Kelas Puisi

“Kak, ada yang menunggu-nunggu kakak nih.” celutuk satu dari dua anak SD yang kembali saya temui di kelas bahasa Indonesia.

Saya tersenyum. Sedikit GR dengan komentarnya barusan. Saya bertanya kabar, mereka menjawab baik penuh bingar. Saya bertanya progress karya, mereka tersipu malu menjawabnya. “Masih belum berani buat dikirim, Kak.” begitu katanya.

Saya tersenyum, mencoba bijaksana. Memang hal yang paling sulit itu memulai, tetapi jauh lebih sulit lagi mempertahankan. Terlebih, mempertahankan semangat untuk terus menulis seperti ini. Saya kemudian memberi informasi lomba menulis cerita anak kepada mereka. Mereka menyambut dengan sukacita.

“Makasih banget infonya, ya, Kak!”

“Yap. Jadi, kalian punya PR dari saya. Kumpulkan karya kalian dua minggu lagi ya kalau kita ketemu.”

“Huaaaa.”

“Biar kita sama-sama cek nanti. Mumpung masih lama deadlinenya. Kalian harus ikut lomba itu pokoknya. Okey? Sip! Sekarang kita masuk ke materi puisi.”

Saya melihat wajah-wajah penuh semangat yang bersembunyi dibalik gelengan polos yang tidak dari hati. Sementara sorot mata mereka dipenuhi keyakinan yang belum sempurna muncul. Siluet kedua mimik mungil di depan saya, mengingatkan betapa saya sangat ingin namanya masuk koran ketika kecil dulu. Betapa saya setia menunggu-nunggu kedatangan Om yang menjanjikan saya membawakan majalah anak. Juga betapa saya akhirnya lupa pada rasa kecewa lantaran yang dijanjikan tak kunjung tiba.

Saya kemudian teringat pada sebuah kisah klasik tentang tepuk tangan. Tentang seorang anak di pinggir jalan yang bertepuk tangan dengan keras untuk menyemangati temannya yang sedang lomba lari. Mungkin, sampai kapan pun orang-orang tak akan pernah melihat posisi anak yang bertepuk tangan di pinggir jalan. Tapi, kita semua sepakat, bahwa tanpa tepuk tangan, sang juara lari tak akan benderang.

Saya merasa bahagia ketika bisa melecut mereka untuk semangat bekarya. Mereka yang semuda itu, punya banyak kesempatan yang bisa mereka perjuangan. Kami juga sempat mengobrol tentang Nadia, penulis cilik yang melegenda itu. Mereka bisa, mereka bisa. Juga saya. Saya juga.

Terakhir, saya meminta mereka membuat sebuah puisi. Ketika membacanya, entah kenapa ada derai yang ingin mengurai. Mungkin, ini yang dinamakan rindu berkarya. Lalu terbesit syukur di dalam dada, betapa senangnya bertemu mereka. Semoga mereka juga senang bertemu saya ya.

Puisi Kalya, Kelas 6, SDIT Usamah Tegal

20151103_175418

Puisi Kalya dan Hanifa, Kelas 6, SDIT Usamah Tegal

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s