nukilan #25

“Akhirnya aku bisa melakukannya.” katamu.

“Selamat ya. Bagaimana rasanya?”

“Tidak sedih, tapi tak bisa berhenti mengeluarkan air mata.”

“Seperti ibu Musa setelah menghanyutkan anaknya ke sungai?”

Tangisannya menderas. Taffy mengangguk-anggukan kepalanya cepat.

“Tepat! Dan kepercayaan telah mengalahkan ketakutan. Semoga Allah menjaga. Semoga Allah menjaga. Semoga Allah menjaga.”

Aku diam. Taffy masih menangis. Menderas. Menderas. Lalu membuang napas.

“Apa yang membuatmu bisa melakukannya?”

“Karena aku sudah percaya. Aku tidak ingin mengganggunya, merepotkannya, dan menyita pikirannya. Dia dalam bahaya jika terus aku bawa.”

“Kenapa?”

Dia tidak menjawab aku yang (sebenarnya) tidak butuh jawabannya.

“Bagaimana soal kesepakatan?”

“Kami tidak akan pernah bisa sepakat, harus ada yang menjadi jahat. Biar sama-sama selamat. Dunia akhirat.”

“Baiklah. Lebih baik jauh tapi saling mendoakan, daripada dekat, tapi tersiksa oleh rasa yang mencekat.”

Taffy tersenyum. “Bisa jadi, Sobat.” katanya. mulai riang.

“Sekarang giliran aku yang tidak percaya.”

“Tidak percaya apa?”

“Bagaimana bisa kau melakukan semuanya. Sedalam itukah?”

“Mungkin”

Aku mendesah. Harapanku berakhir sudah.

Advertisements

One thought on “nukilan #25

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s