Asy Syams 1–10

Saya mau menuliskan apa yang saya dapat setelah membaca tafsir surah Asy-Syams di buku Tafsir Ibnu Kaṡir (jangan bilang tumben, ya, hehehe).

Selepas salat Dhuha, biasanya saya menyempatkan diri untuk tilawah. Namun, pagi ini, tiba-tiba saya tergerak untuk membaca tafsir surah Asy-Syams. Saya suka surah ini, seperti surah-surah lain yang sering membahasakan matahari, langit, dan hamparan bumi. Beberapa kali juga mendengar penjelasan ayat-ayat Asy-Syams di pengajian, tapi belum sekali pun saya membaca tafsir surah ini sendiri. Well, setelah baca, isinya luar biasa.

Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya (penciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Asy-Syams: 1—10)

Di buku tafsir, setiap ayatnya dijelentrehkan ‘dijelasin sejelas-jelasnya’ sedemikian rupa sehingga kita akan menemukan sesuatu yang mendamaikan. Rasanya melebihi kata “Oooooh” seratus kali kadang. Apalagi buat orang yang paham bahasa Arab. Diksi dalam Alquran kan memesona bingit bingit. Sayang, saya belum bisa hiks.

Ayat 1—10 berbicara dengan ilham yang Allah berikan kepada manusia untuk menghadapi takdir yang menimpanya, manusia diberi pilihan, mau berbuat fasik atau takwa. Allah mengawali surah dengan sumpah atas nama matahari, siang, malam, langit, dan bumi. Saya pribadi, kalau bertemu dengan surah yang diawali ayat-ayat seperti ini suka takjub. Seolah diingetin, kalau benda yang besar-besar dan berkekuatan itu makhluknya Allah SWT. Sebelum Allah memberi tahu sesuatu, Allah kasih lihat kekuasaannya dulu, bikin saya merasa kecil, bersyukur, akhirnya pasrah, iyadeh saya mah nurut aja sama Allah.

Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, (ayat 1—4)

Baqiyyah ibnul Walid telah meriwayatkan dari Safwan, telah menceritakan kepadaku Yazid ibnu Zi Hamamah yang mengatakan bahwa apabila malam hari tiba, Allah SWT. berfirman, “Hamba-hamba-Ku telah ditutupi oleh makhluk-Ku yang besar,” malam hari takut kepada Allah, dan memang Allah yang telah menciptakannya lebih berhak untuk dia takuti. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim (Kaṡir, 2012: 355).

Dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya (ayat 5—6 )

Menurut Qatadah, ayat 5 wassamaa iwwamaa bana haa, bisa berarti ‘dan langit serta bangunannya’ atau ‘dan langit serta Tuhan yang membangunnya’. Sedangkan bumi dan penghamparannya berarti bumi beserta bagian-bagiannya.

Dan jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya (ayat 7)

Yaitu penciptaan yang sempurna dengan dibekali fitrah yang lurus lagi tegak. Rosulullah saw. telah bersabda,

”Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka hanya kedua orang tuannyalah yang menjadikannya seorang Yahudi, atau seorang Nasrani, atau seorang Majusi. Sebagaimana hewan ternak yang melahirkan anaknya dalam keadaan utuh, maka apakah kamu pernah melihatnya ada yang cacat”

Ada pula hadist lain yang berbunyi,

“Allah SWT. berfirman, ‘Sesungguhnya aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif (menyimpang dari kebatilan dan cenderung kepada perkara hak). Kemudian datanglah setan-setan yang menyesatkan mereka dari agamanya.”

Di ayat ke-8, dijelaskan bahwa Allah menerangkan kepadanya jalan kefasikan dan ketakwaan, kemudian memberikan petunjuk kepadanya sesuai dengan apa yang telah ditetapkan Allah untuknya. Sa’id ibnu Jubair mengatakan bahwa Allah mengilhamkan (menginspirasikan) kepadanya jalan kebaikan dan keburukan.

“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan katakwaan.” (ayat 8)

Jadi sebenarnya, secara naluriah di dalam diri manusia sudah ada jalan baik dan buruk. Allah sendiri yang sudah ngasih itu ke kita. Tinggal manusianya mau pilih mana, apakah memilih jalan keburukan (fasik) atau jalan baik (dengan takwa). Di ayat selanjutnya (ayat 9 dan 10) dijelaskan bahwa orang-orang yang memilih jalan kebaikan akan memperoleh keberuntungan, sedangkan orang yang memilih keburukan kelak akan merugi. Tentunya, keberuntungan dan kerugian yang muncul akibat pilihan kita tidak serta merta dapat terlihat cepat. Seperti yang kita ketahui bersama, hidup baik di dunia bukan berarti hidup baik di akhirat, begitu pun sebaliknya.

Di buku ini, ada sebuah kisah dari Imran ibnu Husain yang mengatakan bahwa pernah ada seorang laki-laki dari Bani Muzayyanah atau Bani Juhainah datang kepada Rosulullah saw. lalu bertanya,

“Wahai Rosulullah, bagaimanakah menurutmu tentang apa yang dikerjakan manusia yang mereka bersusah payah menanggulanginya. Apakah hal itu merupakan sesuatu sesuatu yang telah ditetapkan atas mereka dalam takdir yang terdahulu, ataukah hal itu merupakan sesuatu yang mereka terima dari apa yang disampaikan oleh Nabi mereka kepada mereka, lalu diperkuat dengan hujah atas diri mereka”

Rosulullah saw. menjawab,

“Tidak demikian, sebenarnya hal itu adalah sesuatu yang telah ditetapkan atas diri mereka.”

Lelaki itu bertanya lagi, “Lalu apakah gunanya kita beramal?”

Rosulullah saw. menjawab, barangsiapa diciptakan oleh Allah untuk mengerjakan salah satu di antara keduanya, maka Allah menyiapkan untuknya itu. Hal yang membenarkan ini seusai dalam Kitabullah, surah Asy-Syams 7—8 tadi. Allah telah menyempurnakan jiwa dan mengilhamkannya kepada jiwa itu kefasikan dan ketakwaan.

Imran Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Utsman ibnu Saleh, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahiah, dari Amr ibnu Dinar, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Rosulullah saw. bila bacaannya sampai pada ayat ini, yaitu Firman-Nya surah Asy-Syams 7—8, Rosulullah menghentikan bacaannya kemudian berdoa.

Ya Allah, berikanlah kepada jiwaku ketakwaannya, Engkau adalah Yang Memiliki dan Yang Menguasainya, dan (Engkau) adalah sebaik-baik yang menyucikannya.

Merinding gak sih, orang sekelas Nabi Muhammad saw. aja masih berdoa minta disucikan jiwanya oleh Allah, lha kita? huhuhu. Ada doa yang lebih lengkap, diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, kepikunan, sifat pengecut, sifat kikir, dan azab kubur. Ya Allah, berikanlah kepada jiwaku ketakwaannya, dan sucikanlah ia. Engkau adalah sebaik-baik yang menyucikannya. Engkau adalah Pemilik dan Yang Menguasainya. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa yang tidak pernah kenyang (puas), dari ilmu yang tidak bermanfaat, dan dari doa yang tidak diperkenankan.

Amiiin :’)

“… sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Asy-Syam: 9—10)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s