nukilan #27

“Hari ini aku akan menemanimu seharian!” ujar Taffy kepada sahabat kecilnya. Hari ini dia memutuskan untuk menjeda segala pekerjaan yang mengganggunya belakangan ini. Bertemu Tan menjadi moment langka yang tak boleh disia-siakan.

Keduanya lantas berjalan, bercengkerama, lantas bertukar kisah. Taffy terus mengikuti langkah sahabatnya. Mencetak tugas kuliah, mengumpulkannya, meminta tanda tangan dosen, menuju bidang kesekretariatan, kemudian membeli majalah. Hari itu Tan mengajaknya membeli dua batang cokelat kemudian mengirimkan satu di antaranya pada sebuah alamat. Saat tak sengaja mengintip nama pengirim, Taffy tak melihat Tan menuliskan namanya. Aih, ingin sekali bertanya lebih, tapi urung. Taffy memutuskan untuk tak banyak tanya hari ini. Dia ingin sempurna menemani karibnya yang mendadak berubah menjadi siluman saking jarang kelihatannya.

Selesai dengan aktivitasnya, menjelang sore Tan dan Taffy berjalan pulang. Tidak seperti Talha yang menyenangkan diajak bicara sambil jalan, bersama Tan dia tak bisa melakukan demikian. Karena saat Tan berlajan, ada banyak hal yang dipikirkan kepalanya. Dan ketika dia duduk, segala hal di pikirannya akan terhenti, berganti perhatian serius untuk orang yang menemaninya duduk.

“Eh, gimana kalau kita makan cokelat di pinggir danau itu?” ajak Tan saat mereka melewati dedanauan yang mengalirkan kedamaian.

“Tan. Kamu gak lagi kenapa-kenapa, kan?” Taffy seketika menghentikan langkah kemudian menatap sahabatnya lama. Semenjak pertemanannya dengan Tan, tak pernah sekalipun dia mau diajak bersenda-sendu di pinggir danau. Tan menjadi orang yang amat segan melakukan adegan duduk-duduk di pinggir danau. Banyak setan, katanya.

“Hehe. Sekali-kali. Kamu kan suka adegan begituan. Itung-itung ucapan terima kasih lah udah nemenin aku seharian ini.”

Taffy mengangguk cepat. Duduk di pinggir danau adalah hal paling menyenangkan baginya. Detik itu pun, Taffy langsung ambil situasi. Menceritakan segala hal di kehidupannya dengan gaya meletup-letup yang khas. Dari cerita sales kosmetik yang dibikin sebel atas alasan Taffy memilih produk kecantikannya: karena warna kemasannya sampai cerita hatinya yg luluh pd piaraan barunya. Semua Taffy ceritakan dengan detail. Dan Tan, seperti biasa menjadi pendengarnya yang setia.

“Dari kemarin aku pengen banget makan cokelat, Taff. Eh, makannya malah sama kamu. Di pinggir danau lagi. Bukan gue banget gak sih. Haha.” kata Tan setelah Taffy selesai dengan ceritanya.

Taffy diam. Bingung mau berkomentar apa.

“Aku yang pengen cokelat, yang dikasih malah orang lain. Hehe.”

Taffy terkesiap. Terekam ulang adegan Tan mengirimkan cokelat ke sebuah alamat dari seseorang yang bukan dia!

“Tan?”

Yang dipanggil masih menghabiskan cokelat sembari menatap danau di depannya dengan nanar. Membuat Taffy seolah melihat sisi lain dari sahabatnya yang tomboy.

“Kamu lagi jatuh cinta ya?” kata Taffy girang. “Cieee, Taaan. Aaaa, siaapaaa? Cerita dong, cerita dong ceritaaa!”

“Apa sih. Nih, abisin!” Tan melempar sisa cokelat di tangannya.

“Aha’! Mendadak mood menulis gue naik!”

“Taffy!” Tan melotot. Mencengkeram lengan sahabatnya keras.

“Aaw! Moodku naik karena makan cokelaaat koook!”

“Awas ya kamu kalau macam-macam!”

Taffy tertawa lepas kemudian kembali menikmati desir angin di pinggir danau yang menyegarkan. Kisah cinta. Bisa menimpa siapa saja ternyata. Tan, perempuan lebih mirip laki-laki itu, jatuh cinta!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s