Gagal Jadi Orang Menyebalkan

“Kenapa pulang? Kan ayah sudah bilang. Gak usah pulang. Kuliah kamu gimana?” itulah kalimat pertama ibu yang keluar saat menjemput saya di stasiun. Wuih, moment mencari-cari wajah ibu kemudian mencium tangannya di tengah budalan Tegal Arum itu selalu mengesankan.

“Hehe. Bolos, Bu.” jawab saya sekenanya. Bisa mati penasaran aku kalau gak pulang. Lanjut saya dalam hati.

Seharian itu saya merasa jadi orang paling menyebalkan sedunia. Bagaimana tidak, di tengah hiruk pikuk tugas yang menimpa mahasiswa semester tujuh dan berjibun amanah yang harus diselesaikan minggu ini saya malah pulang. “Bodo ah! Sekali-kali egois dikit gak papalah ya. Masa bodo sama semuanya. Pokoknya mau pulang seminggu. Matiin hape, gak mau komunikasi sama siapa pun!” tekad saya dalam hati. Seringkali saya merasa iri kepada orang-orang yang bisa menghilang begitu saja. Meninggalkan tugasnya, tak membalas pesan, tak angkat telepon, lantas bersikap biasa saja jika bertemu di lain waktu. Seakan orang yang direpotkan mudah sekali lupa.

Hari itu saya sudah bertekad kuat untuk jadi orang menyebalkan. Langkah saya didukung dengan mendapat tiket kereta yang dibeli malam sebelumnya. Ini langka, biasanya H-3 saja tiket sudah tak tersisa. Jadilah esok itu saya pulang setelah sebelumnya saya mencoba menyelesaikan tugas-tugas. Hm, tugas kelompok. Saya kerjakan semampu saya.

Di tengah perjalanan menuju kereta, saya bertemu dengan orang-orang yang mengingatkan saya pada tugas. Aih, menyebalkan sekali. Lantas muncul perasaan tak enak diri yang menjadi-jadi.

“Suci, besok ke kampus, kan? Aku pinjam….”

“Kayaknya kita perlu kumpul deh. Kapan bisa ketemu?”

“Kamu beneran mau pulang banget? Jangan becanda deh!”

Saya hanya menjawabnya dengan senyum jahil yang tak mengandung arti apa-apa. Belum lagi pesan yang datang dari orang-orang yang membutuhkan saya di minggu-minggu ini. Huah, beberapa nada terkesan marah. Tapi saya masih tak mau mengalah. “Bodo amaat! Gue mau pulang. Titik!”

Perasaan tak enak hati itu semakin menjadi ketika saya sadar telah tidak memenuhi beberapa janji. Ditambah, KRL yang saya naiki mogok karena angin kencang membuat kabel listrik putus dan kereta korslet. Gila! Setengah jam lebih orang-orang terjebak di dalam kereta yang mati lampu dan AC. Di luar hujan lebat! Mendadak merasa sedang dihukum Tuhan.

“Masa gak jadi pulang, sih?” rengek saya dalam hati.

Tapi ternyata, Tuhan masih berbaik hati. Kereta kembali berjalan dan saya bisa sampai ke Jakarta Kota 15 menit sebelum kereta Tegal Arum yang akan mengantar saya berangkat. Wuih. Dan orang-orang yang berteriak di dalam ponsel saya masih belum saya balas. Sampai kereta melaju saya sedikit bisa bernapas. “Oke, fix. Selamat jadi orang menyebalkan, Suci!”

Itu niat awal saya

Tapi toh, hape yang saya matikan kembali saya nyalakan. Pesan yang awalnya tak ingin saya balas, saya balas juga. Tugas yang tak ingin saya sentuh sama sekali, saya kerjakan juga. Dan amanah yang ingin saya telantarkan, pelan-pelan saya jalankan. Maka hari berikutnya pun menjadi hari permintaan maaf sedunia. Dan misi saya untuk jadi orang menyebalkan gagal total!

“Bersyukur berarti kamu masih dianggep, jadi dicariin kalau gak ada.” Hm, benar juga kata orang ini. Tak seharusnya saya pergi mendadak begini. Apalagi meninggalkan banyak hal yang belum pasti. Tapi terkadang, sesuatu yang mendesak memang mengharuskan kita meninggalkan beberapa hal. Hanya, niat menjadi orang menyebalkan itu yang salah. Toh, setelah saya pulang dan menjalani kehidupan di sini. Semuanya masih baik-baik saja. Tak seburuk yang saya pikirkan. Intinya, egois boleh, tapi tak perlu menjadi orang menyebalkan. Aih, Suci, gak ada niat yang agak baikan dikit apa?”

Saya mohon maaf kepada teman-teman yang terlanjur menerima sikap menyebalkan dari saya. Terutama teman satu kelompok saya. Meski merasa sudah mengerjakan tugas bagian saya, tetap saja saya merasa bersalah. Maaf yaaa 😦

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s