Pergi

hai Bloggy. Selamat pagi.
Ketika ditanya apa beda pagi di Tegal dan Depok, mungkin jenis minuman bisa menjawabnya. Di Tegal, setiap pagi ibu menyiapkan secangkir teh wasgitel (wangi, sepet, legi, kentel) yang baru saya minum setelah agak siang, dicampur es batu. Di sini saya mengisi perut pertama kali dengan segelas es cappucino. Terbayang omelan ibu, “Masih pagi, itu tidak baik buat perut dan jantungmu” ya ya ya.
Sekarang saya sudah di Depok. Tidur sendiri di ruangan besar, sepi, dan sedikit melelahkan. Saya merasa tubuh saya begitu lelah begitu sampai sini, hingga setiap pagi saya selalu ingin tidur lagi. Ah, betapa buruknya.
Tapi benar, semua badan saya terasa pegal sebelum saya melalukan banyak hal. Ini aneh, atau karena akumulasi kegiatan saya sebelum ini? Jadi, begitu saya sendiri mulai terasa letihnya? Begitukah?
Entah.
Kemarin ibu saya menelepon dan bertanya apakah saya sakit? Hanya sedikit pusing dan lelah, jawab saya. Hm, ibu saya tidak pernah menahan saya untuk tetap di rumah. Tapi justru itu yanv membuat saya betah di rumah. Beliau selalu bilang, “Pergilah ke mana saja kamu mau, Nak. Gapai cita-citamu.”
Tapi saya pikir, hal tersulit soal pergi adalah pergi dari orang yang menyuruh kita pergi. Iya gak sih?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s