Terima kasih, Indonesia Quran Foundation (2)

Malam yang paling gelap adalah malam menjelang fajar. Kata-kata itu selalu mengalirkan semangat ketika saya dihadapkan pada sebuah permasalahan yang tak kunjung usai. Maka ketika kita merasa berada di sebuah malam yang paling gelap, sejatinya fajar akan segera datang. Dan seharusnya kita senang, bukan? Yayaya, manusia memang suka lupa kalau setelah malam panjang yang melelahkan selalu ada pagi yang segar.

Di mana pun saya berada, merangkul pagi Allah adalah hal paling istimewa bagi saya. Semoga kamu masih ingat soal ritual pagi yang saya kisahkah, ya. Ups, emang saya pernah cerita, ya? Ah, sudahlah. Intinya, saya akan sangat merindukan suasana pagi di asrama.

Ketika matahari mulai menggelanggang, sayup suara ayam berpadu dengan kicau burung yang ditambah dengan romansa gemiricik aliran sungai Ciliwung. Saya tidak akan pernah lupa ketika untuk pertama kalinya saya berdiri di balik pagar besi di lantai dua, merapalkan ayat sembari menatap langit. Lalu betapa tersentaknya saya ketika segala keindahan dan keperkasaan langit-Nya berbicara melalui lantunan ayat-ayat di Surat An-Naba. Maha Suci Allah, perasaan tenang itu tidak akan pernah saya lupa.

“Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan. Dan gunung-gunung sebagai pasak? Dan Kami menciptakan kamu berpasang-pasangan. Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat. Dan Kami menjadikan malam sebagai pakaian. Dan Kami menjadikan siang untuk mencari penghidupan.” (QS. An-Naba’: 6—11).

Kembali melanjutkan tulisan sebelumnya yang sempat terjeda. Ibu saya bilang, hal yang paling sulit dalam berusaha adalah mengubah kebiasaan. Di rumah, saya tidak biasa mendengar lantunan ayat suci Alquran, maka ketika saya mulai membaca rasanya begitu aneh. Jadi yang saya lakukan ketika ingin membaca Alquran ya bangun pagi-pagi buta lalu curi-curi membaca. Tidak, tidak, saya sama sekali tidak dilarang membaca Alquran. Ini hanya soal kebiasaan saja, mungkin kakek dan nenek saya dulu tidak mengajarkannya pada ayah ibu. Karena tidak terbiasa, melakukannya menjadi hal yang sangat aneh. Perlahan, ketika semasa kuliah mulai membiasakan diri, kebiasaan itu pun terbawa sampai ke rumah. Saya pun mulai nyaman beribadah di rumah sendiri. Alhamdulillah :’))

Nah, soal kebiasaan mengrapal ayat, itulah bekal terindah yang saya dapat dari IQF. Singkat cerita, meski ayat-ayat suci itu sangat susah masuk ke kepala saya. Sepertinya karena saya banyak maksiat, nih, Bloggy jadi Allah belum mempercayakan ayat-ayatnya singgah di otak saya. Sekali hapal, berkali-kali lupa, hiks T.T. Ini karena saya juga yang malas, sih. Huft! Berubahlah, Suciiiii! Saya mulai terbiasa memurajaah hapalan yang sangat sedikit itu di luar asrama.

Dan ketika pulang ke rumah, berkutat membersamai Alquran tidak lagi menjadi hal aneh bagi saya. Jadilah menjadi biasa kalau saya memasak sambil menendangkan surat, meski gak jauh-jauh dari An-Naba dan An-Nazi’aat, hehe. Atau ketika melakukan aktivitas rumah lainnya. Ternyata keluarga yang melihat juga biasa saja. Hehehe.

Kalau dibandingkan santri lain, saya jelas tidak ada apa-apanya. Tapi saya senang karena di sini saya memperoleh bekal kebiasaan yang bisa terus saya bawa ke mana-mana. Bagi saya, itu sudah sangat lebih dari cukup! Setidaknya, saya sudah tahu bagaimana dunia penghapal Quran dan kesehariannya, jadi bisa saya terapkan ke anak-anak saya nanti, kan? Hehehe #misiterselubung.

Sampai pada sebuah keputusan saya harus meninggalkan asrama dan pulang ke Tegal. Haha, terlalu pelik ketika harus diceritakan di sini, Bloggy. Intinya, saya pulang untuk keluarga saya. Mengabdikan diri pada keluarga sebelum menikah #asik. Oh, ya, kalau saya di rumah adik saya mulai ngaji bareng saya, seneng deh! Ayah sama ibu juga sempat melontarkan kata ingin belajar ngaji. Kakak saya juga suka ikut-ikut kalau saya lagi murajaah juz 30 (emang ada juz lain yang kamu hapal, Suci? #matasinis) Yayaya, saya baru hapal sebagian juz 30, sebagian ya belum semua. Tapi gak papa, yang Allah lihat kan prosesnya, yang penting gak boleh berhenti semangat, iya, kan, Bloggy? 😀

Hm, pada akhirnya saya hanya bisa berterima kasih kepada Allah swt. yang telah mengantarkan saya ke sini. Kepada orangtua yang selalu mendukung apa pun keputusan anaknya (kecuali nikah cepet kayaknya). Juga kepada segenap kru dan karyawan (#lhoh) Indonesia Quran Foundation serta santriwati yang senantiasa menginspirasi setiap hari. Ini kenapa jadi bikin kata pengantar lagi!

Saya tidak akan lupa, sungguh tidak akan pernah lupa pernah menjadi bagian dari kalian :’))

Doakan saya dapat beasiswa untuk kuliah lagi di UI ya, Bloggy, biar tahun depan bisa daftar IQF lagi! Setelah itu nikah deh, #ups! ^^V

Pagi yang tak terlupa, matahari mulai menyapa

050914 6:39

Advertisements

5 thoughts on “Terima kasih, Indonesia Quran Foundation (2)

  1. Waaahh you back Home 🙂
    Senangnya bisa berbagi manfaat di kampung halaman tercinta,,
    Doakan aku segera menyusul lulus 🙂 Biar bisa cepet mbangun Tegal juga haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s