Next Mission: Dongeng Tegal

“Dan kubisa dengan radarku menemukanmu….”

Kemarin sore, memenuhi undangan Kak Tedi dari Kampung Dongeng Poci Tegal, sampailah saya di gerbang kampus Universitas Pancasakti Tegal. Tempat kami janjian. Sayangnya, saya tak menemukan satu orang pun yang saya kenal di situ. Pasalnya, saya datang terlambat dan kehabisan pulsa. Sempat panik karena sms yang saya kirimkan tidak berbalas. Harus ke mana saya? Saya bahkan tidak tahu nama acaranya, bagaimana bisa bertanya. Lalalala.

Sore itu, pertama kalinya saya keluar rumah semenjak menginjakan kaki ke Tegal. Sudah banyak yang berubah dengan kota kecilku, ternyata. Lalu semburat rasa rindu menggebu itu takut datang. Akankah Tegal menjadi kota yang akan sangat kurindukan lagi?

Akhirnya, saya pun memantapkan hati untuk melangkah saja. Memasuki kawasan kampus yang juga asing. Hm, saya pernah ke sana sekali saat SMA, dan lupa, tentu saja, haha. Lalu, mendadak saya ingat cerita Perahu Kertas yang bisa menemukan seseorang dengan radar. Dan berjalanlah dengan hati, sedikit iseng, sesekali menutup mata lalu berbelok. Yah, saya seperti menggunakan radar neptunus buat mencari kerumunan anak-anak. Dan ketemu! Yey 😀

“Kak Suci mau mendongeng?” kata Kak Tedi

“Hm, gak, saya mau lihat dulu.”

Ada suasana yang berbeda antara anak-anak Tegal dan anak-anak Depok/Jakarta. Entah apa, tapi saya merasa ada yang lain yang sampai sekarang masih saya raba. Membelalaklah mata saya ketika dua pendongeng cilik binaan Kak Tedi menunjukkan aksinya. Nama anak itu Zaza (TK) dan Raisa (kelas 4 SD). Keduanya mendongeng dengan gaya khas bocah yang penuh gairah. Membuat semua anak sumringah. Selanjutnya, dongeng bijak Kak Tedi memberikan pesan sederhana tentang pemahaman atas baju lebaran.

Menarik. Satu hal yang saya catat adalah, ketika sepotong pertanyaan “Siapa mau jadi anak hebat?” terlontarkan. Ada sepotong jawaban dari seorang anak.

“Nyong!”

Membuat saya sontak tertawa. Hahaha. Ah, Ya! Kiye Tegal!

Lalu sekelebat pikiran gila muncul, agaknya keren jika mendongeng pakai bahasa Tegal. Bisa jadi mission saya selanjutnya. Karena bahasa adalah budaya. Dan melalui budaya sebuah pesan akan menjadi menggelora!

Yey, terima kasih, terima kasih!

Hal terkeren dari sebuah perjalanan adalah mengetahui perjalanan selanjutnya!

Di perjalanan pulang, di dalam mobil Ibu Zaza, mengalunlah lagu Perahu Kertas. Seperti mengembalikan ke awal cerita.

Aih, pas sekali. Saya jadi senyum-senyum sendiri. Mendengarnya, jadi agak melow-melow melting gimanaaa gitu! Hehehe

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s