Abang Gorengan yang Berbahagia

Memasuki dunia pascakampus, saya tersadarkan oleh banyak hal. Tentang pencarian ilmu yang ternyata masih amat sangat dangkal. Permahaman kehidupan yang sekadar di permukaan. Sampai keikhlasan yang hanya di ujung lisan. Benar-benar menggelisahkan! Tapi yah, yang namanya hidup harus tetap berjalan. Itu tanda kita sedang belajar, bukan?

Akhir-akhir ini saya jadi sering mengajak ngobrol pedagang. Ini bukan karena saya jarang ketemu teman dan cerita ngalor ngidul ya, Bloggy. Hm, ralat, kayaknya karena itu juga sih, wkwkwk. Yah, lebih tepatnya, saya hanya sedang mencoba lebih menghargai orang-orang di sekitar saya. Mempelajari kehidupan dari mereka, kemudian mencoba mensyukuri hidup saya. Itu saja. Hasilnya? Mempesona! 😀

Ada hal menarik (bagi saya) yang ingin saya abadikan melalui tulisan. Ini cerita tentang abang gorengan. Pada satu waktu, ketika saya baru pulang, di depan indekos saya ada seorang abang gorengan yang sedang mangkal sembari menggoreng dagangan. Gorengan di bakul tidak sebanyak yang sedang mematang di wajan. Melihat wajah abang gorengan yang lumayan ganteng (susah banget ngilangin kebiasaan ini!) saya pun berhenti dan membeli.

Abang gorengan itu bercerita, sudah empat tahun lebih ia berjualan. Awalnya, sekadar mengambil dagangan kemudian membantu menjualkan. Hasilnya pas-pasan. Akhirnya ia nekad, bermodalkan bismillah, bikin gerobak sendiri dan menyiapkan permodalan sendiri. Alhamdulillah, lancar sampai sekarang, katanya. Itu saja, sih, tapi rasanya, saya bahagia. Saya menemukan sebuah pelajaran dari cerita abang gorengan itu. Bahwa hidup memang butuh diperjuangkan, cinta juga begitu. Haduh!

Pengalaman lain soal abang gorengan tidak selesai sampai di situ. Belum lama ini, saya membeli gorengan di abang gorengan yang emang sudah punya stand di Jalan Kober. Si abang menyambut riang, mengajak bicara, dan bertanya.

Abang gorengan itu terlihat sangat bahagia, lho, Bloggy. Usianya 25 tahun, sudah menikah dan punya dua anak. Anak pertamanya kelas 1 SD, sedangkan anak keduanya masih di dalam kandungan, sebentar lagi lahir katanya.

“Saya nikah umur 17 tahun, neng. Saya mah gak pacaran, soalnya gak mau nyakitin hati perempuan. Pas nikah istri umur 14, kami gak sekolah. Cuma sekolah ngaji doang.”

Yah, begitulah. Keduanya bersama merantau hidup di Jakarta. Si abang gorengan awalnya jadi asisten koki di sebuah hotel, kemudian memilih mandiri dengan usaha sendiri. That’s the point: mandiri! Saya dapat lagi poin itu.

Bloggy harus tahu bagaimana bahagianya abang gorengan itu! Dia bercerita lepas, tanpa beban. Mengalirkan kebahagiaan kepada pendengarnya. Percaya deh, saya sampai senyum-senyum sendiri sepanjang jalan karena turut merasakan kebahagiaan si abang gorengan.

Akhir-akhir ini saya banyak bertemu teman yang sudah bekerja di Jakarta dan sekitarnya. Banyak yang bercerita tentang kehidupan baru di kantornya, fenomena karier di tempat kerja, gaji besar, lingkungan yang amat sangat berbeda. Dan yang jelas, betapa mereka terlihat damai sentausa serta sejahtera, dilihat dari penampilannya. Tapi saya tidak merasakan aura kebahagiaan dari cerita mereka, belum kali ya. Maksud saya, tak sebahagia ketika mendengar cerita abang gorengan tadi.

Yayayay, hanya abang gorengan, lho, padahal. Tapi ia bisa sebegitu bahagianya. Memang kebahagiaan itu relatif, ya! Ah, ya, satu lagi. Ternyata, kebagiaan itu menular!

Baiklah, Bloggy, saya mengantuk. Selamat berbahagia, ya 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s