Menyoal Pilpres: Tolong Jaga Anak Anda

Hai, Bloggy. Lama tak jumpa ya. Hari ini hari anak nasional dan saya punya pengalaman unik seputar dunia anak-anak yang (sedikit) berkaitan dengan pemilihan presiden yang baru saja selesai. Hm, saya tahu Bloggy tidak penasaran, tapi, seperti biasa, saya akan tetap cerita :p

Jadi begini, malam kemarin, tepat setelah imam masjid menutup tarawih dengan doa niat puasa bersama, juga tak lama KPU mengumumkan Bapak Joko Widodo sebagai presiden ketujuh Indonesia, anak-anak yang masih ramai berkeliaran di sekitar kampung, tiga di antaranya mengintip di balik pintu rumah saya.

“Mba, cerita dong.” minta Si A malu-malu. Dua teman lainnya, Si B dan Si C turut mengangguk, meminta anggukan setuju.

“Cerita apa?”

“Bentar ya, aku ambil buku dulu!” Si A segera berlari ke rumah yang kebetulan di depan rumah saya. Tak lama, mereka bertiga sudah duduk takzim. Siap mendengarkan.

Lantas, saya membacakan cerita yang mereka minta. Satu cerita saja, mereka harus segera tidur.

Tiba-tiba, adik saya keluar kamar membawa pertanyaan “Siapa yang mau jadi presiden?”

“Prabowo!” jawab Si A lantang.

“Prabowo!” Si B mengikuti, sama lantangnya.

“Bukannya Jokowi, ya?” kata Si C, yang notabenenya sudah sedikit lebih besar dari dua yang lain.

“Barusan pengumuman, yang menang Jokowi. Jadi sekarang presiden kita itu Jokowi.” saya mencoba menjelaskan.

“Gak mau, yah.” sangkal Si A.

“Hahaha. Kenapa?”

“Maunya Probowo aja.”

“Haduh. Tapi yang kepilih Jokowi.” kata saya lagi.

“Ya gak mau yah.”

Malam itu ditutup dengan canda tawa lantara Si A kekeh gak mau punya presiden Jokowi. Pasalnya, bapak Si A ini tim suksesnya Prabowo dan setiap hari ia selalu mendengar bapaknya berdiskusi tentang Prabowo dengan ibunya. Juga setia menonton saluran televisi yang menyajikan berita baik tentang Prabowo. Dan sebagainya. Dan sebagainya.

Saya pikir, “lelucon” ini akan berlalu seiring berjalannya waktu. Tapi ternyata tidak, pagi tadi celotehan itu kembali terdengar. Sampai sore juga masih sama. Bahkan ketika ditanya, “Kalau di sekolah ada soal siapa presiden kita, kamu jawab apa??”

“Prabowo. Titik.” katanya.

Sebegitukah efek pilpres tahun ini, ya?

Miris.

Saya tidak pernah tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Belum lagi kalau ingat kericuhan bapak Si A yang adu pendapat karena berbeda pilihan dengan tetangga samping rumah. Lalu Si A tetap berkiblat pada (pilihan) bapaknya. meski saya yakin seyakin-yakinnya, Si A yang belum genap enam tahun itu sama sekali tidak mengerti apa yang diperbuatnya. Tulisan ini tidak sedang menunjukkan siapa lebih baik dari siapa, juga tidak sedang mengkritisi demokrasi yang sedang banyak dibicarakan orang. Saya hanya prihatin dengan kondisi anak-anak itu. Anak-anak yang sama sekali belum mengerti dongeng-dongeng politik yang dikicaukan orang-orang berdasi di luar sana. Ini karena pengaruh di dalam rumah, tentu saja. Efek pola pengasuhan orangtua yang mungkin kurang mampu menyaring bahasan-bahasan yang cocok didengar anak-anaknya.

Hm, sebentar. Dalam hal ini saya belum cukup ilmu untuk bersikap bijak terkait pendidikan politik pada anak. Aih, apakah sudah mulai diperlukan pendidikan politik sejak dini? Semacam pendidikan sex sejak dini, begitu? Entah, entah. Sepertinya dunia semakin ruwet saja, ya. Tapi untuk soal semacam di atas, agaknya kita bisa sama-sama belajar untuk menjaga (calon) anak-anak kita.

Sekian.

Selamat Hari Anak Nasional

Selamatkan hari-hari anak dari segala bentuk keburukan :))

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s