Mengarahkan Vs Melarang

Dalam membersamai anak-anak, bertemu dengan anak yang sulit diatur mungkin hampir akan ditemui. Bahkan, anak dengan karakteristik “patuh dan pintar” pun sekali waktu dapat bertingkah menyebalkan dengan tak mau mengikuti anjuran. Kasus yang belum lama saya alami adalah ketika murid luar biasa saya memainkan tuts tuts keyboard saat latihan persembahan kelas 6.

Dengan penuh semangat, ketika guru kesenian pergi (juga ketika saya “meleng” alias lepas pengawasan), anak itu memainkan keyboard semaunya. Memencet tombol-tombol sampai menimbulkan bunyi yang menyenangkan hatinya. Bagi sebagian orang, apalagi dalam keadaan riuh renda suasana latihan, tingkah lakunya itu amat sangat menyebalkan. Tidak hanya guru, teman-temannya yang melihat pun sontak melarang keras.

“Hey! Gak boleh. Jangan buat mainan. Kalau rusak gimana?”
“Haduuh. Jangan dimainin dong!”
“Awas, rusak!”
Tidak bisa dimungkiri, saya pun sempat bersikap sama. Suasana sungguh sangat mempengaruhinya. Namun, saya sadar, bahwa sebuah larangan tidak memberikan efek jangka panjang (dalam beberapa kasus, ya), terlebih bagi anak-anak luar biasa seperti murid saya tersebut. Terbukti bahwa beberapa jam kemudian, ketika ia menemukan celah untuk bisa menekan tuts-tuts di keyboard, kalimat larangan (bahkan ancaman) yang ia dengar sebelumnya terlupakan begitu saja.

Pada akhirnya saya hanya bisa mencoba memahami. Anak itu pastilah memiliki rasa ingin tahu yang besar. Ia ingin bermain, wajar, bukan? Saya hanya menghembuskan napas panjang, menatapnya tajam, seraya menggelengkan kepala, sebuah ekspresi yang saya keluarkan ketika saya tidak tahu lagi harus bersikap apa.

Anak itu pasti bertanya “Gini-gini, apa, Bu?” sambil menirukan saya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tidak mengerti bahasa nonverbal.

Saya tersenyum, cara dia bertanya lucu, lalu menjawab “Gak boleh, Nak.”
Lantas ia akan menyatukan kedua alisnya, seperti angry bird.

“Ibu tahu kamu penasaran. Kamu penasaran, kan, sama tombol-tombol di keyboard itu?”
“Iya, Bu.” biji matanya berbinar. Bersemangat.
“Kamu seneng, kan, waktu mencet terus keluar bunyi?”
“Iyaa.”
“Iya, ibu tahu kok. Ibu tahu, kamu kepengen tahu dan nyobain mencet semua tombol di situ, iya?”
Dia mengangguk.
“Tapi gak semua hal yang kita pengen boleh dilakuin. Harus lihat dulu. Ini kan di sekolah, ada aturannya. Itu keyboardnya bukan punya kamu. Punya sekolah. Gak boleh dimainin sembarangan. Ngerti?”
“Gak tahu tahu, Bu!”

Ia lantas meninggalkan saya. Acuh tak acuh, berlari ke tengah lapangan dan memanggil satu demi satu nama temannya. Kembali ke aktivitas yang (menurutnya) membahagiakannya.
Lagi-lagi, saya hanya bisa menghela napas.

Sejauh pengamatan saya, mengarahkan dia berbuat baik dengan melarang dia berbuat buruk sama-sama tak mendapat respon positif. Dia tetap acuh tak acuh. Namun, ada hal menarik yang saya temukan sekitar 4 bulan ini. Beberapa kalimat arahan menuju hal baik yang saya kemukakan dua tiga bulan lalu, baru dia ingat sekarang-sekarang ini. Tentunya setelah saya mengulang-ngulangnya tanpa hitung. Mungkin, benar, pendidikan memang proses. Dan menjadi guru harus sekali bersabar dalam memberi ilmu dengan cara yang baik.

Anyway, keesokan harinya, anak luar biasa itu tidak bermain keyboard lagi. Dia hanya menghampiri dan menatap keyboard itu lamat-lamat, memandang saya yang tersenyum dari jauh, lalu pergi.

Dan sepulang sekolah saya berbisik, “Terima kasih tidak bermain keyboard sekolah, ya!” lalu dia kembali menatap saya sambil menyatukan alisnya. Saya pun berlalu begitu saja. (emang cuma dia yang bisa nyuekin saya, saya juga bisa nyuekin dia, hahaha)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s