Hidup

Hmm, namanya juga hidup. Kadang senang, kadang sedih. Kadang ramai, kadang juga sepi. Dibandingkan kemarin, hidup yang saya rasakan hari ini berbeda 180 derajat. Kemarin tuh, pagi harinya saya ikut jalan santai RT dan mendapat hadiah utama: kipas angin. Hihihi, akhirnya setelah bertahun-tahun ikutan jalan santai gak pernah dapet, kemarin kelakon juga dapet kipas angin. Wuuuzh.

Siang, bantuin ibu bikin ambeng buat tasyakuran malam harinya. Ceritanya kelompok Dasa Wisma ibu saya sedang kebagian job dari Pak RT buat menyiapkan akomodasi malam tasyakuran yang diadakan setiap tahun. Jadilah para ibu segang bergotong royong memasak bersama. Ada yang memarut kelapa, mengupas dan mengiris bawang, memetik sayur kemudian merebusnya, membungkus jajan, dsb. Ibu saya, seperti biasa, bagian memberi komando dan meracik-racik.

Sampai sore, saatnya ngebantu tetangga yang kebagian bikin nasi kuning. Beliau minta dibantu menghias tumpeng. Yaelah, mana saya bisa, batin saya. Ternyata, memasak memang bukan perkara yang penting matang yah. Banyak hal-hal lain yang perlu diperhatikan setelah masakan matang. Hm, soal tumpeng, banyak sekali printilannya, ruwed, persis dah seperti hidup manusia yang banyak tetek bengeknya.

Malamnya pun acara tasyakuran berjalan lancar. Banyak yang mbungkus makanannya buat dibawa pulang. Rayahan. Cuwil-cuwil edang. Berebutan. Dibagi sedikit-sedikit. Hihihi. Pokoknya kemarin tuh hari begitu semarak, berbeda sekali dengan hari ini.

Dimulai dengan menjadi korban calo yang salah naik bus, sport jantung, (tapi alhamdulillah lancar jaya), hingga mendapati fakta harus menerima kedatangan tamu bulanan begitu sampai kosan. Huft, semangat membereskan buku-buku yang (rencana) mau dipaket pun tidak berjalan mulus karena terhalang rasa sakit. Gak perlu dijelasin lah ya gimana rasanya dapet hari pertama itu -________-”

Kalau kemarin capek sedikit bisa pijet-pijetan sama ibu. Eh, bisa dipijetin ibu (akunya sebentar doang mijit ibunya hehehe), sekarang mana bisaaa. Malas nian keluar untuk cari makan, tak ada teman pula hiks. Tapi mengingat kalau saya sakit justru akan amat lebih menyedihkan, saya putuskan untuk makan pecel lele di luar.

Yaw, saya tidak berselera makan di kamar yang super berantakan karena belum selesai dirapikan hihihi. Jadilah saya makan sendirian, sambil jadi silent reader grup-grup whatsapp (nelangsa banget, gak ada yang japri? hahaha)

Saya memutuskan untuk makan banyak lalu tidur setelahnya. Sampai saya ingat, saya masih punya PR. Yasudah. Terima kasih mau membaca. Semoga hidupmu menyenangkan, ya, Bloggy. Atau, kalaupun tidak begitu menyenangkan, semoga kau tetap bisa mensyukurinya.

Setiap kejadian adalah pesan, bukan? Yeah 😉

Advertisements

One thought on “Hidup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s