Menyesal

Hai, Bloggy.

Minggu ini saya disibukkan oleh tumpukan tugas-tugas mahasiswa yang harus saya rekap. Di mata kuliah Pengembangan Kepribadian, semacam kelas motivasi yang ditujukan mahasiswa tahun pertama, mereka diminta menuliskan isi pikirannya berdasarkan instruksi dosen. Well, saya telah sampai pada serentetan tulisan yang berisi tentang impian, cita-cita, dan optimisme mereka dalam menatap masa depan. Sebagian besar menuliskan impian berupa ingin bekerja di bank atau perusahaan keuangan lainnya. Setidaknya, saya jadi tahu gambaran atau potret pemuda Tegal dan sejauh mana yang mereka harapkan. Ini jelas berbeda ketika saya melihat mimpi-mimpi teman di kampus yang lebih jauh dan lebih keren, hehehe. Tapi, percuma juga kan punya mimpi keren tapi gak ada upaya buat menggapainya (#plak!). Hm, tapi bukan itu sih yang mau saya sampaikan.

Hampir setiap anak memasukkan keinginan bisa punya banyak uang untuk membahagiakan kedua orangtuanya. Lalu semakin saya membaca lemba-lembar optimismis itu, semakin saya berkaca diri. Teringat masa-masa ketika saya seperti mereka. Menorehkan banyak mimpi dan bersemangat melampauinya satu demi satu.

Tapi semua berubah ketika saya selesai studi dan merasakan hidup yang sesungguhnya. Ternyata kampus memang dunia semu, segala yang terlihat cerah mendadak menjadi suram setelah lulus. Ini bagi saya, tentu saja. Membaca mereka, saya seperti disadarkan oleh “tidur panjang” yang saya lakukan selama ini. Saya sudah setahun lulus, tapi belum satu pencapaian berarti pun yang berhasil saya torehkan. I am so dispirited, Bloggy.

Allah kasih banyak sekali potensi pada diri saya. Saya bisa menjahit, memasak, membuat kerajinan tangan, menulis cerita, mendongeng, dan yang lainnya. Tapi kenapa tak ada satu pun yang mengantarkan saya ke kehidupan yang lebih baik? Karena saya tak pernah sekalipun fokus pada salah satu keahlian itu. Saya hanya melakukan apa yang ingin saya lalukan, kemudian saya tinggalkan ketika bosan.

Lantas, terkenang setahun silam ketika saya baru saja menyelesaikan kuliah. Saya tidak seperti freshgraduate pada umumnya yang bersemangat mencari kerja. Setahun itu, saya justru diperbudak oleh kacau perasaan yang menghalau masa muda saya. Aih, sebal saya mengingatnya. Tapi harus saya akui bahwa masa itu adalah kali pertama saya patah hati. Hahaha, saya telat gaul ya, Bloggy. Setahun berlalu tanpa kejelasan. Tapi Allah begitu baik, Allah mengirimkan orang-orang terbaik yang mengantarkan saya pada pekerjaan dan kegiatan menyenangkan. Setidaknya, saya gak sampai stress di tanah rantau. Segala mimpi dan keinginan yang mencuat pada masa itu semata-mata dimunculkan untuk mengalihkan sakit hati saya. Maka saya begitu random saat itu.

Sampai akhirnya saya pulang dan memulai semuanya dari awal. Saya menyesal tidak menjalani masa setahun itu dengan baik. Sempat muncul pikiran kenapa dulu saya gak kerja di Jakarta aja, apalagi kalau lihat temen-temen yang membagikan senyum senang mereka di media sosial. Kalau dulu saya memilih jalan lain, mungkin sekarang saya sudah begini dan begitu.

Aaaaaargh! Rasanya ingin teriak, Bloggy. Saya stress dengan berbagai tuntutan dari dalam rumah. Sedih gak ketulungan. Tapi nginget masa lalu dan menyesalinya sama aja bunuh diri. Gak akan mengubah apapun, bukan?

Toh, sekarang saya merasa tenang tinggal di kampung halaman. Saya bisa belajar fokus dan memulai perjuangan dengan semangat yang matang. Saya sangat belajar dari masa lalu itu. Sekarang saya harus memulai dan fokus dengan apa yang saya mulai. Meski masih dispirit, saya merasa lebih baik. Doain, ya Bloggy. Doakan saya muncul dengan kabar baik setelah ini. (apus air mata, kedip-kedip tujuh kali, senyum tiga jari, tarik napas, teriak “Maaak, sarapan!”)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s