Tidak Ingin Jadi Lilin

“Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakaatuh. Tidak mau jadi lilin.” Muzaya mulai membacakan karangannya di depan kelas.

Sejak membaca judulnya, Pak Tua tergelitik ingin membaca keseluruhan isinya. Karangan anak sepuluh tahun ini membangkitkan rasa penasarannya. Sebuah cerita sederhana tentang lilin dan kebaikan, juga tentang muslim. Muzaya Az-Zahra, mengingatkannya pada seorang wanita yang telah lama tak diketahui kabarnya.

“Lilin adalah benda kecil yang bisa bercahaya jika sumbunya disentuh api. Cahaya lilin bisa menerangi kegelapan. Banyak orang yang ingin seperti lilin. Karena lilin bisa menyinari orang-orang di sekitarnya. Tapi lilin akan mati setelah bersinar. Jadi, aku tidak mau menjadi lilin. Kata bunda aku, perumpamaan soal lilin itu kurang tepat bagi muslim. Dalam Islam, kebaikan sekecil apapun pasti dibalas dengan kebaikan. Jadi jika kita berbuat baik, seharusnya kita semakin baik. Semakin bersinar. bukan malah padam. Kebaikan yang kita lakukan akan membuat kita sendiri menjadi lebih baik. Kata bunda lagi, perumpamaan yang tepat untuk seorang muslim adalah mercusuar. Semakin menerangi, mercusuar semakin tinggi dan semakin banyak manfaatnya. Jadi, aku tidak mau menjadi lilin. Aku mau menjadi mercusuar!”

Pak Tua tak mampu berkata-kata. Perkataan anak itu benar-benar mempesona.

“Aya, mercusuar itu apa?” tanya Ridho.

“Mercusuar itu seperti menara. Menara yang tinggi sekali. Dan bercahaya!”

“Seperti tower masjid yang dipakai buat azan itu ya?”

“Iya, iya, seperti itu. Tapi terang banget. Terus kalau dari jauh, mercusuar bisa menjadi petunjuk orang yang tersesat.”

Anak-anak lantas terkagum-kagum. Kedatangan Muzaya ke Kelas Menghapal memberikan warna baru keceriaan anak-anak di sana. Apalagi, sebagai anak kota, Muzaya tumbuh jauh lebih cerdas dibandingkan anak-anak seusianya. Menariknya, ia tak segan berbagi. Muzaya banyak bercerita dan mengajarkan anak-anak hal

“Terima kasih, Muzaya. Salam untuk bunda kamu, ya.” kata Pak Tua. Kalimat itu rutin diucapkannya semenjak anak itu datang ke sini.

“Bunda ingin ke sini dan bertemu Pak Tua, tapi belum sempat-sempat katanya.”

Pak Tua tersenyum. Keceriaan anak itu, mengingatkannya pada kisah cintanya bertahun-tahun silam.

mercusuar

(sebuah nukilan dari cerita yang sedang sangat ingin dirampungkan :’)))

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s