Gara-gara Wushu

Salah satu keinginan saya yang belum kesampaian adalah ikut bela diri, hihihi. Beberapa minggu ini saya survey beberapa jenis bela diri yang ada di UI dan Depok. Akhirnya saya bertemu dengan wushu fufufu. Yeah, singkat cerita minggu lalu saya pun mencoba ikut latihan. Rasanya bahagia sekali, lho, Bloggy. Soalnya hampir sebagian besar yang ikut wushu anak-anak TK dan SD. Jadi saya merasa punya teman main (lho?). Selain itu, saya juga jatuh cinta sama model seragamnya, warna cokelatnya bagus 😀
Tapi kebahagiaan itu berisiko. Sekarang badan saya pegal-pegal seperti digebukin maling (efek gak pernah olahraga sebelumnya). Kaki sih yang paling parah, sampai-sampai buat jalan saja susah. Mana di kosan sendirian pula, huhuhu. Terus ya, buat salat itu rasanya Ya Allah…nikmat banget! Terus saya jadi inget tetangga saya yang masih rajin salat meski sudah tua renta.

Jadi di kampung saya ya, Bloggy, setiap 10 hari terakhir ramadan itu orang-orang saling membangunkan untuk salat malam di masjid. Ya, kalau dibandingkan dari saya SD sampai sekarang sih, jauh berkurang drastis orang-orang yang masih melaksanakan salat tahajud dan hajat di masjid. Dulu ya, waktu SD saya sok-sokan ikutan salat malam itu. Biar pulangnya bisa sekalian ronda sama anak laki-laki (tapi gak pernah dapat izin, akhirnya cuma ronda bangunin tetangga kiri kanan doang hihii). Udah ngantuk, bacaannya banyak, bikin merinding pula karena semua lampu dimatikan. Paling berat itu pas salat hajat, karena harus berdiri dan baca Al-Ikhlas 100 kali (10 di rakaat pertama, 20 di rakaat kedua, 30 di rakaat ketiga, dan 40 di rakaat keempat). Wiih, mantep dah. Tapi saya masih ingat, kata Pak Ustaz, nanti kalau di Padang Maghsyar itu kita bakal berdiri lamaaaaa banget, jadi berdiri di salat hajat itu itung-itung latihan. Belum ada apa-apanya. Saya langsung percaya, sampai sekarang :))

Nah, ada tetangga saya, kakek-kakek tua (kalau kakek ya jelas udah tua lah ya), masih aja rajin sampai sekarang. Kakek itu selalu berdiri di samping jendela. Itu sudah semacam tempat khususon buat dia. Karena sudah bungkuk, si kakek itu sudah banget berdiri buat salat. Sampai-sampai harus megangin teralis jendela. Ya Allah, sedih penuh haru gitu ngelihatnya, Bloggy. Ini ketahuan banget saya gak fokus salatnya (malah nglihatin si kakek) Astaghfirullah. Hehe, itu kan dulu, sekarang enggak kok (enggak apa, enggak pernah salat malam? #plak #plak #plak!)

Sekarang keadaan saya (hampir) seperti kakek itu. Buat sujud kaki rasanya sakit banget, buat berdiri ke duduk sakit. Buat jongkok apalagi. Jadi sedih karena kurang bersyukur selama ini masih bisa salat dengan sehat. Semoga bisa sama-sama belajar yah, manusia memang suka lupa bersyukur.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s