Ketika Rafa Marah

Nama anak itu Rafa. Kelas 3 Sekolah Dasar. Sekitar sepuluh tahunan. Dia baru hadir di hari kedua. Ketika wacana mengajaknya turut ikut Pesantren Ramadan kali ini, terdengar sepotong suara dari anak-anak. “Jangan, dia kan aneh.” entah celutuk siapa.

Semenjak kedatangannya, yang kulihat hanya sempurna. Seorang anak yang paling aktif. Selalu menjawab pertanyaan, memperhatikan, dan takzim mendengarkan. Di antara teman laki-laki yang lain, dialah yang paling khusyuk salatnya. Selalu bangga karena mendapat hadiah stiker karena kerapiannya. Dia pula anak paling ekspresif setiap kali aku mendendangkan cerita. Aku tertawa, dia hahaha. Aku memekik, dia terkesiap. Aku berkisah haru, dia mengharu biru. Aku mengungkap keajaiban, dia tercengang penuh keheranan. Bukan main. Sungguh, bukan main anak ini.

Hari ini, Rafa seperti hari-hari biasanya. Selalu bersemangat. Dia mengangkat tangan, katanya ingin menyanyikan lagi “Naik Delman”. Berkolaborasi dengan Raihan yang antusias ingin jungkir balik. Rafa bernyanyi lantang. Sampai satu lagu habis dan aku tak sadar bahwa dia mengulang lagi dari awal.

“Teeeeet!” kataku dengan maksud memberi tanda untuk Raihan memulai jungkir baliknya. Sontak, seluruh anak mengikutiku. Dan Rafa, yang ternyata masih melanjutkan lagunya seolah dihentikan mendadak.

Sekejap dia berlari kencang ke luar ruangan. Kencang. Sangat kencang.

Dia tersudut di ujung gang. Raihan dan Mifta yang menyusulnya mengaku mendapat ancaman baku tonjok jika mendekat. Ada apa ini?

Sontak seluruh anak riuh dengan rasa penasaran masing-masing. Menonton Rafa bermata merah yang geram karena marah. Ah, marahkah ia? Aku meminta anak-anak kembali ke ruangan. Membiarkanku berdua dengan bocah sempurna itu. Karena aku merasa bersalah telah (tidak sengaja) menghentikan lagunya.

“Kenapa?” kataku.

Rafa membuang muka. Tak mau disentuh.

“Aku sudah tidak peduli!” katanya sambil melempar nametag kebanggannya yang tertempel banyak stiker.

Aku membuang napas.

“Maafin, Kaka dan teman-teman ya. Rafa kesal ya karena tadi belum selesai nyanyi?”

Dia diam. Wajahnya geram.

“Kaka pikir Rafa sudah selesai dan waktunya Raihan jungkir balik. Coba sini duduk.”

Aku memintanya jongkok. Ingat kata Pak Ustaz waktu kukecil dulu, katanya kalau marahnya sedang berdiri. Duduk bisa sedikit mengobati.

Aku memegang kedua tangannya yang menggenggam.

“Kamu tidak perlu tahu! Ini rahasiaku!”

Rafa sedikit membuka genggamannya dan aku melihat beberapa buah batu kecil di sana. Jujur, saat itu aku bingung bagaimana harus bersikap. Aku dikejutkan oleh kalimat yang dikeluarkannya. Bagaimana pula anak sekecil itu mengeluarkan gugus kalimat yang sedemikian lengkap. Kamu suka nonton sinetron, ya? batinku.

“Tak boleh seorang pun tahu rahasia ini selain aku!” katanya lagi. Kali ini dengan menyembunyikan genggaman tangannya ke belakang.

“Ya. Simpan rahasia itu.”

“Rafa kan anak hebat. Maafkan kaka dan teman-teman ya?”

Dia mengangguk.

“Malu.”

Aku memegang wajahnya kemudian menatap matanya.

“Maafin kaka yah. Rafa gak perlu malu.”

Dia mengangguk kecil.

“Eh, Rafa tahu Nabi Muhammad, kan? Pernah denger cerita Perang Uhud gak?”

“Enggak.”

“Jadi, di Perang Uhud, ada paman Nabi Muhammad dibunuh oleh kaum kafir Quraisy. Tahu gak, setelah dibunuh, jazad pamannya itu dipotong-potong!”

Rafa mengerjap-ngerjap. Tertarik.

“Melihat itu, Nabi Muhammad marah sekali. Bayangin dong, Rafa, betapa marahnya Nabi Muhammad saat itu. Nah, saat itulah turun firman Allah. Rafa tahu gimana isinya?”

“Gak tahu.”

“Firman Allah itu, intinya Nabi Muhammad boleh membalas sakit hatinya, tetapi jika bersabar sungguh lebih baik. Lebih mulia. Dan Nabi Muhammad memilih memaafkan pembunuhnya. Nabi Muhammad keren gak?”

“Keren.”

“Rafa mau meneladani sifat beliau?”

Dia mengangguk. Wajah marahnya sedikit menguap. Alhamdulillah.

Aku kemudian mengajaknya kembali ke ruangan. Dia mau. Sesekali ia takut melangkah dan menilik genggaman di tangannya.

“Kaka jalan duluan.” katanya.

“Hah? Kenapa?”

“Pokoknya kaka jalan duluan.”

“Iya, sebentar, deh. Rafa bener sudah memaafkan kaka dan teman-teman, kan?”

“Iya.”

“Coba, sekarang Rafa bilang ikutin kaka.”

‘Bismillahirrahmanirrahim’

‘Aku’

‘sudah’

‘memaafkan’

‘kakak-kakak dan teman-teman’

“Sip. Oke. Kaka jalan duluan.”

Aku pun berjalan beberapa meter di depannya. Menjelang pintu ruangan. Rafa melempar batu di tangannya keras kemudian sembunyi di belakang mobil yang terparkir. Aku terkejut.

“Lho? Ayo.”

“Tak akan kubiarkan seorang pun melihatku!” kata.

Ya Allah. Ini anak belajar ngomong dari mana? -__-”

“Tidak akan terjadi apa-apa, Rafa. Semuanya sudah baik-baik saja.”

Tak lama, Rafa pun kembali di antara teman-temannya. Dia kusuruh menggambar. Menceritakan semua perasaannya hari ini. Aku pikir, dia akan menggambar benang kusut atau menulis kekecewaannya. Ternyata yang dia gambar banyak mobil yang di atasnya ada banyak awan. Entah maksudnya.

“Sudah selesai? Eh, Sabtu besok, kita disuruh nunjukin penampilan lho. Rafa bisa bergabung sama kelompok Rafa untuk siap-siap.”

Tiba-tiba. Wajah polos itu tertawa lebar.

“Aku tahu, Kak mau tampil apa?”

Aku mengernyitkan dahi. Kenapa tiba-tiba dia jadi senang begini?

Rafa kemudian memeragakan satu gerakan. Ah, ya. Aku setuju. Dia pun lekas bergabung ke kelompoknya. Bernyanyi. Tertawa. Seperti tidak terjadi apa-apa.

Lagi-lagi tentang memaafkan dan melupakan.

Oh. Anak-anak! Huh! 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s