Terus Menulis Cinta (kata terakhir baru ditambahkan setelah selesai nulis :D)

Bloggy, sejak kecil saya senang sekali mendengarkan ceramah di masjid. Sampai-sampai saya pernah berandai-andai ingin jadi anaknya ustaz hahaha. Setelah besar, sempet sih kepikiran pengen punya suami ustaz ahaha. Dulu, saya paling rajin mengisi Buku Ramadan, sekaligus mencatat isi ceramah yang dibacakan Pak Ustaz. Saking semangatnya, sampai-sampai sampul buku itu juga dipenuhi ringkasan ceramah yang saya catat, dari dulu saya sudah senang mencatat kata-kata baik. Dan saya percaya kalau semua yang dikatakan ustaz itu baik jadi saya catat semuanya 😀

Bicara soal ceramah, beberapa hari lalu, sebelum tahun baru, saya mendengar sebuah kultum di Masjid UI selepas salat Dhuhur. Mendadak saya merasa kalau saya sudah lama sekali tidak mendengarkan ceramah di masjid. Paling suka iseng minta diceramahin sama teman atau senior yang alim, tapi ya seringnya saya dianggap lagi becanda hihihi.

Pesan ceramah itu yang ingin saya kisahkan sekarang. Tentang sebuah kepasrahan dalam ketidaktahuan. Kita masih sama-sama berduka atas musibah yang melanda negeri kita, bukan? Hal itu yang diangkat sebagai prolog ceramah tempo hari. Menjelang akhir tahun orang-orang sibuk dengan evaluasi dan resolusi. Kita di sini masih bisa melakukannya, tetapi saudara-saudara yang meninggal karena bencana dan kecelakaan itu bagaimana? Mereka bahkan belum sempat mengevaluasi diri, atau mungkin beberapa ada yang sudah. Tetapi belum mulai menjalankan resolusinya. Sudah keburu berakhir.

Entah kenapa saya merinding dengernya. Iya gak sih, kita sama sekali gak pernah tahu apa yang akan terjadi di depan sana. Mendadak saya takut mati tanpa meninggalkan sesuatu yang berarti. Apalagi tanpa bekal sama sekali–hadeeeh, kenapa jadi meleleh begini, lagi di kantor!–

Ya, itu ceramah pertama yang saya dengar begitu sampai lagi di Depok. Rasanya, Allah seperti sedang memberi pesan bahwa segala hal yang akan saya jalani tidak akan terlepas dari takdir Allah. Kadang, pada satu masa ada kalanya saya tak ingin berdoa apa-apa. Saya hanya ingin tetap berislam, tetap beriman, dan tetap diakui sebagai hamba Allah. Saya sama sekali tidak bisa membayangkan bagaimana saya bisa hidup tanpa Allah.

Hahaha, sorry ya kalau postingannya jadi agak melow. Padahal tadi saya niatnya mau cerita seru aja hehe.

Yah, sampai tahun baru tiba, saya merasa ada banyak yang berubah. Sesekali saya jalan-jalan ke kampus, menyusuri koridor dan jalan setapak yang banyak pohon. Sendirian. Saya merasa lingkungan saya berubah, teman-teman saya berubah, atau mungkin saya sendirilah yang sebenarnya berubah. Tapi, bukankah berubah adalah tanda seorang masih hidup?

Berjalan sendiri membuat saya mampu berpikir jernih. Betapa banyak sekali hal yang belum saya syukuri. Bisa kuliah di UI, menikmati segala fasilitas yang ada, bertemu teman-teman yang luar biasa, bertemu masalah yang ternyata bisa diatasi meski nyaris menyerah pada awalnya. Jika saya harus membalasnya, jelas saya tak akan sanggup.

Kita tidak pernah bisa menghitung nikmat-Nya, kita hanya bisa mensyukurinya. Dan menjalani kehidupan selanjutnya adalah cara saya bersyukur. Mensyukuri nikmat dengan bersemangat hidup. Setelah sampai Depok saya banyak bertemu teman dan banyak mendengar cerita mereka. Saya tidak banyak menceritakan hidup saya, Bloggy. Saya juga heran, padahal biasanya saya paling semangat bercerita.

Setiap kali mendengar cerita orang, saya selalu berkesimpulan bahwa Allah itu Maha Adil. Saya tidak sedih sendirian. Bukan hanya saya yang punya masalah. Sebahagia apapun orang kelihatannya, tetap saja ia punya masalah. Sebanyak apapun harta seseorang, tetap ada sisi yang membuatnya merasa kurang. Jadi, Allah sudah adil seadil-adilnya. Sampai kembali pada kalimat “Kamu ada karena Allah mempercayaimu”

Saya berpikir banyak hal. Saya hanya ingin terus menulis. Memberikan informasi-informasi sederhana di majalah tempat saya kerja. Dulu, saat saya uring-uringan karena tertekan deadline, ada teman yang bilang soal betapa mulianya pekerjaan saya. Menulis artikel untuk anak-anak. Saya disuruh membayangkan betapa nanti tulisan saya akan dibaca ribuan anak-anak di Indonesia, dan mungkin mempengaruhi sebagian di antaranya. Dia benar, setidaknya sampai detik ini, menulis membuat saya merasa berarti sebagai manusia. Semoga tulisan saya bernilai amal jariyah.

Tentang masa yang tak kita tahu, siapa yang bisa menjamin kita hidup sampai besok? Maka saya memutuskan untuk tidak akan berhenti menulis. Termasuk menulis blog, hahaha. Yah, semoga saja ada Bloggy yang terbantu karena tulisan saya (terbantu apa coba orang tulisannya alay semua -____-“)

Ya, sekarang saya tahu kenapa saya harus menulis. Semoga setelah ini Allah memudahkan penulisan novel saya. Amiin.

Ah, ya, saya juga sempat terpikir soal pernikahan. Pernah sih, kepikiran ingin menikah. Tapi saya takut, Bloggy. Takut jika nanti saya tidak bisa mencintai suami saya dengan baik hehe. Tapi katanya sih kalau sudah saatnya Allah akan memudahkan segalanya, termasuk menanamkan keyakinan bahwa saya akan dapat mencintai suami saya dengan cinta yang baik. Cinta yang membuat ketakwaan kami kepada Allah meningkat dan kebermanfaatan kami kepada sesama bertambah. (Ahaaaay, kenapa jadi ngomongin cintaaaa). Ya, itu definisi cinta yang baik menurut saya :))

Yah, sudahlah. Sepertinya arah bicara saya sudah mulai tak jelas. Saya sudah menyelesaikan semua artikel kantor, jadi sekarang sudah kagak ada kerjaan (kantor). Tapi masih ada ratusan lema yang minta diedit, dan kepingan cerita yang ingin berakhir. Ya ya ya. Selamat menjalani hari, Bloggy. Sampai jumpa lagi 😀

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s