Sepatu dan Hujan

Aku tidak tahu sejak kapan aku begitu melankolis. Apalagi tentang hujan. Beberapa kali aku kehujanan. Sepatuku kotor karena lumpur yang dan hambar berbaur. Sepatuku basah. Dan sepertinya, hatiku juga. Yang aku tahu, ada punya pilihan tentang sepatu yang kotor itu. Mencuci dan membersihkannya. Atau membiarkan kotor begitu saja. Apapun pilihannya aku tetap harus menunggunya menjadi kering. Untuk kembali menggunakannya. Aku tidak tahu sejak kapan aku menjadi begitu melankolis. Pun ketika aku tersadar sepatu ini telah kering. Sekering langit yang tak lagi menawarkan hujan. Dan aku tak pernah merasa memilih. Dan tak memilih itu sama saja membiarkannya kotor. Lalu aku memakai sepatu yang kering itu. Dengan bercik kotor yang mengering. Kapan aku membersihkannya? Menunggu hujankah? Aku tidak tahu sejak kapan aku menjadi begitu melankolis. Mungkin, sejak sepatu ini belum bertemu denganmu. Sejak hujan terlanjur mengalirkan basah. Tanpa penjelasan. Baiklah. Tak masalah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s