nukilan #23

“Kak, besok kita puasa yah?”

“Hm, belum tahu, sayang, kita nunggu pengumuman pemerintah dulu.”

“Kok nunggu pemerintah? Kenapa gak dari Allah?”

Taffy terdiam. Dicondongkannya tubuhnya ke arah anak kecil itu. Anugerah yang dikirim Allah untuk mengalihkan ketidakmengertiannya. Anak itu sempurna menyita perhatiannya sekarang. Barangkali lelaki kecil itu sedang mendapat peran dari langit untuk menjadi obat baginya. Obat yang mengalihkannya pada berpotong-potong kebaikan.

Ketika kamu mengingatnya, lakukankah satu buah kebaikan. Barangkali itu eksekusi cinta yang benar.

Ah, kalimat itu. Terasa begitu mendamai dalam serdadu taman perdu.

“Kakak kok gak jawab?” laki-laki kecil itu menarik-narik ujung baju Taffy. Masih penasaran dengan pertanyaannya.

Taffy terperangah. Bingung juga bagaimana dia harus menjawab.

“Hm, kan Allah gak ngomong langsung sama kita. Allah cuma kasih tanda-tanda dan penjelasan. Puasa itu baru mulai kalau ada bulan. Sekarang pemerintah sedang lihat bulan sudah ada apa belum.”

“Allah kan yang menciptakan kita. Kenapa Allah gak ngomong langsung sama kita, Kak?”

Taffy menghela napas. Lalu tersenyum bangga. Dia mengelus kepala anak kecil itu dengan rasa sayang. Dia kemudian mengambil kue cokelat yang disajikan di atas meja.

“Karena Allah berbeda dengan kita. Hm, coba lihat cokelat ini. Siapa yang buat?”

“Ibu.”

“Bisa gak ibu ngobrol sama cokelat?”

Si kecil menggeleng cepat.

“Kenapa?”

“Karena cokelat gak bisa ngomong kaya ibu.”

“Iya, karena ibu bukan cokelat dan cokelat bukan ibu. Yang menciptakan dan yang diciptakan itu berbeda. Allah juga begitu. Allah berbeda dengan makhluknya.

Makanya, Allah mengutus Nabi Muhammad untuk menyampaikan perintah-Nya kepada manusia.”

“Tabik bisa ketemu Allah gak?”

“Bisa. Asalkan Tabik selalu berbuat baik, berbakti pada orangtua, dan menaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Tabik bisa ketemu Allah di surga nanti.”

Tabik tidak bertanya lagi. Dia berlari-lari kecil menuju teman-teman seusianya. Bermain dan menikmati masa kecilnya.

“Semoga ini memang eksekusi cinta yang benar.” Taffy tersenyum di dalam hati.

Selamat datang, Ramadan. Selamat datang, Bulan Kebaikan. Semoga segala laku, lisan, dan tulisan selanjutnya senantiasa bernilai kebaikan. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s