Dibalik Wajah

Bloggy, hari ini saya ingin bercerita tentang satu hal yang mungkin sedikit aneh. Beberapa waktu lalu, saya berkumpul dengan teman-teman SMA. Pada acara itu, kami melakukan sebuah permainan paling mengesalkan sedunia: truth or truth. Yeay, pensil diputar di atas meja kemudian yang kena tunjuk ujung pensil kudu siap ditanya apa saja. Harus menjawab jujur sejujur-jujurnya.

Ketika tiba giliran saya ditanya. Seorang teman bertanya dengan tatapan menyelidik,

“Ci, jawab jujur ya, kenapa sih kamu kadang suka nglihatin aku dengan tatapan aneh dan gak banget gitu?”

Sontak, seluruh teman tertawa. Laki-laki yang bertanya memang terkenal nyeleneh dan suka serampangan kalau bicara. Tapi, dia orang yang menyenangkan dan banyak membuat teman tertawa dengan guyon tak lucunya.

“Hahaha. Soalnya senyum kamu itu penuh kepalsuan.” jawab saya sekenanya. Namun, emang benar adanya, itu yang saya lihat. Seringkali, ketika dia sedang melawak, saya sendiri yang tidak ikut tertawa. Mungkin itu yang dimaksud dia saya suka menatapnya dengan tatapan aneh dan gak banget kali ya. Hahaha.

“Kepalsuan gimana?”

“Ya, kayaknya tuh wajah kamu sama hati kamu beda aja hahaha.”

Singkat cerita, ketika giliran dia yang ditanya, teman saya menanyakan pertanyaan yang membuat kami kaget. Kemudian terbukalah kehidupan lelaki ceria itu yang ternyata tak seceria yang kami kira. Apa yang saya lihat di wajahnya memang ternyata benar adanya. Saya tak perlu menceritakan bagaimana kepedihan menyelimuti hidupnya. Tapi, hari itu saya mulai sedikit takut dengan diri saya sendiri. Hihihi.

Hari ini, saya menemui hal yang serupa. Seorang rekan motivator yang senantiasa mengantarkan senyum setiap hari. Orang yang mengajak positif setiap hari. Orang yang gemar memotivasi dan menyemangati orang lain. Namun, dari awal saya berjumpa, sepotong pikiran nyeleneh muncul di kepala saya. Ada yang sesuatu yang tak seindah senyum dan sisi positif diri yang gemar digemborkannya. Well, hari ini saya menemukannya. Tidak penting, sisi pedih hidup orang-orang yang memutuskan untuk selalu bahagia. Toh, kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi dibalik wajah setiap orang. Kalaupun kita melihatnya, bukan untuk apa-apa. Bijaksana saja.

Ada yang jauh lebih penting, yaitu tentang ketulusan dan keikhlasan diri untuk memberi. Juga rasa syukur yang harus selalu ditingkatkan setiap waktu. Sebahagia apapun orang kelihatannya, bisa jadi ia menganggap kita jauh lebih bahagia dari dirinya. Simpel, rasa syukur akan menambah bahagia. Itu saja, kok.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s