?

Ibu, perasaan apa ini?

 

Bu, anakmu mulai merasakan sesuatu

yang tak biasa, tapi dengan mudah menyerap setiap pikiran yang ada. Menghilangkannya. Cepat mengalihkannya pada perasaan yang belum tahu apa namanya.

Bu, keseharian anakmu ini terpaut pada buku-buku, laku-laku, sampai paku-paku yang berteman dengan palu. Temanteman. Tawatawa. Sukacita. Tangisnestapa. Dukalara. Lantaskemanakakimelangkahsaja. Lelah. Terkadang, Bu. Sampai menangis anakmu yang tak biasa menahan lunglai kaki karena berjalan nyaris tak henti. Terkadang, Bu. Maafkan jika kau sebut itu menangkis syukur. Dan semua itu biasa terlewati tanpa dia. Perasaan yang tak tahu apa namanya ini, Bu.

 

Ibu, anakmu bertemu dengan sebongkah perasaan yang cepat sekali membuatnya mengharubiru. Kadang seperti ditusuk sembilu. Kadang dibawa melayang ke langit ketujuh. Seperti itu, Bu. Dan anakmu masih belum tahu apa namanya perasaan itu.

Bu, anakmu sudah berkali mencari tahu. Bertanya ke sana ke mari. Berkesimpulan. Beranalisis. Berkeputusan. Bernegosiasi. Sudah, Bu. Tapi belum juga anakmu tahu jawabannya.

Bu, perasaan ini sudah ditanyakan ke setiap desah angin yang menyapa daratan setiap lepas malam. Perasaan ini sudah diserahkan pada pelukis langit yang merona tanpa celah dalam raya. Tapi, tetap saja anakmu tak tahu juga jawabannya.

Bu, kalau ingat pesanmu tentang kepercayaan, perasaan itu membuat anakmu kehilangan rasa percaya. Perasaan itu membuat anakmu lelah untuk bertukar kisah dan mendengar berupa-rupa sanggah. Lelah.

Perasaan itu, Bu, membuat anakmu ingin diam menutup rapat pintu kamarnya lekat-lekat sampai begitu erat hingga tak ada secelah pun untuk tikus mengerat. Anakmu memilih mengerjakan hal-hal yang sama sekali tak berkaitan. Untuk mengalihkannya. Tentu saja, Bu. Perasaan itu membuat anakmu kehilangan daya untuk bercerita. Kehilangan sukma rasa percaya.

 

Tidak ada yang mengerti, Bu. Begitu pikir anakmu. Tidak ada satu pun yang mengerti bagaimana perasaan itu menjadi sedemikian menganggu. Tidak ada yang paham, Bu. Semua usaha pencarian jawaban atas nama perasaan itu dinilai percuma. Anakmu tidak punya cukup ilmu untuk menjawabnya. Juga orang-orang itu yang tak punya cukup ilmu atas anakmu. Orang-orang yang melihat anakmu dari seberang lautan meski menggunakan teropong.

 

Juga Ibu.

 

Ibu, sebenarnya perasaan apa itu?

Setiap kali anakmu bertanya setiap itu pula ia tak benar-benar ingin tahu jawabannya.

Anakmu hanya ingin diam, Bu. Boleh ya?

 

Perasaan itu yang menyuruh anakmu diam. Tak ingin lagi bergerak untuk mencari tahu jawabannya atau sekadar bertindak biasa dan seolah-olah melupakannya. Bu, anakmu sudah lelah bertanya, sudah lelah menerka. Anakmu sudah tidak mau lagi membicarakannya.

 

Bu, jika setelah ini anakmu bertanya lagi nama perasaan ini. Pukul saja, Bu. Pukul sekeras-kerasnya sampai anakmu teriak dan kembali diam.

 

Bu, jika anakmu bertanya lagi. Suruh anakmu mengambil wudu lalu ajak ia menemui-Nya dalam sujud yang kau ajarkan atas tuntunan nabimu. Barangkali anakmu bisa tenang dan tak akan bertanya lagi. Barangkali, Bu. Barangkali.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s