Bukan Kereta dan Stasiun

Mendadak, saya teringat sajak seorang teman. Tentang kereta dan stasiun.

Barangkali, seperti kereta dan stasiun, yang sepintas terlihat sepasang, tapi sebenarnya mereka bahkan tak pernah tahu kapan asap menjadi usang.

Stasiun berkata kepada kereta, “Aku menunggumu. Selalu menunggumu kapan saja kau mau datang.”

Kereta berkata kepada stasiun, “Aku akan datang. Aku akan datang meski tak tahu kapan. Karena kamu adalah tujuanku.”

Lalu ria canda membersamai mereka. Betapa senangnya stasiun ketika datang kereta. Betapa bahagianya kereta ketika menurunkan dan menaikkan penumpangnya di stasiun. Akhirnya mereka berjumpa.

Tapi, bukankah stasiun dan kereta tak pernah bersama selamanya? Kereta hanya singgah untuk kemudian pergi lagi.

Teman saya pun bersajak,

Betapa gagah stasiun ketika melepas kereta pergi. Ia rela hanya menjadi tempat singgah kereta, bukan rumah. Tapi stasiun tahu, tanpa dirinya, kereta tak memiliki tujuan.

Betapa gelisah kereta ketika tiba di stasiun. Ia tahu bahwa sebentar lagi ia harus pergi lagi, betapapun ia mencintai stasiun.

Galuh Sakti Bandini

Saya harap, analogi ini tak pernah terjadi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s