nukilan #19

“Aku lelah.”

“Berhentilah.”

“Aku hanya berpikir, bagaimana aku bisa berhenti jika matahari dan bulan masih terus berputar. Orang-orang hebat itu bilang, berhenti bergerak sama saja mempercepat kematian.”

“Tapi bukan berarti kau bergerak tanpa arah.”

“Bahkan aku tidak tahu bagaimana aku mendefinisikan arah itu sendiri.”

“Dengan bertanya pada dirimu sendiri.”

“Bertanya pada diri?”

Aku menghela napas. Sengaja membiarkan pertanyaan itu menggantung di langit-langit jiwanya yang polos. Ayolah, Kecil, dewasalah. Terus bergerak bukan solusi dari semua masalah. Kamu perlu berhenti untuk berpikir. Untuk kemudian berjalan lagi.

“Talha.” kamu memanggil namaku pelan. Satu-satunya bagian yang paling kusuka ketika berbincang denganmu adalah bagian ini, saat kau memanggil namaku dengan rasa butuh perlindungan.

“Ya?”

“Pernah mendengar cerita serigala yang beradu lari dengan kura-kura?”

“Pernah.”

“Mengapa kura-kura bisa menang? Bukankah serigala berlari lebih cepat?”

Dia masih memandang lurus ke depan. Sama sekali tak menatap lawan bicaranya, aku. Aku tahu, Taffy tahu detail cerita ini. Dia lebih tahu dari siapa pun karena gemar menceritakannya pada anak-anak sekitar rumah. Namun, aku juga tahu, dia butuh penjelasan lebih dari yang dia sudah tahu. Dia butuh pembenaran atas hal-hal yang sudah dia tahu, tapi belum sepenuhnya dia yakini.

“Jelas serigala lebih cepat larinya. Semangatnya juga lebih hebat. Serigala bisa melompat lebih tinggi, melesat jauh meninggalkan kura-kura. Tapi di tengah jalan serigala bertemu kijang. Dia pun tergoda menangkap kijang. Serigala berusaha sepenuh hati menangkap kijang kemudian menyantapnya. Serigala puas, tapi kemudian dia sadar dia sudah tak lagi berjalan di jalurnya. Dan kura-kura dengan kelambatan dan ketenangannya sudah mencapai garis finish.”

Taffy masih menatap lurus ke depan.

“Jangan menjadi serigala ini. Menyibukkan diri. Menyia-nyiakan waktu. Lupa dengan tujuan yang sebenarnya.”

Taffy masih diam.

“Kura-kura bisa menang karena fokus pada tujuan?”

“Ya.”

“Tak penting dia berjalan cepat atau lambat?”

“Ya.”

“Dan tidak menyibukkan diri dengan hal-hal yang tak sesuai dengan tujuan itu.”

“Ya.”

“Ya.” Taffy menoleh. “Apa tujuan hidupmu, Talha?”

Aku tersentak. Setelah sekian lama, akhirnya kau menyadari bahwa aku pun hidup sepertimu. Dan pertanyaan itu, menjadikan segala cerita panjang ini dimulai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s