Cerita Campur Aduk

Tiga hari ini, saya terlibat dalam penjurian ajang Lomba Penulisan Cerita Remaja Islam (Ceris) yang diadakan Direktorat Pendidikan Agama Islam. Setiap tahun, kantor saya bekerja sama dengan pihak kementerian untuk menjuri acara tersebut. Fakta ini baru saya ketahui beberapa bulan lalu, ketika kebetulan jadwal saya ke Jakarta bersesuaian dengan pelaksanaan Ceris. Jadilah saya ikut terlibat dalam jajaran tim juri yang, tentu saja, tidak bertugas untuk menjuri, hanya bantu-bantu saja. Hm, tapi saya tidak mau bercerita soal juri dan segala teknisnya. Yang mau saya ceritakan adalah betapa rasa iri menjalar di sekujur tubuh saya ketika melihat para pemenang berkumpul di podium untuk menerima hadiah.

Tahu, gak, sih, Bloggy, tujuh tahun yang lalu, saat saya kelas dua SMA, saya ikut lomba yang sama! Yaps, saya ikutan Ceris 2008 juga saat itu. Jadi, kebayang dong gimana perasaan saya ketika sekarang saya berada di tumpukan naskah 10 peserta terbaik lomba itu. Sepuluh finalis diundang ke salah satu hotel di Bandung untuk mempresentasikan karyanya di hadapan dewan juri. Mereka menginap gratis di hotel bersama orangtua dan guru pembimbingnya. Yes, kebayang gimana senengnya bapak sama ibu kalau diajak ke hotel. Mereka pasti gak mau nyalain AC karena kedinginan. Hahaha. Saya punya keinginan mau ngajakin orangtua nginep di hotel sekali-kali. Tapi, kalau disengajain, sudah pasti saya akan kena marah. Ngapain saya buang-buang uang buat nginep di hotel, kayak gak inget tetangga aja. Begitu kira-kira komentar ibu yang amat-sangat-terlalu-baik sama tetangga.

So, saya jadi punya ide, mimpi saya yang satu itu bisa aman diwujudkan dengan hal-hal semacam ini. Menang lomba, presentasi di hotel, ajak orangtua. Yah, entah bagaimana caranya deh, semoga Allah berkenan mengabulkan doa saya ini hihihi.

Okey, kembali ke acara. Jujur, saya seperti melihat bayangan keren diri saya di masa remaja yang galau. Sayangnya, bayangan itu segera sirna. Ya, bagaimana lagi, masa saya membayangkan sesuatu yang sudah terjadi dengan modal seandainya saya begitu dan begini, haduuuh. Akhirnya saya sadar sih, meski telat, saya bisa belajar banyak banget di acara ini.

Seminggu yang lalu, saya berkesempatan mempresentasikan hasil penelitian saya (skripsi) yang berjudul “Pemertahanan Bahasa Pedagang Warteg di Jakarta Selatan” di International Conference on Language, Culture, and Society yang diadakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Mungkin, presentasi karya ilmiah tidak berbeda jauh dari presentasi novel. Tapi, kok, saya makin makin pengen coba gimana rasanya membagikan pengalaman menulis kita di depan banyak orang. Di acara seminar itu, saya bertemu pemakalah yang berasal dari Kalimantan, Padang, Bengkulu, Timor Leste, dan belahan Indonesia lain. Beberapa di antara mereka tidak begitu tahu tentang bahasa Tegal yang sedang saya bahas. Bahkan, ada yang bertanya apa itu bahasa ngapak, hehehe. Saya jadi berpikir, ternyata, sedikit yang kita tahu bisa jadi begitu menakjubkan di mata orang lain. Penelitian saya ini, yang saya ikutkan konferensi dengan dasar iseng dan memenuhi janji dengan pembimbing, adalah penelitian yang biasa-biasa saja. Namun, bukan tidak mungkin jika di luar sana ada yang menganggapnya luar biasa.

Pemenang pertama lomba novel di sini juga menunjukkan kepercayaan dirinya saat presentasi karena ia merasa masalah yang dipaparkan dalam novelnya adalah masalah yang biasa ditemui banyak orang. Bedanya, ia mengemasnya dengan sudut pandang yang berbeda. Selama ini, saya selalu saja merasa malu untuk membagikan karya saya yang terinspirasi dari pengalaman pribadi. Saya takut dianalisis. Saya takut dibaca pembaca. Mungkin ini efek kuliah sastra, karena mengerti teori analisis jadi gak mau dianalisis.

Well, malam ini saya sadar. Ternyata, hal sekecil apapun bisa kok menjadi karya. Satu yang terpenting adalah keberanian. Berani menunjukkan ke semua orang bahwa ini adalah karya saya, tak peduli seberapa pun jeleknya. Teman saya pernah berkata, fungsi karya memang untuk menunjukkan kekurangan pengarangnya. Dengan begitu, pengarang bisa terus belajar dan belajar.

Lantas, bagaimana dengan pengarang yang masih malu memublikasikan karyanya? Ya kualitasnya segitu-segitu saja.

Oke, oke. Baiklah. Malam ini, akhirnya saya bisa berpanjang kata juga di Kota Bandung. Tiga hari di sini belum bisa berkata apa-apa. Barangkali Pidi Baiq benar, Bandung bukan sekadar letak geografis, tapi lebih dari itu. Bandung membuat penghuninya melibatkan perasaan untuk sampai pada kesunyian. Karena ketika sunyi, kita jadi bisa mendengar banyak bunyi, kan? Termasuk bunyi hati. Hihihi.

Satu lagi. Sepertinya semesta sedang baik hari ini. Selain saya akhirnya menemukan kesadaran untuk semangat memublikasikan karya, salah seorang teman memberikan kabar baik kepada saya. Proyek Karya Bersama “Pekan Patah Hati” yang dia usung telah rampung. Saya melibatkan salah satu cerpen saya di sana. Saya tidak mau bercerita tentang cerpen buatan saya. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa apapun anggapan Bloggy yang membaca cerpen itu, saya tidak takut lagi! Saya tidak takut dibaca, toh, itu hanya sebuah karya. Selamat membaca, jika Bloggy menemukan, segera beri tahu kekurangan saya, ya! Aha’! 😀

PEKAN PATAH HATI

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s