul 13.00 nanti. Hm, tapi karena saya ada kuliah pukul 08.00 jadi harus selesai sebelum itu hehehe. Baru setengah jalan nih, mau rehat dulu. Hihihihi.

Kenapa baru dikerjain? Karena semalam saya ngajar! Nah, itu tujuan saya nulis pagi ini sebenarnya: mau cerita hehehe

Jadi begini, akhirnya saya punya murid privat SD juga (ini doa saya tulis dua tahun lalu, berarti kalau sekarangya berdoa pengen dapet suami yang baik, dua tahun lagi terkabul yah. hehe). Murid saya itu baru kelas tiga, sekolah di SD Nurul Fikri. Murid saya yang ganteng ini sumpah tulisannya acak adut banget, udah gitu dia paling lemah di Bahasa Indonesia (kenapa anak-anak susah belajar bahasa Indonesia, huh). Nah, semalam itu ketika saya datang, tiba-tiba dia berteriak

“Kaka, nilai bahasa Indonesia aku 88 lho. Terbaik kesepuluh di kelas!”

Wah, senang sekali saya. Padahal minggu kemarin ibunya bilang kalau dia remidial di ulangan bahasa. Alhamdulillah.

“Oh ya? Bagus-bagus. Tulisannya bagus gak tapi?”

“Bagus! Kata Bu Guru aja bilang gini, ‘Vin kok tumben tulisan kamu rapi’ hehehe.”

“Sip sip sip. Coba kaka lihat kalau udah dibagi yah, awas kalau ternyata masih acak-acakan.” ledek saya, sengaja, dia suka ditantang. Namanya juga laki-laki.

“Bagus kok, Bu Guru aja seneng banget nglihatnya.”

“Iya deh percaya. Gitu dong, kan jadinya kamu dapat pahala. Udah bikin Bu Guru senang, bikin kaka seneng juga. Wah pahalanya dobel!”

“Senyum aja dapet pahala ya, Kak.”

“Yap. Itu sedekah. Sama seperti berbuat baik. Oke, karena kamu keren boleh deh minta hadiah.”

“Aku mau hadiah didongengin Manusia Listrik.”

“Hah?” Aduh gawat, Manusia Listrik? Cerita macam apa yang akan saya tuturkan nanti. Aduuh, mana saya sedang tidak ada ide sama sekali. Oh, langit, tolonglah saya ini.

                Saya memang sering membacakan dia dongeng. Biasanya sih dari buku cerita yang sengaja saya bawa. Kalau belajar Sejarah saya sering mengajaknya berimajinasi dengan mencerikan rupa kejadian di masa yang sedang dipelajari itu. Kalau belajar Matematika saya seolah-olah menceritakan petualangan Ultraman yang belanja di Pasar Pagi. Dia pikir itu sesi hiburan, padahal saya sedang baca soal cerita yang sangat panjang dan ujung-ujungnya dia saya suruh ngitung juga hahahaha.

Okay, kembali ke kasus. Saya sudah menjanjikan hadiah dan saya harus melunasinya sekarang juga. Anak kecil itu sangat patuh pada janji. Kepercayaan seorang anak kecil akan memudar—tapi bukan berarti mereka benci karena mereka adalah makhluk pemaaf sejati—ketika mendapati seorang dewasa melupakan janjinya, sekecil apa pun janji itu. Ini berdasarkan pengamatan saya ya hehehe. Jadilah saya harus, mau tidak mau, melunasi janji itu.

Tapi saya benar-benar gak ada inspirasi 😦

                Entah apa yang dia lihat, tapi kemudian bocah kecil itu berkata “Udah, Kak, nanti aja ceritanya. Kaka ngarang dulu aja di rumah.” dengan tampang mengesalkan.

Saya terkesiap. “Ih, kok kamu tahu kaka itu ngarang?”

“Tahu, dong. Sekarang kaka cerita yang udah kaka hapal aja.”

Sialan ini anak, jadi dia tahu dong kalau saya ini menghapal cerita hahaha.

Oke, sekarang Bloggy, bantu saya menyiapkan cerita Manusia Listrik itu!

Haiaah! Cups!

Kapan Aha’! datang?

sekarang sudah pukul 06.49 dan tugasnya masih belum selesai. Tenang, tenang, sudah mandi kok. Jadi tinggal chaw aja nanti^^

Advertisements

3 thoughts on “Manusia Listrik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s