Tentang Jilbab dan Akhlak

Hai, Bloggy, ada tulisan menarik nih dari seorang teman yang menanggapi celotehan teman-teman kantornya seputar obrolan tentang jilbab. Lumayan buat menambah refrensi pengetahuan kita kan (daripada baca curhatan saya mulu, wkwkwk) Selamat membaca, jangan lupa basmallahnya! ^^V

Jika menggunakan sudut pandang agama (baca: Islam) dalam memandang suatu hal, khususnya dalam perkara sosial kemasyarakatan, dianggap lebih rendah dibandingkan melihatnya dengan sudut pandang ilmu pengetahuan (baca: akal/rasio), Anda salah. Fakta membuktikan, dari sudut pandang keislaman yang berdasarkan wahyu (Alquran)lah ilmu pengetahuan modern di dunia ini berkembang pesat, baik dari astronomi hingga kedokteran, maupun dari perkara hukum hingga sosial.

Demikian pula dengan perkara jilbab. Jilbab merupakan perkara yang didasarkan atas wahyu di dalam Islam. Maka ketika Anda menilai baik atau buruk perkara jilbab dengan memaksakan sudut pandang ilmu pengetahuan, Anda sudah salah kaprah. Kebenaran yang didapatkan ilmu pengetahuan tidak bersifat final dan terus berubah seiring zaman. Apa yang dianggap baik oleh ilmu pengetahuan di saat ini belum tentu baik di saat mendatang karena ilmu pengetahuan bersifat dinamis, terus berproses seiring penemuan akal manusia yang terbatas. Berbeda dengan agama, kebenaran agama Islam bersifat final karena diturunkan langsung oleh pencipta alam semesta yaitu Allah SWT. Jadi, jika Anda tidak percaya wahyu dapat dijadikan sandaran kebenaran, saya bisa paham karena Anda bukanlah seorang  yang menggunakan akalnya secara benar layaknya ratusan ilmuan Barat yang menemukan kebenaran ilmiah di dalam Alquran.

Lagi pula saya juga tidak akan menyandingkan pemahaman Anda tentang buruknya jilbab sebagai sebuah “ilmu pengetahuan” . Pemahaman Anda tentang buruknya jilbab hanya opini individu yang berasal dari generalisasi sempit atas fenomena orang berjilbab tapi akhlaknya buruk. Jilbab itu sarana untuk menjadi bertaqwa dan bukan pernyataan kalau “saya sudah bertaqwa.” Jadi, kalau ada yang tidak berhasil dengan sarana itu, ya, salahin orangnya dong, masa salahin jilbabnya. Hehehe. Ada ribuan orang yang tidak baik kemudian berjilbab dan menjadi baik. Dan ada jutaan orang yang baik kemudian berjilbab dan semakin baik. Pada akhirnya, semua kembali pada siapa yang menilai, bukan? 🙂

ditulis oleh FIZ

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s