nukilan #17

Pagi ini ada deru-deru aneh yang berdesing di sekujur telinga. Membentuk sebuah medan deru yang hanya hingar justru ketika datang hening. “Aku boleh pergi, Bu?” Lantas mata ibu siap menasihati. Aih, nasihat macam apa lagi. Angin, matahari, tanah, danau, hujan, bintang, awan, laut, kilat, batu: semuanya tak ada yang bisa membantu. Apalagi daun yang jatuh itu. Tapi, Ibu bilang daun jatuh bukan karena angin. “Daun jatuh karena memang sudah saatnya jatuh.” Lalu aku bertanya kenapa. Katanya, daun yang jatuh itu sudah berganti peran. Ketika muda, sang daun bertugas menyiapkan oksigen untuk bumi dan seisinya. Dengan fotosintesis tentunya. Ketika tua, yang bisa dilakukannya hanya jatuh. Besentuh sendu dengan tanah untuk membusuk di dalamnya. Bukan tanpa makna. Daun yang busuk itu membentuk humus yang kemudian menyuburkan tanah dan daun-daun baru. “Daun punya waktu untuk jatuh. Manusia punya waktu untuk pergi. Kamu boleh pergi ke mana saja. Tapi satu pesan Ibu: jangan pernah pergi untuk lari.” Pagi ini pun selesai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s