nukilan #26

Laki-laki itu berjalan cepat di depannya. Angkuh meluruh seperti sepeda tanpa kayuh. Riuh angin meresapi sosok yang menyeluruh. Menjadikannya hanya berwajah separuh. Dan menyembunyikan separuhnya lagi ke kantong bajunya yang mulai lusuh. Oleh peluh. Ah, keluh. Betapa kau sempurna merengkuh.

“Kalau nengok berarti suka. Kalau nengok berarti suka.” katanya dalam hati. Membuat lelucon sendiri yang dengan sadar dia pahami tak akan sedikit pun mengobati.

“Satu…Dua…Ti…” hitungnya masih di dalam hati.

“Aaaah, ayo dong! Masa gak nengok sama sekali?” gerutunya. Mulai kesal.

Perempuan itu menghembuskan napas tiba-tiba. Sepotong suara dari balik jiwanya bertanya, sedang apa kau?

“Menciptakan permainan. Memainkannya sendiri. Kemudian kalah.” jawabnya.

Lantas?

“Yasudah. Mau bagaimana lagi. Tidak ada yang bisa menjamin hasil permainan menjadi ketetapan.”

Lalu sepotong jiwanya itu tertawa keras. Sangat keras.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s