Hope

Hi, Bloggy. Sudah lama ya saya tidak menulis di sini. Malah banyak bernukil-nukil di catatan Facebook. Hm, kalau ada yang mau baca nukilan-nukilan selanjutnya buka saja Facebook saya, ya. (Ya, kan, kali aja ada yang mau baca, hehehe.)

Jadi sebenernya hari ini saya juga mau menulis nukilan lagi. Tapi gak tahu kenapa malah jadi ke sini. Kangen curhat sama Bloggy. Hihihi.

Hm, saya gak ke mana-mana. Di sini-sini saja, kok. (Ya, kan, kali aja ada yang nanya, hehehe.)

Pagi ini, saya sendirian, jadi melow deh. Ah, ya, soal judul di atas, ya. Hm…

Pagi ini harapan itu muncul lagi. Harapan yang seharusnya tidak boleh terlalu diharap-harapkan. Ah, kalau ingat, ingin menangis rasanya. Apa yang salah, ya? Entahlah.

Padahal, saya sudah berusaha sekuat tenaga (ini lebay, usaha saya biasa saja!) untuk menepis harapan-harapan semu itu. Saya tidak boleh terlalu berharap pada sepotong makhluk, bukan? Ah, tapi selalu ada pembenaran dalam diri untuk terus berharap kepada pencipta-Nya. Hanya, bias itu selalu ada. Setiap kali bertemu dengan sepotong makhluk itu, perasaan saya jadi balau (saya tidak mau menyebutnya kacau, apalagi galau). Rasanya seperti terpuaskan belanja keliling mall, tapi setelah itu bingung karena uang saya habis. Bagaimana saya melanjutkan hidup? Ah! Kontrol diri, kan? Praktiknya susah.

Jadilah ketika harapan itu kembali muncul, sangat sulit daya bedakan. Apakah saya berharap kepada Dia atau dia? Entah. Lagi-lagi, jawabannya hanya entah.

Bahkan, ketika saya ingin berbuat baik, kemudian perbuatan baik itu (ternyata) tersangkutpautkan dengan sepotong makhluk itu, saya belum benar bisa membedakan. Apakah niatan saya benar untuk Dia atau dia? Entah. Lagi-lagi jawabannya hanya entah.

Inginnya, saya pergi jauh saja. Menepis segala kesemuan yang melingkupi kehidupan saya. Tapi, toh, sekeras apa pun saya coba, takdir tetap saja menarik saya juga. Atau saya yang kurang keras mencoba? Entah. Lagi-lagi jawabannya hanya entah.

Semua itu membuat saya semakin lelah. Bukan lelah dengan perjalanan ini, bukan. Sama sekali bukan. Saya percaya ujungnya pasti baik, pasti. Allah sudah janji. Saya lelah dengan perasaan saya sendiri. Lelah menghapus air mata sendiri. Lelah dengan pikiran-pikiran sendiri. Lelah dengan harapan-harapan yang datang dan pergi tanpa permisi. Lelah berpura-pura baik-baik saja setiap sepotong makhluk itu berhadapan dengan diri. Lelah. Sungguh lelah. Ah, kenapa saya jadi menangis lagi?

Dan semua itu membuat saya semakin lemah. Mungkin karena saya sedang masa sensitif saja. Setiap bulan, saya selalu berpikir seperti itu. Entah sampai bulan keberapa. Entah. Lagi-lagi jawabannya hanya entah.

Hey! Boleh, kan, saya pergi?

 

 

Advertisements

3 thoughts on “Hope

  1. ga usah dicari, ci, jawabannya. You’ll be just fine without those answers 🙂 semangat, suci! btw, i do miss reading your blog 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s