Menuju Puncak Papandayan (1)

Hai, Bloggy

Saya ingin bercerita tentang pengalaman pertama naik gunung kemarin. Saya dan dua belas teman mendaki bersama ke Papandayan, Garut, Jawa Barat. Perjalanan yang mengesankan dan memberi banyak sekali pelajaran. Dan, yap, yang paling penting, membuka pesan-pesan yang siap diserap dalam kehidupan. Hm, kayaknya bakal panjang nih. Bagaimana, sudah siap?

Perasaan yang karut

Setelah sempat galau jadi naik atau tidak, akhirnya saya putuskan nekat naik. Pasalnya, perjalanan ini sudah direncanakan dua bulan sebelumnya. Saya tidak yakin jika perjalanan naik gunung tidak jauh berbeda dengan berkemah (yang sudah sering saya lakukan), jadilah saya sempat “panik” bertanya dan menyiapkan “ini itu”. Beruntung, punya teman-teman yang cukup detail dalam hal persiapan macem gini. Aih, saya mah emang kurang prepare orangnya, udah disiap-siapin dari sejauh apapun masih aja ada yang kurang.

“Mbak, sleeping bag, matras, carier, sudah ada?”

“Hah? Emang perlu ya, Dek? Aku cuma bawa daypack aja.”

“Mbak, plis!”

Hehe. Yah, akhirnya saya mencatat segala perlengkapan sedetail-detailnya. Mengecek ulang, membawa segala hal yang dibutuhkan. Well, siap berangkat!

Siap Mendaki, Siap Mandiri

Tujuan saya naik gunung kala itu adalah untuk mendewasakan diri dengan mendekatkan diri ke Ilahi. Sepanjang perjalanan menuju terminal Garut, di dalam bus saya sempat beberapa kali meneteskan air mata mengingat-ingat sisi kekanak-kanakan saya yang tak juga hilang. Kebetulan, sebelumnya saya memang baru saja menjalani peristiwa menyebalkan, yang sampai sekarang, jika ingat, saya masih saja kesal. Entah, tapi dalam beberapa hal saya tidak bisa berpura-pura sok dewasa dan bisa menerima segalanya dengan lapang dada. Yayayay.

Huft. Maka saya tekadkan bulat-bulat. Semoga perjalanan ini bisa memandirikan diri. Setidaknya, untuk sedikit memahami bahwa ada banyak persepsi di dunia ini. Dan sungguh sangat kecil sekali jika sedikit-sedikit kita merasa sakit hati. Hihihi.

Alay di Pikup

“Asik-asik. Nanti kita naik mobil box? Aku mau di belakang ya!”

“Huaaa aku mau naik gunung!”

Sikap girang saya, lagi-lagi mendapat gertak sambal dari teman-teman. Terutama dari teman baru yang belum begitu kenal. Mungkin mereka berpikir saya ini super alay, katrok, dan apalah entah. Hahay, biarin aja. Habisnya saya seneng sih naik begituan. Suka kepengen gitu kalau lihat anak-anak di kabupaten saya naik bak terbuka buat berangkat sekolah. Sepertinya seru, dan kemarin saya ngerasain sendiri, emang seru!

Jalan Batu dan Pasir

Begitu sampai, saya baru bener-bener ngeh, ternyata Papandayan emang berbatu-batu gitu ya? Rombongan kami sampai Taman Wisata Alam Papandayan itu sekitar pukul 07.00 WIB, tiga dari tiga belas orang naik lebih dulu untuk jadi tim advanced, mencari tempat untuk ngecamp di Pondok Saladah, pos sebelum puncak. Sepuluh orang sisanya, sarapan, ke kamar mandi, dan foto-fotoo hehehe.

Sekitar pukul 08.30 WIB kami mulai meniti menaiki track berbatu di sepanjang kawah belerang. Track pertama yang kami lalui itu cukup landai, tapi tetap membutuhkan fokus tinggi karena bisa terpeleset. Semakin ke atas, lajur batu-batu itu semakin curam dan melelahkan, tapi juga menantang. Saya sempat sepeleset dan jatuh. Huhuhu, lututnya sakit, tapi keindahan alam di hadapan saya membuat sakit itu bisa dienyahkan. Sebenarnya karena gak terlalu sakit tapi sakiit hehe. Anyway, pas pulang pendakian saya baru tahu kalau ada teman serombongan yang kakinya bengkak dan dia diam saja, gak sealay saya. Padahal dia masih kelas XI, yayaya, jadi malu saya.

Biru yang benar-benar biru

Langit di sana serius, super biru! Gak ada awan sama sekali. Saya baru sekali itu melihat langit biru yang birunya gak sama dengan yang biasa saya lihat. Dibandingkan foto-foto, melihat sekeliling itu lebih seru rasanya, panorama lanskap bukit batu di bawah langit biru, dengan kepul asap belerang dan dingin kabut yang menyusup tak akan bisa tergambarkan dari secarik foto, menurut saya ya.

Setelah melewati kawah belerang, kami memasuki hutan kecil dengan jalan terjal dan berundak-undak. Saya sebut hutan kecil karena memang pohon-pohonnya berbatang kecil. Kebanyakan daun-daun langsung tumbuh dari tanah atau batu malah. Track itu cukup menyita amunisi kami, sedikit-sedikit kami berhenti karena lelah. Beberapa kali juga terhenti karena macet. Yap, macet! Ada banyak sekali pendaki yang mau mendaki, jalur menuju pos 2 itu pun semakin padat dan ngantri!

Pondok Salada

Sampai di Pos 2, kami bertemu dengan teman kami yang sudah lebih dulu sampai dan mendirikan tenda. Ternyata, dari Pos 2 ke Pondok Salada masih cukup jauh. Kami masih harus melalui jalanan menanjak dan berundak-undak, beralas pasir yang ketika diinjak, debunya berguguran membuat napas sesak. Untuk track yang curam, kami biasanya mengandalkan ranting-ranting pohon untuk pegangan. Namun, itu tidak selamanya bisa diandalkan, beberapa ranting ada yang rapuh meski terlihat kuat, kami pun berisiko terjungkal ke belakang. Kami juga dibantu oleh akar-akar kuat yang merayap di atas tanah, untuk jalur dengan kemiringan 70—80 derajat, akar-akar itu sangat membantu kami.

Kami sampai Pondok Salada sekitar pukul 11.00—11.30 WIB. Huft, rasa lapar mulai menjalar. Para perempuan dengan sigap memasak spageti yang telah dibawa dari rumah. Sementara laki-laki, bekerja sama melengkapi pembangunan tenda. Rombongan kami terdiri dari tiga lelaki dan sepuluh perempuan. Setelah makan, salat, dan bebersih (di sana ada kamar mandi umum lho, hehehe), kami istirahat sampai sore. Pukul empat, agenda kami adalah menuju puncak!

 

bersambung dulu ya, lebih seru kegiatan menuju puncak! tunggu ya 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s