Menuju Puncak Papandayan (2)

Huah! Saya lupa lho Bloggy kalau belum nulis lanjutan cerita ke Papandayan kemarin. Udah basi ya? Hm…biarin deh :p

Menuju Puncak

Sekitar pukul 16.00 kami serombongan, dua belas orang, bertekad menuju puncak. Satu orang memilih menjaga tenda karena sudah pernah ke puncak Papandayan. Karena sudah agak petang, kabut juga mulai datang, ranger (sebutan untuk penunjuk jalan yang berasal dari warga setempat) tidak mendukung perjalanan kami. Tidak hanya ranger, sesama pendaki yang kami temui pun bersikap serupa. “Besok saja naiknya. Lihat sunrise” begitu kata mereka.

11205082_10203320970744192_7073233509709164998_n

“Gak papa. Kami gak maksa kok. Sebisanya kita aja, kalau gak kuat turun.” kata leader kami.

Akhirnya kami ditunjukkan jalan ke puncak. Lewat track yang lebih susah, tapi bisa sampai lebih cepet. Jadilah kami berduabelas.

Sembilan Puluh Derajat

Huah! Ternyata track kita lalui super duper nanjak. Sepanjang mata memandang jalur tracknya makin ke atas, batu-batu terjal, penuh debu, dan hanya mengandalkan akar-akar pohon untuk pegangan. Melihat dan menaksir jalanan yang seperti kurang ramah lingkungan, dua teman kami memilih mundur. Kembali ke tenda. Setengah perjalanan, jalan yang kami temui tak jua membaik. Malah semakin terjal dan menukik, tiga teman kami pun memilih balik. Dan tinggal tujuh orang yang menguatkan tekad untuk sampai ke puncak.

Track yang kami lalui, semakin ke atas, semakin tajam dan menegangkan. Jika di  mula pendakian kami menaiki tanjakan sampai 70 derajat. Kali itu sampai 90 derajat! Rasanya ngeri-ngeri gimana gitu, waktu kami nanjak terus lihat ke bawah cuma dedaunan dan langit. Deg deg ser, deh!

Selalu ada jalan datar

Setiap melewati satu tanjakan, kami akan menapaki jalan datar. Kemudian naik dan naik lagi, sampai ketemu jalan datar lagi. Saya dapat pelajaran berharga banget di sana, Bloggy. Bahwa sesulit dan semenukik apa jalan yang dilalui sekarang, selalu ada jalan datar tempat kita bisa menapak dengan nyaman. Yap, saat sedang di tengah tanjakan, rasanya begitu sulit, tetapi harus yakin. Selalu ada jalan datar setelahnya!

Sampai puncak

Sampai akhirnya, kami sampai di jalan datar dan tak lagi menemukan tanjakan. Menurut informasi leader, tidak ada yang tahu pasti di mana tempat pasti puncak Papandayan. Leader mengajak kami ke lapangan Tegal Alun, tempat bunga-bunga edelweis tumbuh dengan rapi di bawah langit dan kabut. Cantik.

Sajak Kecil tentang Cinta

Di lapangan Tegal Alun, karena kebanyakan yang naik anak sastra, jadilah kami malah berpuisi. Salah satu puisi yang kami dendangkan itu puisinya Sapardi yang “Sajak Kecil tentang Cinta”

mencintai angin harus menjadi siut, mencintai air harus menjadi ricik, mencintai gunung harus menjadi terjal, mencintai api harus menjadi jilat

mencintai cakrawala harus menebas jarak, mencintaimu harus menjelma aku

Kalau Sapardi bilang, untuk mencintai gunung kita harus menjadi terjal, bener banget sih. Dari sajak itu, saya belajar banget, ketika kita memutuskan untuk mencintai, kita harus siap menjadi sisi terburuk dari yang kita cinta. Karena angin bukan sekadar tentang dingin dan sejuk, tetapi bagaimana siut siut angin itu bekerja. Juga air, mencintainya harus siap menjadi ricik. Gemericik yang bisa jatuh di mana saja. Ah, kenapa jadi malah ngomongin cinta?

Yasudah. Begitulah seklumit kisah perjalanan ke Papandayan kemarin. Banyak sekali pelajarannya, salah satunya jangan pernah takut dengan tanjakan. Yap, yap, pasti ada jalan datar setelahnya!

 11924551_10203316295307309_933670991436207905_n

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s