Belajar Berjiwa Besar

Akhir-akhir ini saya sedang senang dengan frasa “jiwa besar” sampai-sampai sebuah cerita baru yang sedang saya “bangun” saya putuskan berjalan di atas tanah Desa Jiwa Besar (jangan penasaran ya, Bloggy, saya gak mau cerita :-p). Seandainya setiap orang di dunia ini bisa berjiwa besar, tentu tak selamanya dunia bergejolak atas tindak tak sabar. Iya, gak, sih?

Jiwa besar itu awalnya hanya sebatas kata sifat, tapi setelah mendapat prefiks ber-, jadi berjiwa besar, kelas katanya menjadi verba atau kata kerja. Artinya, membangunnya juga dengan usaha hehehe. Berjiwa besar mengajarkan kita banyak hal, untuk tak sekadar sabar, tetapi juga menyebar lapang sampai akar. Karena dalam hidup, kita tak selamanya bisa mengontrol sekitar. Kita kan hanya makhluk, mengontrol diri sendiri saja kadang susah, ya, Bloggy, apalagi mengontrol keadaan di sekitar kita.

Dan pada satu masa, ketika kita berada dalam pilihan sulit dalam menentukan sikap, berjiwa besar adalah kunci untuk bisa keluar dari sekat.

Ketika tak bisa meluruskan keadaan, ketika tak bisa memperbaiki citra diri, atau ketika sulit bergerak agar sama-sama selamat, gak perlu kesal, marah, dongkol, apalagi pura-pura bijaksana. Berjiwa besar saja. Ada Allah yang selalu tahu tanpa perlu kita menjelaskan, kok. Kita dan sekitar hanya makhluk, bukan?

Berjiwa besar itu melapangkan dada. Sangat berbeda dengan mengalah, apalagi kalah. Berjiwa besar itu menerima dengan takwa, bahwa segala takdir bermuara kepada-Nya. Dan segala doa tak akan sedikit pun dilewatkannya. Jadi, santai saja, ya 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s