nukilan #20

“Aku menyerah.”

“Haha.”

“Kenapa tertawa?”

“Karena aku tidak pernah tahu apa yang sebenarnya ingin kamu bicarakan, Kecil.” Talha membuang napas. Pernyataan ini, setelah bertahun menggelayuti batinnya, akhirnya terucap juga. Protes hati yang hanya dijadikan tong.

“Kamu keberatan ya?” ucap Taffy getir. Hatinya mereka-reka atas sikap temannya yang tak biasa.

“Aku tidak pernah keberatan diajak berbincang apa saja. Hanya terkadang, aku merasa asing dengan kebersamaan kita.”

Dan Taffy sama sekali tidak peduli.

“Asalkan menyerah itu membuatmu berserah. Tak masalah.” ucap Talha bijak, mencoba mengalah menggiring pembicaraan ke topik semula.

“Bukankah mencintai itu melepaskan?”

“Bukankah itu konsep yang selama ini kamu yakini, kenapa mempertanyakannya lagi?”

“Jika melepaskan adalah kebebasan tersempit, aku sedang terjepit di dalam parit yang kubuat sendiri.”

 

“Kamu tidak perlu melepaskan.”

Taffy terkesiap. Matanya mengerjap-ngerjap cepat. Biji matanya menyorot tajam sosok yang bicara di sampingnya. Menatap lekat setiap lekuk wajahnya.

“Kalau melepaskan membuatmu sakit, berarti itu bukan cara terbaik. Kamu tak perlu memaksakan.”

“Lantas? Eksekusi cinta jenis apa yang benar?”

“Bukan melepaskan, tapi jangan digenggam.” Talha membuka genggaman tangannya. Meletakkannya di hadapan wajah Taffy, kemudian tersenyum. “Jika cinta itu memang ada, dia akan tetap ada di sana. Tidak akan ke mana-mana.”

“Kalau ternyata terbang?”

“Setidaknya kamu tidak memaksanya. Cinta itu pergi atas maunya sendiri. Tidak ada yang meminta. Menjadi jawaban bahwa sebenarnya sesuatu yang kamu sebut cinta itu ternyata tidak ada.”

Air mata Taffy menetes perlahan.

“Talha!” teriak Taffy bersemangat.

“Apa?”

“Kenapa kamu menyebalkan sekali. Terima kasih! Aku pulang ya! Sekali lagi terima kasih!”

Selalu begitu. Taffy akan pulang setelah mendapatkan jawaban atas pertanyaannya. Dan tak pernah sekali pun peduli bagaimana perasaannya. Baiklah.

 

Taffy melangkah tanjap. Sesekali wajahnya menungging senyum. Di sela tapaknya dia sengaja berhenti untuk membuka genggaman tangannya. “Bukan dilepas, tapi jangan digenggam. Kalau memang cinta itu ada, dia tidak akan ke mana-mana.” bisiknya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s